• Explore Vox
  • Culture
  • Entertainment
  • Life
  • Music
  • News & Politics
  • Technology
  • Join Vox
  • Take a Tour
  • Already a Member? Sign in
KATAKAMI INDONESIA

KATAKAMI INDONESIA

  • KATAKAMI INDONESIA’s Blog
  • Profile
  • Neighbors
  • Photos
  • More 
    • Audio
    • Videos
    • Books
    • Links
    • Collections

Baru Diselamati Obama, SBY Gagal Total Indonesia Tak Aman, Mega Mendung Bom Mega Kuningan Meledak

  • Jul 17, 2009

 

DIMUAT JUGA DI WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM

Jakarta (17/7/2009) Entah harus memakai kata-kata apalagi untuk mengungkapkan, betapa tidak manusiawi dan tidak beradabnya sebuah kejahatan kemanusiaan yang sengaja ditujukan untuk mengorbankan masyarakat dan rakyatnya sendiri. Sandiwara demi sandiwara. Provokasi demi provokasi. Terus datang bersilih berganti menyakiti Indonesia. Menyakiti semua rakyat Indonesia.

Jakarta "MELEDAK" lewat bom MEGA KUNINGAN disaat calon presiden (capres) Megawati Soekarnoputri dan Muhammad Jusuf Kalla menggugat keras bahwa patut dapat diduga ada kecurangan yang sangat parah dala Pemilu Pilpres 2009. Semua harus melihat fakta bahwa omong kosong kalau disebutkan Indonesia aman.

Ledakan di Ritz-Carlton

Padahal sebenarnya POLRI sudah sangat maksimal dan penuh dedikasi menjaga keamanan di Indonesia.

Bom MEGA KUNINGAN ini meledak disaat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membanggakan bahwa pemerintahan mampu meredam dan mengatasi terorisme dan semua gangguan keamanan. Bangga bahwa Pilpres 2009 berhasil tanpa gangguan keamanan.

Apa yang mau dibanggakan ?

Apa yang diredam ?

Apa yang diatasi ?

Ini memalukan Indonesia.

 

Ini menyulitkan POLRI. Dan ini sangat menyedihkan hati rakyat INDONESIA.

Sambil diam termenung menatap hasil perbuatan yang tidak pantas lewat aksi peledakan yang mengejutkan "JAKARTA" pada hari ini, rasanya lebih baik membaca puisi yang menyentuh hati dari CHAIRIL ANWAR, "Kerawang - Bekasi". Ya, kenang, kenangkanlah jiwa kami !

Mengapa begitu susah untuk hidup secara kesatria dan teguh berpijak pada nilai kebenaran ?

Kami bertanya kepada anda yang "melakukan" peledakan ini.

Cukup. Jangan sakiti Indonesia terus menerus. Mengatasi teror bukan menciptakan teror-teror baru yang sangat melukai rasa aman dan rasa keadilan yang sangat didambakan rakyat Indonesia.

Bukan begini caranya untuk CARI MUKA kepada rakyat Indonesia. Begitu meledak, langsung ada yang buru-buru datang agar terlihat sigap dan penuh belas kasihan.

Bukan begini caranya untuk seolah-olah menjadi PAHLAWAN KESIANGAN (bagi siapapun juga yang merasa melakukan itu !).

Bukan begini caranya untuk memberikan tekanan kepada pihak manapun yang dianggap berseberangan atau penuh ancaman.

Sekali lagi, cukup ! Enough Is Enough.  

Sadis sekali. Kok tidak malu melakukan semua ini kepada rakyat Indonesia. Sedihnya hidup di zaman Nyudo Nyuwo yang serba tragis di negeri tercinta ini. Ya, ini zaman Nyudo Nyowo yang artinya kurun waktu beberapa tahun terakhir ini sudah begitu banyak rakyat Indonesia yang menjadi korban sia-sia.

Ibu pertiwi menangis.

Sesedih ratapan tangis para korban, keluarganya dan seluruh rakyat Indonesia.

Ledakan yang terjadi pada Jumat (17/7) pagi itu terjadi pada sekitar pukul 07:45 WIB.

Ledakan pertama terjadi di Hotel Ritz-Carlton kemudian beberapa lama kemudian terjadi di Hotel JW Marriott.

Ledakan Mega Kuningan, Presdir Holcim Indonesia Meninggal

Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk, Timothy Mackay, menjadi salah satu korban ledakan yang terjadi di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, dan dikabarkan meninggal dunia di RS Medistra.

Hingga Jumat pukul 10.00, sebanyak 48 orang telah menjadi korban luka, akibat dua ledakan ledakan yang terjadi di Hotel JW Marriot, dan di Hotel Ritz-Carlton, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, demikian  Pusat Pengendalian Krisis Departemen Kesehatan (PPK-Depkes).

POLRI harus usut kejadian ini sampai tuntas.

Ayo Polri, turunkan ke sana Detasemen Khusus (Densus 88) Anti teror, ini bagian Densus 88.

Siapapun yang ada di belakang aksi peledakan bom yang sangat kotor ini, entah itu TERORIS sungguhan atau patut dapat diduga ada pihak yang secara sistematis dan melembaga mampu melakukan aksi bau terasi yang kotor ini.

Dan untuk pemimpin dunia yang bernama BarackHussein Obama, anda lihat dong ke arah Indonesia. Ada ledakan bom pada pemerintahan yang berkuasa saat ini -- yang oleh anda sangat amat dipuji, didukung dan diharapkan bisa lebih kuat lagi bekerjasama dengan negara anda.

Anda mengucapkan SELAMAT atas kemenangan yang belum saatnya resmi atau sah untuk diklaim sebagai sebuah kemenangan.

Anda mengucapkan SELAMAT disaat keabsahan dari proses demokrasi itu sedang digugat karena patut dapat diduga telah terjadi begitu banyak kecurangan & pelanggaran.

Anda sangat mengecewakan dan melukai hati rakyat Indonesia yang sungguh ingin ditegakkannya proses demokrasi dan pilar-pilar keamanan yang kokoh. Hanya dalam 2 pekan, terjadi rentetan ancaman dan gangguan keamanan yang juga menembus batas-batas keamanan dari aset negara Amerika di Indonesia. Di Papua dan di Jakarta pada hari Jumat (17/7/2009) ini.

Yang seperti itu, anda puji dan anda banggakan ? Dimana hati nurani anda ?

Dimana komitmen anda terhadap pentingnya penegakan hukum, HAM, kemanusiaan dan demokrasi ?

Dari lubuk hati yang terdalam, rakyat Indonesia ingin menyampaikan pada anda.

Tolong Tuan Presiden OBAMA, hormati nilai-nilai demokrasi. Dan jawablah pada diri anda sendiri, benarkah Indonesia ini sudah aman ?

Benarkah pemerintahan yang anda puji setinggi langit tapi gagal total membuat Indonesia aman ini, memang sebuah pemerintahan yang pantas untuk dipuji setinggi langit ?

Dan sadarkan juga diri anda, bahwa tak begitu caranya jika ingin menguatkan hubungan dan kerjasama dengan negara sahabat yang sesungguhnya "SEMPAT" menghargai anda sebagai pemimpin muda yang bertalenta.

Betapa sedih dan hancurnya hati saat mendengar dan melihat anda menginjak nilai-nilai demokrasi di negara kami.

Lucu, patut dapat diduga aksi peledakan bom hari ini adalah sesuatu yang "lucu tapi tak lucu" karena ANCAMAN TERORISME itu sebenarnya sudah sepi dan tiarap di Indonesia.

Ayo Polri, turunkan ke sana Densus 88 Anti Teror !

Dan jangan ada yang disembunyikan atau diamankan bila ternyata nanti ... patut dapat diduga ada keterlibatan orang kuat atau oknum dari lembaga tertentu.

Mau main-main ya terhadap keselamatan rakyat Indoneasia ?

Mau bikin malu dan mencoreng wajah Indonesia ?

Jangan sesumbar bahwa Pemilu Pilpres 2009 aman dan mesam mesem mendapat pujian atas AMAN-nya Pemilu Pilpres 2009 diIndonesia.

Apa yang aman ?

Lihat itu, banyak sekali warga negara asing yang jadi korban. Kayak begini, kok masih ada yang berani-beraninya membanggakan diri atau sesumbar bahwa Indonesia aman.

Omong kosong.

Siapapun aktor intelektual dan para pelaku yang terlibat, harus ditangkap dan dihukum seberat-beratnya.

Jangan ragu. 

Maju, usut sampai terbuka semua kejahatan kotor yang mencoba untuk menari-nari diatas penderitaan orang lain.

Kesedihan dan ratap tangis akibat ledakan BOM ini sungguh mengingatkan pada pusi CHAIRIL ANWAR berikut ini :

Keamanan Diperketat

KERAWANG BEKASI (CHAIRIL ANWAR)

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Tags: barack obama, terorisme, polri, susilo bambang yudhoyono, densus 88 anti teror

Balada Mantan Eselon Dua Yang Salah Tuding Ke Muka Jaksa Agung

  • Jul 17, 2009



Antasari Azhar 

Dimuat pertama kali di KATAKAMI.COM awal Desember 2008

 

JAKARTA (KATAKAMI)  Tampaknya, kali ini Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar harus menanggung malu dan perlu menyampaikan permohonan maaf kepada Jaksa Agung Hendarman Supandji. Mengapa demikian dan ada apa sebenarnya ?

Hari Senin (1/12/2008), Antasari mantan pejabat eselon 2 di Kejaksaan Agung ini, berbicara emosional kepada wartawan untuk mengecam Hendarman terkait pernyataan Hendarman mengenai adanya perbedaan anggaran operasional di KPK dan Kejaksaan Agung bagi para Jaksa dalam menangani kasus-kasus korupsi. Luar biasa, Antasari begitu “percaya diri” dan sangat berani mengecam pimpinan tertinggi dari sebuah Institusi sebesar Kejaksaan Agung. Ia tidak sadar, kecaman terbukanya itu salah sasaran dan berdampak buruk yaitu menjatuhkan martabat Hendarman dan Kejaksaan Agung secara institusi. Barangkali, ini dapat menjadi bahan perenungan bagi Antasari jika ke depan ingin “menghajar” institusi atau pimpinan instansi lain.

Tidak eloklah kalau sesama Pejabat Negara mau menjatuhkan Pejabat Negara yang lain dengan cara mengumumkannya terbuka dalam panggung pemberitaan nasional lewat media massa. 

Justru, Antasari yang harus tahu diri bertanya kepada Jaksa Agung, apakah benar sudah mengucapkan hal ihwal tertentu yang mau digugat Antasari lewat panggung pemberitaan yang sangat luas.

Sehingga, kalau misalnya Antasari tahu diri untuk bertanya dulu, pasti tidak akan semalu sekarang. Sudah jumpa pers dan terang-terangan menyerang Jaksa Agung, ternyata salah serang.

Jadi, benarlah falsafah yang ada di tengah masyarakat yaitu “Jangan menuding orang lain dengan jari telunjukmu, sebab ketika jari telunjuk itu kau arahkan ke muka orang lain, empat jari yang lain menuding ke arah dirimu sendiri !”

*****

Berikut ini kami muat dua berita yang dimuat Situs Berita Okezone dan Detik.COM, sebab kedua media online ini juga termasuk yang mendengarkan langsung jumpa pers Ketua KPK yang sangat “percaya diri” tadi.

Di Situs Okezone termuat berita KPK Protes Pernyataan Jaksa Agung (yang dimuat pukul 16.22 WIB) : 

<<<   “Kejaksaan bilang (anggarannya) hanya Rp20 juta, sementara KPK Rp300 juta, ini perlu saya luruskan saya tidak memahami pernyataan Jaksa Agung,” sergah Antasari. Menurut Antasari pihaknya telah mengkalkulasi biaya dalam penanganan sebuah kasus dan hasilnya tidak lebih dari Rp25 juta, bukan seperti yang diungkapkan Jaksa Agung bahwa KPK memiliki anggaran Rp300 juta per kasus.

“Setelah kami kalkulasi kurang lebih Rp25 juta per kasus,” ungkapnya. Dia menyesalkan sikap Hendarman Supandji yang mengeluarkan pernyataan tersebut tanpa konfirmasi terlebih dulu ke KPK. “Kenapa harus ngomong ke pers. Kami tidak menggunakan uang berlebihan. Sebaiknya Pak Jaksa Agung sebelum mengeluarkan pernyataan harus konfirmasi ke KPK dulu,” katanya. >>>

Demikian yang dimuat di Situs Okezone.

Sedangkan yang termuat di Situs Detik.Com pada pukul 16.19 WIB berjudul “Ketua KPK Sentil Jaksa Agung” isinya “

<<<  Ketua KPK Antasari Azhar meluruskan pernyataan Jaksa Agung Hendarman Supandji yang menyebut KPK mendapat dana Rp 300 juta untuk menyelesaikan tiap kasus. Padahal jika dihitung, KPK hanya mengantongi Rp 25 juta.

“Setelah dihitung-hitung untuk 1 kasus hanya Rp 25 juta, tidak jauh berbeda dengan Kejaksaan. Saya mau meluruskan sebab kesannya jauh sekali antara Kejagung dan KPK. Jaksa Agung sebelum keluarkan statement konfirmasi dulu ke KPK supaya tidak rancu,” papar Antasari.

Hal ini disampaikan Antasari di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (1/12/2008).

Dikatakan dia, Jaksa Agung Hendarman Supandji membandingkan anggaran untuk menyelesaikan sebuah kasus antara Kejaksaan dengan KPK. Kejaksaan dapat Rp 20 juta per kasus dan KPK Rp 300 juta.  “Saya tidak memahami dapat informasi dari mana Kejaksaan,” katanya. >>>

Demikian isi dari pemberitaan di Situs Detik.Com.

*****

Lalu, apa sebenarnya yang dipermasalahkan oleh Antasari sehingga ia begitu “percaya diri” hendak melumat Hendarman Supandji di hadapan para wartawan ? 

Hari Sabtu (29/11/2008) lalu, Jaksa Agung diundang untuk menjadi pembicara dalam Seminar yang diadakan almamaternya yaitu Universitas Diponegoro Semarang. Walau Undip adalah almamaternya sendiri, kehadiran Hendarman dalam Seminar itu adalah sebagai Pembicara Tamu. Panitia atau Tuan Rumah adalah Undip Semarang. 

Seminar itu diikuti oleh para Jaksa di Jawa Tengah dan diadakan tertutup.

Tetapi, Panitia dari Universitas Diponegoro ternyata memperbolehkan wartawan untuk ikut mendengarkan materi pembicaraan yang disampaikan Hendarman. Barangkali karena materi pembicaraan dari Hendarman itu memang dinilai “menarik” oleh Pers, maka sebagian media memuatnya.

Termasuk KATAKAMI.COM ikut mengutip pernyataan tersebut dan merangkumnya ke dalam satu tulisan yang berjudul, “Jaksa Agung Tegaskan Urip Pemain Tunggal Tapi Di Kejaksaan Masih Ada “Jaksa Nakal” Lainnya.

Pada Seminar itu, salah seorang peserta yang kebetulan berprofesi sebagai seorang Jaksa bertanya kepada Hendarman terkait minimnya tingkat kesejahteraan para Jaksa.

Kami muat cuplikannya dari berita yang kami rangkum dari kehadiran Hendarman dalam Seminar di Undip Semarang : 

<<<  Saat menjadi pembicara di Seminar tersebut, Hendarman “ditodong” dengan pertanyaan dari salah seorang peserta yang berprofesi sebagai Jaksa.

Jaksa ini menyatakan bahwa gaji jaksa masih sangat kecil yang hanya Rp 1,5 juta hingga Rp 1,9 juta.

“Gaji ini sangat kecil dan menjadi kendala dalam bekerja,” keluh jaksa itu kepada pimpinan tertingginya.

Hendarman menjawab bahwa saat ini pihaknya sedang menyusun anggaran tambahan untuk para jaksa tersebut. Secara lisan permintaan tambahan anggaran ini sudah disampaikan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani. >>>

Demikian cuplikan dari berita yang dimuat sebelumnya di KATAKAMI.COM.

11143-anta


Sehingga, perlu disampaikan kepada Ketua KPK Antasari Azhar bahwa dirinya telah salah tuding.

Tidak pernah dan tidak benar jika Jaksa Agung sengaja mengundang wartawan dan sengaja membeberkan bahwa ada perbedaan anggaran antara KPK dan Kejaksaan Agung.

Apa yang disampaikan Jaksa Agung dalam seminar di Universitas Diponegoro Semarang itu adalah materi pembicaraan tertutup kepada lingkungan yang sangat terbatas dan rata-rata berprofesi sebagai Jaksa. Artinya, itu adalah pembicaraan “keluarga” dari seorang Bapak kepada anak-anaknya didalam keluarga besar “Kejaksaan”.

Ini urusan “rumah tangga” Kejaksaan yang membahas kabar dari luar bahwa ada kelebihan pendapatan yang diperoleh pada Jaksa yang bertugas di KPK. Pada kesempatan seminar itu, Hendarman baru berbicara kepada Pers setelah acara selesai.

Itupun mantan Jampidsus ini tidak pernah menjajakan dirinya atau menyodorkan bibirnya ke corong mic media pertelevisian agar “nampang” di televisi biar populer. Antasari salah besar.

*****

Kasihan betul, sudah menjadi Ketua KPK tetapi tidak akurat dalam menyampaikan sesuatu yang terbuka kepada publik. Satu-satunya topik yang bersedia dijawab oleh Hendarman secara singkat saja adalah kasus Urip Tri Gunawan.

Sebab, sehari sebelum Hendarman muncul di Semarang itu, Pengadilan Tinggi Tipikor menguatkan putusan sebelumnya terkait vonis kepada Urip yaitu tetap mendapatkan pidana kurungan 20 tahun penjara.

Hendarman mengatakan bahwa dalam kasus suap Artyalita Suryani, Urip adalah pemain tunggal dan Pengadilan sudah memutuskan bahwa  tidak ada pejabat lain yang menerima bagian uang itu. Sehingga jangan heran, semua media massa memuat pernyataan Hendarman bahwa Urip adalah pemain tunggal.

Sementara kalau berbicara soal adanya anggaran berlebih dari para Jaksa yang kini bertugas di KPK, barangkali Antasari perlu mengendalikan anak buahnya di KPK.

Saat Hendarman mengadakan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPR-RI bulan September 2008, ia sudah lebih dahulu kepada para Anggota Dewan yang terhormat diceritakan bahwa Jaksa-Jaksa yang kini bekerja di KPK sering datang ke Kejaksaan Agung. Mereka bercerita tentang berapa “isi kantong” yang mereka terima setelah bekerja di KPK. Dan cerita itu membuat moral dari para Jaksa di Kejaksaan Agung menjadi jatuh. Sebab para Jaksa di Kejaksaan Agung akhirnya menjadi tahu berapa pendapatan rekan-rekan mereka yang sekarang bertugas di KPK.

Jika ada yang sekarang balik bertanya, untuk maksud apa Jaksa-Jaksa di KPK sekonyong-konyong ada yang datang bertandang ke Kejaksaan Agung dan pamer tentang “tebalnya” kantong mereka sejak bekerja di KPK.

Apa itu maksudnya ?

Biasanya, apa saja rahasia dan segala sesuatu yang sifatnya tertutup di Kejaksaan Agung, Antasari ketahuan “menguping” dan cepat bereaksi.

*****

Jaksa Agung Hendarman Supandji melantik Jampidsus Marwan Effendy

Jaksa Agung Hendarman Supandji melantik Jampidsus Marwan Effendy

Contoh soal, saat Jampidsus Marwan Effendy menjadi Pembicara dalam Pelatihan para Jaksa di Kejaksaan Agung. Dalam acara itu, kabarnya pada saat itu Marwan mengatakan bahwa jika terdapat cukup bukti yang kuat maka siapa saja bisa ditangkap di Indonesia ini dalam upaya penanganan korupsi. Misalnya, jika Ketua KPK itu terindikasi punya pelanggaran korupsi dan ada cukup bukti yang memang menguatkan, maka bisa ditangkap tetapi ini kan contoh, begitu kira-kira yang disampaikan Marwan.

Ternyata kabarnya, salah seorang peserta Pelatihan itu ada yang menjadi kerabat Antasari (semacam keponakan). Si Keponakan ini langsung  secara lancang “ember” kepada Antasari dan mengirimkan pesan singkat SMS.

Antasari yang saat itu dikabarkan sedang Umroh di Tanah Suci, bisa dengan sangat cepat memberikan reaksi yang sangat amat sinis yang kepada Marwan yaitu dengan mengirimkan SMS pada saat itu juga.

“Oh, jadi Pak Jampidsus sudah berani sekarang mau menangkap Ketua KPK ?”.

Kabarnya, Marwan sempat terkesima membaca SMS Antasari itu.

Mengapa bisa cepat sekali ada reaksi dari Antasari, padahal baru beberapa menit sebelumnya ia berbicara dan kabarnya Antasari sedang berada jauh di negeri seberang. Tetapi saat itu, dengan gamblang Marwan membalas SMS tersebut dan  menjelaskan isi pembicaraan yang disampaikannya dalam Pelatihan tersebut.

*****

Di Kejaksaan Agung, sejak Antasari hengkang ke KPK, tidak ada satupun Pejabat yang tetap dijalin silahturahminya oleh Antasari, kecuali hanya Marwan Effendy. Tanpa ada penyebabnya, Antasari seakan menjauhi dan tak senang pada seluruh Jajaran Pimpinan Kejaksaan Agung.

Kepada saya, Antasari pernah mengeluhkan bahwa ia sakit hati karena saat ia alih tugas dari Kejaksaan Agung ke KPK, Pihak Kejaksaan Agung tidak membuat “Pesta Perpisahan” yang resmi.

Kesan yang saya tangkap adalah Antasari ingin mendapat pengakuan terbuka dari semua orang di Kejaksaan Agung bahwa ia berhasil menjadi Ketua KPK dan dijamu dalam “Farewell Party”. Ngambeknya Antasari hanya karena masalah sepele ini, ternyata bukan karena Kejaksaan Agung tidak mau membuatkannya.

Ketika Jaksa Agung Hendarman Supandji mengisyaratkan agar Kejaksaan Agung perlu membuatkan acara pelepasan bagi Antasari Azhar, secarik nota dinas masuk ke meja kerja Jaksa Agung dari jajaran Eselon I yang memberitahu acara itu sedang disiapkan dan akan dilaporkan jika semua telah siap.

Akibat  penuhnya jadwal kegiatan Kejaksaan Agung, acara perpisahan itu ditentukan pada awal Maret 2008. Memang benar, sepanjang bulan Januari-Februari lalu topik sorotan yang mengemuka adalah soal penyelesaian perkara dari Mantan Presiden Soeharto.

Dari mulai Pak Harto masih dirawat di RSPP Jakarta sampai akhirnya mantan penguasa Orde Baru itu wafat pada akhir bulan Januari 2008, kasus ini terus mendapat sorotan tajam di semua media massa.

Disaat Kejaksaan Agung sudah menyiapkan acara “Pelepasan” untuk Antasari, disaat yang bersamaan terjadilah peristiwa penangkapan Urip Tri Gunawan di rumah Artalyta Suryani (2/3/2008). Antasari buru-buru menolak dan membatalkan kebersediaan dirinya hadir dalam undangan Kejaksaan Agung.

Tetapi herannya, ia masih saja merasa sakit hati dan terus mengungkit bahwa Kejaksaan Agung tidak membuatkan Pesta Perpisahan kepada dirinya saat pindah ke KPK.

*****

Hendarman Supandji

Hendarman Supandji

Kembali pada permasalahan tudingan Antasari kepada Hendarman bahwa Pimpinan Kejaksaan Agung seakan dituduh sudah sembarangan bicara kepada Pers, tanpa ada dasar-dasar yang kuat dan akhirnya mempermalukan KPK.

Namun sayang, kenyataannya justru Antasari yang salah sasaran, salah tuding dan salah tempat untuk “memamerkan” emosinya.

Kalimat dari Antasari yang berbunyi, “Lain kali Jaksa Agung itu kalau mau bicara, konfirmasi dulu ke KPK, supaya jangan salah kalau bicara dan agar tidak rancu”.

Ini kalimat yang sangat tidak santun dan tidak ada etikanya ! Sudah salah, sok galak pula, begitulah kira-kira istilahnya. 

Saat berada di Semarang, sekali lagi, tidak ada satu patah katapun keluar dari mulut Hendarman Supandji kepada kalangan Pers tentang anggaran operasional Kejaksaan dalam menangani kasus korupsi. Sekali lagi, tidak ada dan tidak pernah Hendarman mencari popularitas dengan dara mengumbar fitnah yang menjatuhkan lembaga lain.

Kasihan, Antasari sudah termakan oleh omongannya sendiri !

Setelah semua terjadi seperti sekarang, dimana dengan “percaya dirinya” Antasari mengatakan agar yang namanya Jaksa Agung itu konfirmasi dulu kepada KPK jika hendak bicara kepada Pers, apa yang mau dikatakan Antasari untuk menarik ucapannya sendiri ? Apakah ia bisa mengumpulkan lagi semua wartawan yang sudah memuat berita itu dan memberitakannya secara terbuka kepada seluruh masyarakat ?

Martabat dari Jaksa Agung dicemari dan dijatuhkan oleh Antasari lewat jumpa pers itu.

*****

Jaksa Agung adalah tipe yang sangat berhati-hati kalau bicara dan ia selalu tahu kapan harus menyampaikan apapun kepada kalangan Pers. Ia tidak haus publikasi. Hendarman tidak pernah tersihir atau terbius oleh gegap gempitanya pemberitaan di semua media massa agar menjadi alat pendongkrak citra.

Minimnya anggaran yang diterima oleh seluruh “anak-anaknya” didalam Keluarga Besar Kejaksaan Se-Indonesia ini, membuat Hendarman harus berupaya maksimal sesuai aturan permainan yang ada di negara ini agar anggaran itu bisa bertambah. Saat ini, proses itu sedang berjalan dan itulah yang disampaikannya secara tertutup kepada para Peserta Seminar di Universitas Diponegoro Semarang.

Tentu Hendarman prihatin saat mendengar anak buahnya mengeluh betapa rendah gaji mereka sebagai Jaksa yaitu hanya Rp, 1,5 juta sebulan.

Hendarman yang kini sedang berusaha menaikkan anggaran bagi para Jaksa, juga ingin memberitahukan bahwa kalau usulan kenaikan anggaran itu disetujui maka itupun memerlukan waktu. Paling tidak, baru pada pertengahan tahun 2009 akan ada kenaikan anggaran seandainya Pemerintah bersedia menaikkan anggaran bagi para Jaksa.

*****

Apa yang salah dari ucapan Hendarman kepada kalangan terbatas di Seminar itu ?

Tidak ada yang salah !

Seminar itu diikuti oleh semua Jaksa di kawasan Jawa Tengah. Bahwa misalnya, kalau Seminar itu boleh dihadiri semua Jaksa Se-Indonesia ini dan diberi tiket gratis misalnya, pasti semua Jaksa di Indonesia ini berbondong-bondong datang menemui Jaksa Agungnya untuk mengeluh dan meratap betapa sengsaranya hidup mereka.

Apa yang salah jika para Jaksa itu mengeluh kepada Pimpinan Tertinggi di Lingkungan Kejaksaan ?

Tidak ada yang salah !

Mereka mengeluh kepada orang yang tepat yaitu kepada “Bapak” mereka sendiri di Kejaksaan. Mereka ingin Hendarman tahu bahwa hidup mereka sengsara dan begitu kesulitan mengatasi tingginya biaya hidup di zaman sekarang. Sementara para Jaksa itu tidak diperbolehkan “ngobjek” atau cari uang masuk tambahan lewat cara-cara yang salah.

Dalam hal ini, yang perlu sekali lagi diingatkan kepada para Jaksa di KPK itu bahwa mereka harus tahu diri.

6767-anta

Mereka harus sangat mengendalikan mulut mereka yang gampang sekali bercerita tentang berapa pendapatan yang mereka terima semenjak bekerja di KPK. Jangan pernah lagi memamerkan besarnya pendapatan yang mereka dapatkan disana.

Semoga ini dapat membuat Antasari menjadi paham dan sepenuhnya sadar diri.

Bukan karena kami ingin mempermalukan tetapi materi keterangan pers dari Antasari pada hari Senin kemarin saat mengecam, menuding dan memprotes secara “sinis” kepada Jaksa Agung. Tapi ternyata salah kaprah dan salah alamat.

Sekali lagi, tidak pernah terjadi Jaksa Agung sengaja membeberkan pada Pers agar dimuat bahwa anggaran operasional penanganan kasus korupsi untuk Kejaksaan Agung jauh lebih kecil dari KPK.

Bahwa itu dimuat oleh Pers, jangan salahkan Hendarman.

Ia berbicara dalam forum Seminar di Universitas Diponegoro Semarang itu sebagai “tamu kehormatan”.

Ia diundang oleh Almamaternya sendiri. Ia datang dan berbicara kepada kalangan terbatas saja. Ia  tidak tahu kebijakan dari Panitia lokal yang memperbolehkan Pers ikut mendengarkan “isi” Seminar.

Dan Antasari sebaiknya belajar lebih santun dan elegan jika ingin mengkritik sesama Pimpinan dari lembaga lain yang sama-sama terhormat. Di Indonesia ini, umur KPK baru sekian tahun. Bukan cuma KPK, yang diberi kewenangan untuk melakukan upaya penegakan hukum. 

Antasari harus belajar menghormati Pejabat Negara yang lain, apalagi Jaksa Agung kedudukannya berada langsung dibawah Presiden. Sebagai Pembantu Presiden, Hendarman tidak pernah tergelincir walau hanya satu kata dalam menyampaikan pernyataan publik. Ia sangat terukur dan terarah. Antasari harus belajar lebih santun, elegan dan sangat diplomatis penuh wibawa, jika satu saat ia ingin menyampaikan kritik. Dan perang terbuka lewat media massa, bukannya langkah yang baik.

Nasi sudah menjadi bubur.

Antasari sudah terlanjur “menyudutkan” Hendarman, tanpa mengerti bagaimana situasi dan duduk persoalan yang sebenarnya. Sebagai Pejabat Publik, hendaklah lebih tahu diri dalam memainkan peranan, menyampaikan keterangan dan mampu memberikan penghargaan kepada Pihak manapun antar Pejabat Penyelenggara Pemerintahan.

Setelah salah tuduh dan asal “ngecap” saja mengkritik terbukla lewat MEDIA MASSA, saya tidak yakin Antasari berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Jaksa Agung. Padahal dampak dari semuanya itu, seorang Pejabat Negara tersudutkan.

*****

 Walau sekarang sudah menjadi Ketua KPK, Antasari harus sadar bahwa saat ini statusnya masih Jaksa yang aktif. Belum pensiun dan belum mengajukan permohonan pensiun dini.  Artinya, Hendarman adalah Pimpinan yang harus ia hormati dan hargai. Secara moral, ini harus dilakukan oleh semua Jaksa.

Dan sebagai Jaksa yang masih aktif, Antasari wajib untuk tetap datang ke Kejaksaan Agung menghadiri upacara atau undangan resmi apapun yang dilakukan Kejaksaan. Tidak ada kata tidak, ini wajib hukumnya bagi semua Jaksa yang masih aktif. Terutama menghadiri Upacara HUT Adhyaksa atau Ulang Tahun Kejaksaan setiap pertengahan bulan Juli.

Antasari menghadiri wisuda anaknya di Univ Brawijaya (Nov 2008)

Antasari menghadiri wisuda anaknya di Univ Brawijaya (Nov 2008)

Bulan Juli lalu, Antasari memutuskan untuk berada diluar negeri saja ketimbang menghadiri Upacara di Kejaksaan Agung. Setiap Upacara HUT Adhyaksa, Inspektur Upacara adalah Jaksa Agung. Dan semua peserta upacara, wajib memberikan hormatnya kepada Sang Irup yang berdiri penuh wibawa di Panggung Kehormatan. 

Antasari tak cuma tercatat sebagai Jaksa aktif, sampai detik ini namanya pun masih tercantum sebagai Pengurus Persaja atau Persatuan Jaksa. Tugas utama dari Persaja adalah membantu Jaksa manapun di Indonesia ini yang menghadapi permasalahan hukum. Tapi apa yang terjadi ? Selama hampir setahun menjadi Ketua KPK, tidak pernah satu kalipun Antasari mau datang lagi ke Kejaksaan Agung menghadiri acara atau upacara apapun. Padahal itu wajib hukumnya.

Dan perlu disampaikan juga fakta ini kepada Para Jaksa atau Polisi yang saat ini bertugas di KPK. Sewaktu-waktu, mereka bisa ditarik tugasnya dari KPK. Begitu juga halnya, dengan Aparat Polri yang sedang dialih-tugaskan di KPK.

Berdasarkan aturan perundang-undangan, ada batas waktu maksimal terhadap penugasan itu. Tidak ada hak dari KPK (entah itu Pejabat KPK dari unsur Kejaksaan atau Polri), setiap bawahan mereka yang berasal dari unsur Kejaksaan dan Polri, semuanya memiliki induk organisasi yang berwenang sepenuhnya mengatur rotasi dan segala permutasian.

Dan Pemerintah juga perlu memikirkan dan mendalami wacana pembubaran KPK secara bertahap. Tidak ada didunia ini, Kejaksaan yang mendua. Tidak Kepolisian didunia ini yang mendua. Dualisme kepemimpinan itu, sangat tidak lazim dan patut untuk segera dilebur kembali ke dalam organisasi mereka masing-masing.

Walau alasan pembentukan KPK karena Kejaksaan dan Polri dianggap tidak mampu memberantas korupsi, tetapi jangan karena kekurang-mampuan itu maka Negara mengizinkan terjadinya dualisme. Seakan ada standar ganda dalam upaya pemberantasan korupsi. Jaksa dan Polisi yang dialih-tugaskan ke KPK berpotensi menjadi “anak durhaka” yang menolak kembali ke induk organisasinya karena di KPK sudah “nyaman” dengan pendapatan yang sangat amat besar.

Kita bisa cermati salah satu contohnya baru-baru ini, bagaimana sewotnya KPK saat dua orang Perwira Polri ditarik oleh Mabes Polri untuk mendapat tugas baru.

Hak apa KPK marah ?

Tidak ada hak untuk marah pada Polri. Keterlaluan jika merasa hebat sudah bisa membentuk SDM tertentu menjadi penyidik korupsi, sehingga ketika induk organisasi memanggil pulang maka KPK memprotes keras.

Presiden SBY, Wakil Presiden, Kabinet Indonesia Bersatu, DPR dan semua pihak perlu merumuskan kembali, jalan keluar terbaik yang berujung pada pembubaran KPK. Jangan ada lagi Jaksa di atas Jaksa atau Polisi diatas Polisi.

Dan, sekali lagi, siapapun yang saat ini masih tercatat sebagai Jaksa aktif, hendaklah mereka sadar diri dan tahu menempatkan diri masing-masing.

Mau tidak mau, harus mau bahwa semua Jaksa di Indonesia ini memang wajib menghormati Pimpinan tertinggi di Kejaksaan. Jangan ada yang arogan dan menjadi sangat tidak tahu diri. Walau Hendarman tidak gila hormat, tetapi faktanya adalah ia Pimpinan Tertinggi di Kejaksaan.

Marilah juga saling menghargai, apalagi antar Pejabat Negara.

Antasari harusnya malu, tidak pernah diusik oleh Hendarman.  Antasari juga harusnya ingat bahwa yang mengusulkan dan mengizinkan ia “melamar” ikut seleksi masuk KPK, adalah Hendarman Supandji.

Ia harus ingat, bahwa saat ia terpilih sebagai Ketua KPK dulu (Desember 2007), semua orang mencaci maki Antasari karena ia dinilai tidak layak memimpin KPK. Alasannya, begitu banyak kasus-kasus korupsi yang dituduhkan kepada Antasari semasa ia bertugas di Kejaksaan Agung. Tetapi saat itu, Hendarman pasang badan dan tetap mengamankan sang anak buah dari jajaran eselon 2 ini agar aman menduduki kursi barunya sebagai Ketua KPK.

Antasari jangan lupa, bahwa saat semua orang mencaci maki dirinya sebagai “koruptor kotor” yang tidak layak jadi Ketua KPK, Jajaran Intelijen Kejaksaan Agung mengamankan ia untuk lancar mengikuti proses Fit And Proper Test.

113-korupsi

Masih ingatkah Antasari, bahwa Intel Intel Kejaksaan Agung yang terpaksa mengutip, mencabut dan melepaskan begitu banyak spanduk, poster dan pamflet-pamflet yang dipasangi di berbagai sudut jalan dan Gedung DPR-RI saat Antasari hendak menjalani Fit And Proper Test ?

Semua spanduk, poster dan pamflet itu isinya adalah caci maki yang sangat kotor dan sadis terhadap Antasari Azhar. Semua pihak mengingat dan menuntut agar Antasari diseret ke Pengadilan. Kejaksaan Agung mendapat hantaman keras dan bertubi-tubi saat mengajukan nama Antasari untuk masuk ke KPK.

Dan Hendarman termasuk yang terkena hantaman keras dari mana-mana.

Antasari tidak tahu bahwa secara pribadi Hendarman pernah “memberikan jalan” kepada saya sebagai seorang jurnalis agar melakukan wawancara eksklusif dengan Antasari disela-sela Rapat Kerja Khusus Kejaksaan di Cianjur (Jawa Barat) pada pertengahan Desember 2007. Ketika itu, Antasari sudah terpilih sebagai Ketua KPK tetapi hantaman publik sangat keras disemua media massa atas terpilihnya Antasari.

Wawancara eksklusif itu diharapkan bisa “menetralisir caci maki yang sangat menyakitkan hati Kejaksaan Agung akibat “pasang badan” untuk Antasari. Hendarman sampai harus memerintahkan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung, Thomson Siagian, untuk menjemput Antasari dari kamar hotelnya dan didampingi selama menjalani wawancara eksklusif dengan saya.

Ketika itu, Hendarman sangat terbeban oleh kuatnya gempuran dari semua pihak yang membuka semua rekam jejak Antasari dinilai “kotor dan korup” sepanjang bertugas di Kejaksaan.

Jika tidak diimbangi maka pemberitaan yang negatif mengenai Antasari akan melahap habis martabat Antasari dan Kejaksaan Agung. Dan memang, wawancara eksklusif itu setidaknya bisa meredam sebagian tekanan dan menaikkan pamor Antasari.

Dan sekarang kalau misalnya ditanyakan, apakah dengan tertangkapnya satu orang oknum saja yang bernama Urip Tri Gunawan karena kasus suap sebesar USD 660 ribu, maka dapat menghapuskan semua rekam jejak dan memori buruk banyak orang terhadap figur Antasari ?

Belum tentu !

Jangan sakiti perasaan orang-orang yang sudah berjasa kepada diri kita secara tulus iklas. Jangan merasa bahwa kita mendadak menjadi jauh lebih hebat dari siapapun dimuka bumi ini.

Hendarman begitu menghargai Antasari, bekas anak buahnya yang cuma dari level Eselon II ini. Tapi, Hendarman bisa dengan sangat elegan memberikan penghargaan dan kerjasama yang baik. Padahal kalau mau sombong, ia bisa saja pongah.

Kalau dalam urusan kepangkatan di TNI dan Polri misalnya, pejabat eselon II itu setara dengan perwira menengah Kombes atau Kolonel. Tetapi begitu Antasari menjadi Ketua KPK, maka pangkatnya menjadi setara dengan Jenderal bintang 4. Bayangkan, betapa jauhnya perbedaan pangkat itu tetapi sejak pertama terpilih, Hendarman memberikan penghargaan yang tinggi kepada Antasari.

Namun sayang, Antasari begitu kesulitan untuk menyadari dan merasakan bahwa dirinya dihargai.

Merujuk pada ilmu padi, harusnya kalau memang memiliki isi maka sang padi biasanya selalu “merunduk” Bukan mendongak atau menggelegar bicaranya untuk menghardik Pihak lain yang tidak bersalah.

Silahkan diproses secara hukum, siapapun oknum Jaksa yang memang melakukan perbuatan melawan hukum !

Dan kalau mau tegas dan berkeadilan dalam menegakkan hukum, sebenarnya perlu juga diproses jika memang ada indikasi terjadi dugaan “penyuapan” di lingkungan Kejaksaan. Sebab, misalnya saja tentang adanya laporan masyarakat bahwa ada dugaan penyuapan dari oknum yang hendak meraih jabatan lain diluar Kejaksaan Agung di penghujung tahun 2007.

Nah, setelah heboh dengan kasus Urip, bisa jadi Kejaksaan Agung harus heboh lagi karena oknum Jaksa yang berikutnya bisa-bisa terkena peraturan memakai seragam koruptor berwarna biru itu.

Apa boleh buat jika memang sampai itu harus terjadi karena tidak ada jaminan bahwa bisa dipakai oleh oknum Jaksa itu, karena diam-diam ada yang sebenarnya jauh lebih parah kelakuannya dibanding Urip. Belum saja rahasia itu terungkap, tetapi kalau tiba-tiba bisa terungkap ? Bagus dong.

Kembali pada masalah Antasari yang salah memprotes dan salah menuding muka Jaksa Agung yang nyata-nyata tidak bersalah, sadarilah bahwa yang salah itu memang salah. 

Jadi sampaikanlah maaf yang tulus kepada senior dan “abang” yang tidak bersalah itu tapi sudah terlanjur dipermalukan !

(MS)

 

Tags: news, kejaksaan agung, hendarman supandji, antasari azhar

Jampidum Abdul Hakim Ritonga : Kejaksaan Samasekali Tidak Dendam Pada Antasari !

  • Jul 16, 2009

  

Tulisan Utama di Situs Berita WWW.KATAKAMI.COM

Dimuat Juga Di Seluruh BLOG KATAKAMI  WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM   WWW.KATAKAMIINDONESIA.BLOGSPOT.COM Dan WWW.KATAKAMIINDONESIA.VOX.COM

 

Jakarta 16/7/2009 (KATAKAMI) Ketika seorang Antasari Azhar terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada bulan Desember 2007, bisa jadi Bidang Pidana Umum (PIDUM) Kejaksaan Agung adalah pihak yang paling berbangga hati melepas alih tugasnya Antasari Azhar.

Anta - begitu panggilan Antasari di kalangan Kejaksaan -- menempati jabatan terakhir di Pidum Kejaksaan Agung sebagai pejabat eselon II yaitu Direktur Penuntutan (Dirtut) pada Jampidum.

Tapi siapa yang menyangka bahwa "alumni" Pidum Kejaksaan Agung ini justru harus berurusan dengan "almamaternya" sendiri.

Anta menjadi tersangka otak pelaku dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Nasrudin Zulkarnaen yang tewas ditembak secara sadis pertengahan bulan Maret 2009. Ancaman maksimal hukumannya sesuai KUHP adalah MATI atau mininal pidana kurungan 20 tahun penjara.

Situs Berita KATAKAMI.COM mendapatkan kesempatan untuk Wawancara Eksklusif dengan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAMPIDUM) Abdul Hakim Ritonga seputar penanganan kasus hukum yang menimpa Antasari Azhar. Wawancara ini dilakukan di ruang kerja Jampidum di Kejaksaan Agung pada Rabu (15/7/2009) sore.

Dan inilah hasil wawancara Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata dengan Jampidum Abdul Hakin Ritonga :



KATAKAMI (K) Setelah hampir 2 bulan ditangani penyidikannya oleh Kepolisian, bagaimana perkembangan penanganan kasus Pak Antasari ?

Jampidum Abdul Hakim Ritonga (AHR) : Posisinya saat ini, sesuai dengan prosedur Undang Undang KUHAP, setiap berkas disiapkan oleh penyidik. Dalam hal ini Kepolisian sebagai penyidik tunggal. Tapi sesudah berkas selesai dibuat oleh penyidik, tidak langsung diterima begitu saja oleh Jaksa. UU menyebutkan dalam pasal 110 & 138 KUHAP, diberikan wewenang kepada Jaksa untuk meneliti apakah sudah memenuhi syarat-syarat formil dan syarat-syarat materiil suatu berkas perkara yang akan diajukan ke Pengadilan. Nah, manakala sang Jaksa berpendapat bahwa berkas itu belum memenuhi syarat formil dan materiil maka dia akan mengembalikan berkas itu kepada penyidik dengan P-18. Sesudah itu, tak cuma sekedar dikembalikan. Dalam P-19, Jaksa akan menerbitkannya 14 hari sesudah berkas itu diterima yang menyebutkan mana saja berkas yang tidak lengkap dan mana yang harus dilengkapi. Begitu jugalah dengan berkas Antasari sekarang. Berkasnya sudah jadi dan dilimpahkan kepada Kejaksaan dan menurut kami belum memenuhi syarat formil dan materiil. Saat ini kami sedang merumuskan P-19, ya … paling lama hari Jumat akan selesai.


(K) Oh jadi, ketika pekan lalu Kepolisian mengatakan bahwa berkas Pak Antasari sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. Sekarang berkasnya malah dikembalikan lagi ke Kepolisian ?

(AHR) : Ya betul. Kekurangannya ya … syarat formil dan syarat materril. Syarat formil itu mengenai administrasi legalitas didalam berkasnya. Sedangkan syarat-syarat materiilnya, mengenai bukti-bukti keterlibatan Antatasari.

(K) Bukti yang dimaksud itu, bukti keterlibatan dalam pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, atau bukti yang mengarah pada temuan-temuan lain yang melebar dari kasus ini ?

(AHR) : Kami tidak akan melebarkan kasus ini, Jaksa Pidana Umum tidak akan melebar dari ketentuan pasal 340 KUHAP tentang pembunuhan berencana untuk kasus Antasari.
 


(K) Jadi, bukti yang dianggap Jaksa kurang adalah bukti tentang keterlibatan membunuh NZ ?

(AHR) : Betul.

(K) : Jadi kalau ada informasi yang saat ini beredar di tengah masyarakat bahwa paling lambat akhir bulan Juli ini Pak Antasari mulai disidangkan, itu tidak benar pak ya ?

(AHR) : Kami menargetkan bahwa ke-9 berkas dari 9 tersangka dalam kasus ini sudah sempurna. Kami rencanakan Awal Agustus, semuanya sudah berada di Kejaksaan dan siap dilimpahkan.

(K) Jadi molornya waktu yang terjadi sekarang, karena kurangnya bukti-bukti yang Bapak jelaskan tadi ya ? Apa bukan karena Kejaksaan memang sengaja mengulur-ulur waktu ?

(AHR) : Lho, itu kan prosedur Undang Undang. Kami tidak mengulur-ulur waktu. Sekali lagi ini bagian dari prosedur UU dan memang biasa dilakukan. Cuma kadang-kadang karena masyarakat tidak memahami prosedurnya, memang akan mudah curiga. Wah … jangan-jangan ada permainan ? Tidak benar itu.


 
(K) Jujur saja, apakah Bagian Pidana Umum di Kejaksan Agung ini merasa terbeban secara moril ketika harus menangani kasus yang melibatkan Pak Antasari ? Kita sama-sama tahu kan Pak Antasari saat masih aktif menjadi JAKSA, penugasannya ya di bagian Pidana Umum ini kan. Ada beban moral, Pak ?

(AHR) Jaksa itu kan manusia biasa, punya rasa dan perasaan. Pastilah ada satu atau dua orang yang merasa terbeban moralnya. Itu sebabnya kami sengaja memilih Jaksa yang nantinya akan menangani kasus ini adalah Jaksa yang samasekali tidak punya hubungan emosional dengan Antasari. Harus netral.

(K) : Oke Pak JAM, ini agak sensitif tapi harus ditanyakan. Apakah ada dendam dari Kejaksaan Agung terhadap Pak Antasari selaku pribadi atau terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara kelembagaan ? Wajar kalau ada yang mencurigai seperti ini mengingatkan pada tahun lalu kan ada kasus suap Urip Tri Gunawan.

(AHR) : Itu harus diluruskan. Berkas Antasari kan ada di Pidana Umum sekarang. Kalau ditanya apakah ada rasa dendam, tidak ada samasekali. Tidak ada masalah. Antasari sendiri kan bilang, dia sebagai penegak hukum akan mengikuti aturan-aturan hukum.
 
 

(K) Apakah ada kemungkinan bahwa kasus yang menimpa Pak Antasari ini akan digunakan sebagai alat pemukul atau sarana untuk pelampiasan rasa dendam institusi KEJAKSAAN AGUNG kepada Pak Antasari selaku pribadi dan kepada KPK ?

(AHR) : Tidak, tidak ada dendam samasekali pada diri Kejaksaan, baik itu kepada Antasari atau KPK.
 
(K) : Ada spekulasi juga yang beredar bahwa nanti tuntutan terhadap Pak Antasari adalah tuntutan MATI. Tapi kabarnya, ada perpecahan di Kejaksaan Agung ini. Sebagian setuju untuk nantinya membuat tuntutan MATI pada persidangan Pak Antasari, tapi sebagian lebih setuju kalau tuntutannya pidana kurungan atau penjara seumur hidup karena ada rasa kasihan terhadap rekan sendiri. Bagaimana penjelasan dari Pidana Umum sendiri ?

(AHR) : Itu belum waktunya dibicarakan sekarang. Nanti ditentukan setelah selesai pemeriksaan di Pengadilan. Jadi masih jauh sekali. Tapi kalau ancaman hukuman berdasarkan KUHAP pada pasal 340 pembunuhan berencana itu maksimal HUKUMAN MATI, setingkat dibawahnya penjara seumur hidup dan paling minimal 20 TAHUN PENJARA. Dan ada kata kalaunya ….

(K) Kalaunya apa itu Pak ?

(AHR) : Kalaunya itu adalah … kalau didapatkan bukti-bukti dan fakta-fakta perbuatan yang begitu telak.

(K) Sampai saat ini setelah JAKSA melakukan penelitian terhadap berkasnya Pak Antasari, bukti-bukti itu telak atau tidak Pak ?
 

(AHR) : Sampai sekarang pada bukti-bukti awal, ya betul ada keterlibatan Antasari dalam pembunuhan itu.

(K) Bukti awalnya itu apa Pak ? Sms, surat atau berbentuk apa saja ?

(AHR) Semualah ada disitu dan dirangkum dengan pasal 184 KUHAP. Bukti-bukti itu antara lain keterangan saksi, keterangan saksi ahli, bukti petunjuk dan keterangan terdakwa.

(K) Kami mendengar informasi bahwa kasus pembunuhan berencana ini sebenarnya memiliki latar belakang yang sangat mengejutkan yaitu terdapat serangkaian panjang praktek pemerasan dari Pak Antasari kepada sejumlah pihak. Apakah Kejaksaan tahu bahwa dibalik kasus pembunuhan ini ada latar belakang praktek pemerasan dari pihak Pak Antasari kepada pihak lain ?

(AHR) Kami memang ada mendengar informasi soal itu. Tapi kami disini adalah Jaksa bidang Pidana Umum. Itu bidang Pidana Khusus.

(K) Jadi bagaimana ketentuan didalam hukum untuk mengatur seandainya ada kasus seperti ini ?

(AHR) Sebenarnya bisa saja diproses hukum tapi wewenang penyidikannya tidak diberikan kepada Jaksa Pidana Umum. Tadinya memang sedikit-sedikit bukti yang mengarah ke praktek pemerasan itu. Tapi saya selaku Jampidum bilang, kami akan menangani yang memang menjadi porsi kami saja. Itulah yang dibilang harus bertugas professional, proporsional dan komprehensif. Pidana Umum tidak berwenang menangani kasus korupsi. Kalau ada informasi seperti itu maka yang akan menangani penyidikannya adalah Polisi, Jaksa atau KPK. Hasilnya, boleh disidangnya bersama-sama dengan kasus pembunuhan berencana ini.
 
 

(K) Oke, sekarang yang mau ditanyakan, apa arahan dari Pak Jaksa Agung Hendarman Supandji kepada Jampidum untuk menangani kasus Pak Antasari ?

(AHR) Pak JA meminta kasus ini ditangani secara professional & proporsional.

(K) Dengan adanya kasus pembunuhan berencana ini, apakah bisa membuat hubungan Kejaksaan dengan KPK menjadi bergesekan ? Ada benturan yang keras maksudnya ?

(AHR) Saya sebagai Jampidum mengantisipasi agar proses hukum kasus Antasari ini dijauhkan dari kemungkinan seperti itu. Salah satunya mengatur langkah-langkah yang menangani kasus ini.
 


(K) Bukan apa-apa Pak JAM, saat kasus ini disidik di Kepolisian saja, informasi yang keluar ke tengah masyarakat adalah seolah-olah terjadi benturan yang keras antara KPK dengan MABES POLRI. POLRI seakan dipojokkan dan patut dapat diduga ada upaya untuk menghambat POLRI melakukan tugas penyidikannya dalam kasus ini. Bagaimana tanggapannya Pak ?

(AHR) : Informasi itu salah. Pemberitaannya di media massa juga sebagian besar salah. Tidak ada kok yang namanya benturan, terutama di Pihak Kejaksaan Pokoknya istilah yang tadi itu, professional, proporsinal dan komprehensif. Kalau ketiganya dilaksanakan, tidak akan ada benturan.

(K) Pertanyaan terakhir, selaku pribadi sebagai seorang Jaksa … saat harus menangani kasus pembunuhan berencana yang sadis seperti ini dan notabene pelakunya dikenal baik oleh Pidana Umum, bagaimana perasaan Pak Jampidum ?

(AHR) Sulit untuk digambarkan karena ini mengenai perasaan. Prihatin tentu ada ya. Kami kan manusia biasa tapi kami melaksanakan tugas kewajiban Negara. Tapi satu hal, kami sependapat dengan penilaian banyak pihak bahwa kalau kasus semacam ini tidak ditangani secara tegas maka bisa menjadi preseden buruk di kemudian hari. Itu sebabnya saya sudah pesankan dari awal kepada Jaksa di Pidum ini, hati-hati dalam menangani yaitu ikuti dan laksanakan saja apa yang memang diatur dalam ketentuan hukum.

(K) Baik, terimakasih Pak Jampidum.

Tags: news, hukum, katakami, polri, kejaksaan agung, nasrudin zulkarnaen, jampidum abdul hakim ritonga …

Terkait Kasus NZ, Jangan Sudutkan POLRI Karena Sudah Profesional Daripada Mbah Surip Ngetawain

  • Jul 16, 2009

Tulisan Utama di Situs Berita WWW.KATAKAMI.COM

Dimuat Juga Di Seluruh BLOG KATAKAMI  WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM   WWW.KATAKAMIINDONESIA.BLOGSPOT.COM Dan WWW.KATAKAMIINDONESIA.VOX.COM  


Jakarta 14/7/2009 (KATAKAMI) Memang tidak enak jadi aparat penegak hukum kalau ternyata dibalik totalitas pengabdian meereka, ada konsekuensi yang tidak logis dan sinis saat penindakan tugas kepolisian dilakukan tanpa pandang bulu. Atau dalam bahasa anak gaul jaman sekarang, "EMANG ENAK ... ?". Belakangan, POLRI seakan dipersalahkan dan dipojokkan dalam penanganan kasus pembunuhan direktur muda Nasrudin Zulkarnaen yang tewas ditembak di bagian kepala saat dalam perjalanan di kawasan BSD.

POLRI secara institusi jadi serba salah -- padahal tidak bersalah --. Kalau ada pihak yang tidak bersalah tetapi sengaja dipersalahkan -- atau dipojokkan agar jangan coba-coba menangkapi tersangka lain yang memang jelas ada keterlibatannya -- kita seakan diajak prihatin sekaligus tertawa geli ala Mbah Surip saat menyanyikan lagu yang kini kondang luar biasa. Tak Gendong, Kemana-Mana. Tak Gendong, Kemana-Mana. Enak Donk. Mantep Donk !!!

http://www.tempointeraktif.com/khusus/selusur/ASPAC/files/img1.jpg

POLRI adalah aparat penegak hukum yang keberadaan mutlak dibutuhkan oleh Indonesia. Terlebih dalam kapasitas mereka sebagai aparat keamanan yang sepenuhnya harus menjaga, mempertahankan dan memastikan terpeliharanya "KAMTIBMAS" diseluruh wilayah Indonesia secara baik.

Nah, sekarang kalau dikaitkan dengan tudingan bahwa ada pergesekan yang terjadi antara POLRI dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pasca terungkapnya kasus pembunuhan direktur muda Nasrudin Zulkarnaein yang tewas dibunuh pertengahan Maret 2009 lalu, titik permasalahan bukan pada POLRI.

Dalam bahasa yang lebih disederhanakan adalah POLRI tidak bersalah.

http://search.detik.com/images/content/2009/05/07/10/kpk-luar.jpg

Justru, patut dapat diduga karena tidak mau KESALAHAN FATAL yang melembaga di tubuh KPK ditelanjangi dan diproses secara hukum maka POLRI yang kena gebuk.

Disini semua pihak harus jernih melihat permasalahan.

Bahkan yang merasa dirinya pimpinan tertinggi di negara ini, harus paham duduk persoalan dan jangan asal bicara saja kepada publik. Tidak ada perseteruan atau permusuhan dalam konteks penugasan yang dijalankan POLRI terhadap oknum pejabat KPK.

Jadi sebelum bicara kepada rakyat, hendaklah kiranya dibuka dulu UU Kepolisian yang mengatur tugas-tugas dari para Bhayangkara Negara ini.

Kalau mau jujur, sebenarnya jauh didasar hati Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan semua pejabat teras MABES POLRI -- terutama Kapolda Metro Jaya Irjen Wahyono dan jajarannya di Polda Metro Jaya -- tak akan ada yang mau mempermalukan pejabat tinggi negara dengan sengaja atau dengan tidak berkeadilan.

Polisi juga manusia, mereka punya hati, punya rasa dan punya logika.

Memang benar, Antasari Ashar semasa aktif menjadi Ketua KPK adalah mitra kerja dari Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Kedudukannya bisa dibilang sejajar.

Tapi dari segi kepangkatan, jujur saja ... Antasari masih level Komisaris Besar (KOMBES) kalau dalam struktur kepangkatan di POLRI.

Ya memang !

Sebab jabatan terakhir Antasari di Kejaksaan Agung hingga terpilih menjadi Ketua KPK periode Desember 2007 adalah Pejabat ESELON DUA, ini setara dengan perwira menengah kalau di Kepolisian.

Lalu pejabat Jaksa Agung Muda (JAM), setara dengan Kepala Badan Reserse & Kriminal (Kabareskrim) POLRI. Pada level inilah dikenal istilah PEJABAT ESELON 1.

Baru, pejabat setingkat Kapolri setara dengan Jaksa Agung atau Ketua KPK. Tapi, Indonesia ini negara hukum.

Kasus Pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen

Tidak ada satupun manusia yang kebal hukum di negara hukum seperti Indonesia.

Itu sudah mutlak berlaku.

Jangankan Antasari, jika misalnya patut dapat diduga seorang Calon Pesiden -- yang nota bene sedang memangku jabatan PRESIDEN juga -- memang melakukan pelanggaran hukum dan terbukti melakukan kecurangan dalam Pemilu PILPRES 2009 misalnya, POLRI juga pasti akan memproses sepanjang ada indikasi yang kuat telah terjadi perbuatan melawan hukum.

Dalam penanganan kasus pembunuhan NZ, POLRI sebenarnya bisa dituduh bahwa patut dapat diduga mereka sengaja memperlambat penanganannya dan menahan semua "informasi" agar jangan bocor kepada media massa atau kepada publik secara keseluruhan.

POLRI bukannya tidak percaya diri, sungkan atau terbeban secara moral menangani kasus pembunuhan NZ, samasekali TIDAK.

Tetapi, dalam konteks penegakan hukum saat menangani kasus ini, ada prinsip kehati-hatian yang harus sangat tegas dilaksanakan agar seluruh proses penyidikan yang dilakukan POLRI jangan sampai menimbulkan guncangan yang hebat di negara ini.

Untung saja, POLRI tidak bermulut ember atau tertabiat seperti kaleng rombeng yang akan "bocor" kemana-mana mempergunjingkan semua temuan yang "DASHYAT" dibalik kasus pembunuhan NZ.

Dari mulai Tribata 1 (Kapolri) dan jajarannya, sampai ke tingkat METRO 1 (Kapolda Metro Jaya) dan jajarannya, ibarat sakit gigi semua sepanjang menangani kasus pembunuhan NZ.

Karena apa ?

Bukan karena ada oknum polisi yang terlibat tetapi patut dapat diduga dibalik kasus pembunuhan ini memang terdapat praktek-praktek pemerasan yang sangat mengejutkan siapapun juga yang ada di negara ini dan di manca negara.

Sekali lagi, untung saja polisi-polisi itu -- terutama elite di pucuk pimpinan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya -- tidak suka NGEMBER kemana-mana.

Waduh, kalau mereka NGEMBER maka patut dapat diduga sudah dari 2 bulan lalu KPK akan tutup dengan sendirinya karena semua jajaran pimpinan akan ditangkap dan diperiksa tanpa pandang bulu.

Disinilah semua pihak harus bersikap arif dan bijaksana. Jangan terlalu memuja dan memuji KPK dengan semangat pengkultusan individu. Seolah-olah, KPK adalah dewa penyelamat dan putera mahkota penegakan hukum yaitu pemberantasan korupsi yang sangat amat membanggakan di Indonesia.

Jangan gegabah dalam memuja atau memuji pihak manapun karena seperti kata pepatah, "TAK ADA GADING YANG TAK RETAK".

POLRI dan jajarannya sudah secara maksimal menangani kasus pembunuhan NZ -- yang melibatkan Ketua KPK non aktif Antasari Azhar --.

Apa boleh buat, walaupun Antasari Azhar adalah mitra kerja Kapolri BHD dan sejak 1,5 tahun terakhir menjadi pejabat tinggi negara, fakta di lapangan menunjukkan bukti-bukti yang sangat kuat tentang dugaan keterlibatan Antasari Azhar sebagai otak pembunuhan NZ.

POLRI yang justru bersalah dan akan berbalik jadi pihak yang terseret ke muka hukum jika mereka bertindak gegabah menyelamatkan atau mengamankan pejabat tinggi negara yang patut dapat diduga secara brutal, sadis dan tidak manusiawi melakukan pembunuhan yang bertalar belakang KORUPSI -- yaitu praktek-praktek pemerasan sangat mengerikan --.

POLRI hanya sekedar menjalankan tugas mereka sebagai aparat penegak hukum.

Dan dalam proses penegakan hukum ini, POLRI tidak bermain sendirian dan bukan menjadi mata rantai yang terpisah dari lingkaran penegakan hukum yang berlaku sesuai dengan UU yang berlaku di negara ini.

Ketika berkas pemeriksaan harus dilimpahkan kepada Pihak KEJAKSAAN, semua hal harus sudah dilengkapi oleh Jajaran Kepolisian.

Baru, setelah melewati gerbong KEJAKSAAN, kasus itu bisa disidangkan. Salah kalau ada yang menilai bahwa seolah-olah terjadi peperangan, permusuhan dan pertikaian sengit yang tidak sehat antara POLRI dan KPK.

Jangan sampai ada pandangan yang keliru dan tidak proporsional dalam menilai dan mencermati kasus yang menyita perhatian publik sejak hampir 3 bulan terakhir ini. Ketika UU mengamanatkan dan menugaskan POLRI untuk melakukan tindakan tegas dan keseriusan dalam proses penegakan hukum, apakah POLRI bisa bersikap setengah-setengah ?

Tidak bisa dong !

Sadarilah satu hal ini bahwa HUKUM harus menjadi PANGLIMA di negaranya sendiri.

HUKUM tidak bisa ditempatkan di wilayah abu-abu.

Hitam harus dikatakan hitam. Putih harus dikatakan putih.

Bahkan dalam ajaran agamapun ditekankan bahwa katakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah.

Sudahlah, jangan lagi ada pemutar-balikan fakta.

Perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini sudah memojokkan POLRI -- khusus dalam penanganan kasus pembunuhan NZ --.

Sederhana saja, siapa yang berbuat (salah), maka dia harus bertanggung-jawab !

Sederhana sekali kan !

Tidak usah ada pihak manapun yang patut dapat diduga sangat panik, kalut dan tampak betul kasak-kusuk melakukan berbagai gerakan dan pelemparan isu bahwa seakan-akan ada KESENGAJAAN untuk menggembosi, melemahkan dan memandulkan KPK.

Termasuk mencaci-maki Jajaran BPKP (Badan Pengawasan Keuangan & Pembangunan) yang dimungkinkan melakukan audit.

Lho, maaf maaf kata ya, tugas dari BPKP memang secara sah dan legal di muka hukum memeriksa ... jika memang ada perintah atau permintaan yang sesuai dengan ketentuan hukum.

Lembaga atau Instansi mana di dunia ini, yang anggaran atau keuangannya tidak boleh samasekali diaudit atau diperiksa --sepanjang memang harus ada pertanggung-jawaban.

Kalau tidak ada kontrol dan pengawasan yang ketat dalam hal penggunaan anggaran, mau jadi apa negara ini kalau semua dibiarkan seenak jidatnya memakai anggaran tanpa pertanggung-jawaban ?

Jangan ada yang OVER ACTING.

Jangan ada yang sok suci.

Jangan ada yang MANIS DI BIBIR.

Sudah sejak tahun 2008 yang lalu, KATAKAMI mendapatkan informasi penting dari banyak sumber -- salah seorang diantaranya adalah pengacara senior OC Kaligis -- bahwa patut dapat diduga, terdapat kebocoran anggaran operasional yang sangat parah dalam anggaran operasional KPK.

Lalu, untuk bisa memastikan apakah penggunaan anggaran operasional di KPK itu sudah sesuai dengan aturan dan ketentuan yang hukum yang berlaku, siapa yang secara LEGAL bisa melakukan pemeriksaan terhadap pertanggung-jawaban penggunaan keuangan ?

Yang berhak memeriksa sesuai dengan kapasitasnya adalah BPK (termasuk didalam BPKP !).

Ini malah jadi ajaib semua. Tidak ada angin dan tidak ada hujan misalnya, BPKP ikut dimaki-maki dan dipersalahkan jika berani-berani memeriksa keuangan KPK.

Dimana sih letak rasionalitasnya ?

Jika memang tidak mau berurusan dengan hukum, maka janganlah ada pejabat manapun di negara ini -- bahkan di seluruh dunia -- yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum --.

Jika memang tidak mau dipenjara sampai 20 tahun lamanya -- seperti yang terjadi pada mantan jaksa Urip Tri Gunawan yang menerima uang suap USD 660 ribu dari Artalyta Suryani -- maka janganlah ada aparat penegak hukum yang melakukan KORUPSI dengan sengaja.

http://1.bp.blogspot.com/_RZBy4mRGJcQ/SUEvQQccRlI/AAAAAAAABMc/_4k0UZ1itOQ/s320/Uang_pohon1.jpg

Jangan ada pemutar-balikan fakta. Jika memang bersih, dipersilahkan saja BPKP memeriksa, asal pemeriksaan itu sesuai dengan aturan main yang berlaku.

Kenapa harus ada pihak tertentu yang patut dapat diduga sibuk melemparkan isu dan fitnah bahwa seolah-olah BPKP lancang atau mau memandulkan pihak tertentu ?

Tidak ada urusan pemandulan atau konteks konsistensi CLEAN & GOOD GOVERNANCE.

Seakan hobi sekali, menciptakan pemberitaan yang menyesatkan.

Hal yang kecil seakan diperbesar dan didramatisir. Capek melihat dan mendengarnya.

Bicara soal korupsi, yang termasuk dalam item KORUPSI itu adalah tindak pemerasan terhadap orang-orang yang sebenarnya patut dapat diduga melakukan tindak pidana korupsi.

Lalu, kalau patut dapat diduga sudah terjadi praktek-praktek pemerasan yang sangat melembaga, berjamaah dan berkelanjutan d sebuah instansi misalnya -- apakah aparat penegak hukum (terutama jajaran POLRI) harus mendadak tutup mata dan tutup telinga ?

Harus pura-pura tidak tahu ?

Harus cincai-cincai saja dan jangan coba-coba memproses para pelakunya ?

Mari, kita renungkan semua ini dengan baik-baik. Tegakkanlah hukum sampai langit runtuh.

Dan percayalah, dalam setiap tarikan nafas yang ada didalam diri Jajaran KEPOLISIAN itu, samasekali tidak ada niat atau kesengajaan menjebloskan Antasari atau siapapun nanti dalam jajaran KPK yang ikut terseret dalam kasus ini.

Patut dapat diduga Antasari sendiri yang menjebloskan dirinya terjun bebas ke dalam kubangan lumpur kenistaan dengan melakukan perbuatan melawan hukum yang sadis.

Bukti-bukti material di lapangan sudah tak bisa ditutupi dan dihindari. Dan semua proses hukum itu memang harus dikembangkan. Kalau misalnya ada pejabat lain atau pihak manapun yang patut dapat diduga terlibat dalam kasus pembunuhan NZ, bukan salah POLRI jika proses penegakan hukum menggasak dan menggilas siapapun yang rakus melahap uang uang haram.

Jangan salahkan POLRI ketika hukum memang wajib untuk ditegakkan di negara ini.

Jadikanlah kasus ini sebagai pelajaran. Jangan coba-coba korupsi. Jangan coba-coba memeras. Jangan coba-coba membunuh.

Ente sudah membunuh misalnya, tetapi tidak mau dihukum. Memang ente yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, termasuk menciptakan manusia ?

http://www.hinamagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/metro.gif

Berikan hormat dan penghargaan kepada jajaran POLRI -- yang telah merampungkan tugas mereka dalam menangani kasus pembunuhan NZ.

Moral dari jajaran POLRI, jangan sampai djatuhkan oleh pihak manapun saat kasus ini telah mereka tangani dengan sebaik-baiknya. Mereka cuma menjalankan tugas.

Termasuk Presiden SBY sekalipun, jangan asal bicara saja alias ASBUN atau ASAL BUNYI.

Tidak ada permusuhan, pertikaian dan peperangan antara POLRI dan KPK.

Jangan menyampaikan penilaian yang salah dan informasi yang menyesatkan kepada masyarakat.

Opini publik bisa terbangun dengan konteks yan negatif kepada POLRI kalau mereka difitnah atau dituding membakar api permusuhan atau peperangan dibalik penanganan kasus hukum yang melibatkan Ketua KPK non aktif Antasari Azhar.

Berbulan-bulan, jajaran POLRI sudah bekerja dengan baik menangani kasus ini.

Salut dan semua rasa hormat perlu disampaikan pada POLRI sehingga alur dari seluruh proses pemeriksaan itu tidak menimbulkan guncangan yang sangat fatal kepada Indonesia, pra dan pasca Pemilu Legislatif 2009, terutama pra dan pasca Pemilu Pilpres 2009 -- dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara --.

http://2.bp.blogspot.com/_fKnKYxFGpw4/SZQaDaKuzKI/AAAAAAAAAAw/gDRxAeTd8Q4/S220/corr06_logo_E.jpg

Kasus pembunuhan NZ ini memang sangat mencengangkan dan kalau dibuka secara "telanjang bulat" maka patut dapat diduga akan bisa membuat MEGAP MEGAP siapapun juga yang mengetahuinya.

Mengapa ?

Sebab, patut dapat diduga dibalik pembunuhan NZ ini terseret banyak sekali nama nama pejabat dan instansi-instansi super penting di Indonesia.

Kasus ini bukan kasus roman picisan dua sejoli menjalin cinta (SEGITIGA) misalnya.

Kasus ini bukan kasus tembak-tembakan ala film koboi.

Kasus ini ... adalah kasus yang sangat KONTROVERSIAL !

Tunggu saja tanggal mainnya di persidangan. Jajaran Kejaksaan Agung saja, sudah dari jauh jauh hari menyusun "kuda-kuda" alias ancang-ancang agar dalam penanganannya tidak keluar dari rel hukum.

Jadi, sekali lagi, terimakasih POLRI -- khususnya kepada anda, Irjen Wahyono, Kombes Mochamad Iriawan dan semua jajaran Polda Metro Jaya -- yang sudah berusaha semaksimal mungkin menangani kasus ini dengan profesional. Jangan ada yang disembunyikan.

Buka saja secara transparan.

Lihatlah dampak dan semua manuver yang bermain untuk kepentingan penyelamatan diri.

Sekali saja KEPOLISIAN lengah atau gegabah dalam penanganannya, maka resiko yang harus di tanggung sangat amat besar. Padahal, yang berbuat kesalahan adalah pihak lain.

Ibarat permainan GOLF, bola yang dipukul harus bisa masuk ke dalam lubangnya.

http://bumnwatch.com/i09/wp-content/uploads/2009/06/rhani260609-31-272x300.jpg http://z.about.com/d/graphicssoft/1/0/s/Z/3/azk22-anigolfer-1final.gif

Bukan malah mentok ke jidat atau kepala CADDY yang ikut mendampingi rombongan pemain golf. Alamak, bisa benjol nanti kepala si CADDY kalau ketimpuk bola golf !

Proses penegakan hukum juga harus sama lihai dan piawai seperti dalam permainan GOLF.

Siap, kepada jajaran KEPOLISIAN, jangan kecil hati.

Good Job !

Ini kerja yang baik dari KEPOLISIAN untuk bisa menangani dan menyelesaikan pemeriksaan kasus serumit ini dengan prinsip kehati-hatian dan sepenuhnya berpegangan pada asas profesionalisme.

Jadi, jangan lagi POLRI dipersalahkan dan disudutkan ketika mereka justru sudah bekerja secara profesional dan proporsional menangani kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain.

Daripada kita sama-sama malu karena ditertawakan "Mbah Surip" dengan gaya dan senyum LEBAR, sebab kita memang jadi pantas "ditertawakan" ketika larut dalam arus tak putarannya sangat bertentangan dengan kebenaran itu sendiri.

Kita akan sama-sama ditertawakan oleh "Mbah Surip Mbah Surip" lain dimanapun juga, karena tak berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu memang salah.

Mbah Surip bisa cengengesan dengan rambut gimbalnya kalau Indonesia terus sibuk sendiri mengeluarkan jargon-jargon ANTI KORUPSI tetapi penanganannya amburadul.

Mbak Surip bisa NGAKAK kalau penanganan korupsi tak sesuai dengan teori-teori merdu, seperti saat Mbah Surip sendiri menanyikan lagu :

TAK GENDONG :

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok Im
Where are you going?
Ok my darling

Ha...Ha...

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik taxi kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Mau kemana

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok Im
Where are you going?
Ok my darling

Ha.. Ha...

Tak gendong kemana-mana
Enak tau
Ha.. Ha...
Ha.. Ha...
Ha.. Ha......

Capek.....
 

(MS)

Dukungan Moral Untuk POLRI Menbongkar Kasus Pembunuhan NZ Karena Patut Dapat Diduga AA Mendapat Uang Pemerasan Rp. 550 Miliar Dari Tokoh EL

Sekali lagi, kami tidak bermaksud menyebarkan fitnah atau pencemaran nama baik karena senafas dengan asas praduga tidak bersalah atau presumption of innocent, kami gunakan kalimat “patut dapat diduga” sehingga untuk menelusurinya dibutuhkan kesigapan dan kemampuan yang sangat hebat dari aparat KEPOLISIAN.

Ini sebuah dukungan moral sangat tinggi untuk POLRI diba

Jakarta 20/5/2009 (KATAKAMI) Tepat tanggal 20 Mei 2009, Indonesia memperingati Kebangkitan Nasional. Sejalan dengan semangat Kebangkitan Nasional itu jugalah maka rakyat Indonesia perlu lebih mempertegas dan menekankan kepada semua pihak bahwa di negara ini pemberantasan korupsi tidak akan pernah loyo, impoten, mandul atau melempem seperti kerupuk yang masuk angin.

Kalau sudah bicara soal pemberantasan korupsi maka sekarang harus jujur diakui bahwa patut dapat diduga Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) non aktif AA melakukan tindak pidana korupsi pemerasan. Kalau kata orang Medan, alamak jang … ngeri kali rakusnya kalau memang patut dapat diduga untuk satu kasus pemerasan saja angka nominalnya mencapai Rp. 550 Miliar. Sadis.

Tutup mulut terhadap semua ocehan penuh halusinasi soal pemberantasan korupsi jika patut dapat diduga justru AA yang paling rakus melakukan pemberantasan korupsi disaat ia memangku jabatan sebagai Ketua KPK.

Tutup mulut terhadap semua ocehan penuh halusinasi soal pemberantasan korupsi jika patut dapat diduga justru AA yang paling rakus melakukan korupsi yaitu pemerasan disaat ia memangku jabatan sebagai Ketua KPK.

Sungguh, kami sangat berhati-hati dalam menyampaikan informasi seperti ini. Kalau sumbernya tidak sangat valid dan meragukan maka kami tidak akan pernah mau menyampaikan.

Sumber KATAKAMI di pemerintahan menginformasikan bahwa dibalik kasus terhadap pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen ini patut dapat diduga memang terkait erat dengan sebuah tindakan pemerasan kepada seorang tokoh berinisial “EL” yang pada akhirnya telah menyerahkan uang senilai Rp. 350 miliar dari total kesepakatan “uang pemerasan” senilai Rp. 550 miliar.

Tak cuma kasus ini saja yang berbau pemerasan karena patut dapat diduga seorang menteri (lelaki) berinisial B juga pernah diperas sekitar atau mendekati angka Rp. 25 miliar.

Begitu juga dengan seorang gubernur yang berinisial I yang wilayah tugasnya di hamparan Pulau Sumatera sana, bahwa patut dapat diduga kepada gubernur ini juga pernah dilakukan pemerasan.

http://nurudinhanif.files.wordpress.com/2009/05/bangkit0032.jpg

wah kepemimpinan Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri, maju … jangan pernah gentar atau setengah-setengah dalam menangani kasus pembunuhan terhadap Almarhum Nasrudin Zulkarnaen.

Siap, kepada POLRI perlu diingatkan bahwa hanya ada satu kata dalam menghadapi kerakusan dan kebiadaban seputar korupsi yaitu … LAWAN !

Tentu bentuk perlawanannya adalah sesuai dengan koridor hukum yang berlaku di negara ini. Jangan pernah sekalipun ada keragu-raguan untuk menuntaskan penanganan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen karena patut dapat diduga kasus inilah yang menjadi entry point atau jalan masuk untuk membongkar gunung-gunung tinggi yang berisi hamparan bukit korupsi yang sangat mengerikan.

Siapa saja, mulai saat ini harus sangat siap mendengar perkembangan dan fakta-fakta yang patut dapat diduga terjadi dibalik kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen. Bahkan kalau perlu, semua media massa yang mulai menyadari dan memutuskan untuk konsisten memberitakan ada apa sebenarnya dibalik kasus pembunuhan itu, perlu dijaga oleh aparat kepolisian.

Untuk apa dijaga ?

Ya, untuk menghindari terjadinya lagi pembunuhan-pembunuhan berikutnya.

Maaf saja, indikasi teror dan tekanan itu patut dapat diduga dilakukan sejumlah pihak kepada KATAKAMI sepekan terakhir ini yaitu yang patut dapat diduga dilakukan pihak Komisaris Jenderal Gories Mere dan pihak lainnya yang merasa “panas dingin” alias “ketar ketir” kalau media massa lain jadi ikut tahu bahwa ada BAU BUSUK KORUPSI yang sangat parah di balik kasus pembunuhan itu.

Hebat betul, sedikit-sedikit main teror. Sedikit-sedikit, main intimidasi. Sedikit-sedikit main bunuh. Sudah seperti binatang buas yang hidupnya di alam rimba.

Ups, saat tulisan ini sedang disiapkan untuk segera dimuat … tiba-tiba telepon selular Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata berbunyi dan mendapatkan pesan singkat dari perwakilan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dan beberapa Pastor.

“Mbak Mega, kami mendukung dilakukannya penegakan hukum terhadap kasus pembunuhan yang berlatar-belakang tahta, harta dan wanita”.

Intinya seperti itu dan tidak perlu kami muat nama pengirim.

Tapi dalam pesan singkat SMS itu, mereka memuat nama Komisaris Jenderal Gories Mere bahwa jika patut dapat diduga Komjen Gories Mere terlibat dalam melakukam pembunuhan sadis yang sangat brutal tak berperikemanusiaan itu, maka sudah sepantasnya POLRI menindak tegas dan konsisten melakukan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Dan tak hanya ini pesan yang kami terima seputar kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

http://www.hawaii.edu/mjournal/images/contributors/sarumpaet.jpg

Aktivis kemanusiaan RATNA SARUMPAET juga berbicara langsung kepada KATAKAMI seputar kasus ini dan menyampaikan keheranannya terhadap langkah penegakan hukum yang dilakukan POLRI seakan jalan ditempat alias TAK MAJU-MAJU.

“Saya heran ya, ini POLRI mengerti atau tidak … cara menangani kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen ? Jangan-jangan POLRI itu tidak tahu bagaimana cara menangani kasusnya. Kasihan betul kalau tidak tahu bagaimana cara menanganinya. Saya mendengar diluar sini bahwa dibalik kasus pembunuhan itu, patut dapat diduga ada unsur KORUPSI. Dimana keberanian POLRI mengusut itu ? Yang saya dengar malah kebalikannya. Masak seorang Kapolri membela Antasari, mengiyakan bahwa POLRI sempat memberikan perlindungan hukum tetapi kemudian ada kasus pembunuhan ini. Ada apa dibalik itu semua ? Heh, KATAKAMI tulis ya … Bambang Hendarso Danuri itu tidak usah jadi Kapolri, kalau untuk menangani kasus ini saja tidak berani” kata Ratna Sarumpaet.

Ratna Sarumpaet mengaku sangat kecewa terhadap kinerja POLRI dalam menangani kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

“Saya ini jengkel sama polisi-polisi yang menangani kasus ini. Capek saya mendengar berita-berita yang sengaja dibuat jadi simpang siur. Mana perempuan yang namanya Rani itu ? Hak apa polisi menyembunyikan atas nama perlindungan hukum ? Kita ini ya … jangan lupa, sudah banyak kejadian sepanjang Indonesia ini berdiri bahwa orang yang posisinya sebagai saksi akan dilindungi. Ternyata dia bukan dilindungi, tetapi dicuci dulu otaknya. Nah, nanti kalau muncul … sudah aneh-aneh omongannya. Apa itu rencana POLRI menyembunyikan perempuan yang namanya Rani ? Bikin malu saja Kapolri itu kalau kasus ini jadi semerawut penanganannya. Jangan sampai faktanya mau dibelokkan. Bongkar kasus korupsinya, usut. Gila kali, kalau kasus korupsi ditutupi dan mau diselamatkan ? Buka, dan sampaikan kepada rakyat Indonesia … fakta hukum apa yang sebenarnya terjadi dibalik kasus pembunuhan itu” pungkas Ratna Sarumpaet.

http://www.juanitaquevedo.com/media/AnimatedMoney.gif

Pada kesempatan berikutnya, KATAKAMI melakukan diskusi kecil-kecilan dengan seorang wartawan senior dari harian terkemuka seputar kasus ini.

“Wah, kalau sampai benar dapat Rp. 550 miliar untuk satu kasus saja, gila sekali ya. Waduh, itu besar sekali lho angkanya kalau sampai Rp. 550 miliar. Apa yang menyangkut persoalan gula dulu atau yang energi ya ? Penasaran juga jadinya. Ini harus diungkap sama Kepolisian. Jangan dialihkan ke soal selingkuh segala padahal fokus persoalannya justru bertolak-belakang dengan yang diberitakan !” kata wartawan senior tersebut.

Inilah hikmah yang harus diambil oleh MABES POLRI, khususnya oleh Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri dan seluruh jajarannya di Kepolisian. Terutama oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Polisi Wahyono.

Nama baik, martabat dan kehormatan INSTITUSI dipertaruhkan dalam menangani kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen karena patut dapat diduga pembantaian berdarah penuh kesadisan itu memang sarat dengan latar belakang korupsi yang sudah sangat mengerikan.

Awal pekan ini, KATAKAMI menemui seorang pakar hukum penanganan korupsi yang memang memiliki banyak relasi di lingkungan Kepolisian dan Kejaksaan.

Pakar hukum ini terkejut-kejut saat mendengar informasi penting dari sumber yang bisa dipercayainya bahwa patut dapat diduga ada aliran dana Rp. 550 miliar dibalik kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

“Saya ini seorang pakar hukum. Untuk sementara, kita tunggu saja hasil penyidikan Kepolisian. Luar biasa besarnya uang senilai Rp. 550 miliar itu. POLRI harus mendalami semua kemungkinan. Disini, POLRI harus menelusuri secara cepat berbagai unsur pemerasan yang patut dapat diduga dilakukan AA lewat sejumlah besar pejabat yang akan tersangkut kasus korupsi. Yang paling penting adalah, POLRI harus menawarkan, memberikan dan menjamin adanya PROTEKSI HUKUM terhadap semua korban pemerasan yang bersedia memberikan kesaksian kepada pihak KEPOLISIAN bahwa mereka sudah diperas. Ingat, hukum akan memberikan perlindungan kepada SAKSI PELAPOR yang bersedia menyampaikan kesaksian dan bukti-bukti. Jangan takut, sebab para pejabat yang kurun waktu setahun terakhir ini sudah memberikan sejumlah uang itu bukan bentuk penyuapan tetapi PEMERASAN ! Dan dalam UU pemberantasan korupsi, pasal pemerasan itu akan dijerat dengan Pasal 12 E dan pasal 12 F UU Nomor 31 / 1999 junto Pasal 20 UU / 2001 tentang pemberantasan korupsi” kata pakar hukum tersebut.

Menurutnya, POLRI tidak boleh terkecoh karena patut dapat diduga begitu banyak dugaan unsur korupsi yaitu PEMERASAN dibalik kasus pembunuhan Nasrudin Zulnarnaen.

“Ayo, POLRI jangan diam saja. Informasi itu bergerak cepat ke tengah masyarakat. Jangan sampai POLRI yang jadi sasaran kemarahan rakyat kalau tindajk pidana korupsi yang patut dapat diduga dilakukan terus menerus lewat praktek pemerasan seperti ini dibiarkan atau didiamkan. Ada informasi yang kami dengar bahwa patut dapat diduga saat dilakukan penggeledahan di ruang kerja AA, dalam lacinya sudah ditemukan begitu banyak travel cek tetapi yang tidak perlu memakai tanda-tangan pemberi. Dalam hukum, ini disebut surat berharga atas unjuk. Dia tinggal bawa ke bank, tanpa perlu tanda-tangan maka uang sudah dicairkan. AApasti tahu resikonya kalau harus pakai tanda tangan segala. Saya dengar juga informasi bahwa patut dapat diduga praktek-praktek pemerasan itu dilakukan kepada sejumlah kepala daerah, entah itu gubernur, bupati dan wali kotamadya. Lalu, patut dapat diduga sejumlah menteri juga ada yang menjadi korban pemerasan. Semua pejabat itu tidak perlu takut melaporkan kepada POLRI jika patut dapat diduga mereka memang sudah menjadi korban pemerasan” lanjut pakar hukum tadi.

Pakar hukum yang memiliki jam terbang sangat tinggi ini juga mengingatkan POLRI untuk tidak terkecoh dalam metode pelacakan uang di rekening bank.

“Waduh, hari begini urusan korupsi pakai kirim-kiriman uang lewat rekening bank, mana ada yang mau karena pasti sudah tahu akan bisa dilacak. Saya mendengar informasi bahwa patut dapat diduga sepanjang AA menjadi Ketua ada begitu banyak praktek pemerasan yang dilakukan. Dan sistemnya pun, patut dapat diduga dengan menggunakan fresh money atau uang tunai. Atau, yang tadi saya sebutkan yaitu surat berharga atas unjuk. Travel cek yang tidak memerlukan tanda-tangan pemberi” ungkap pakar hukum.

http://www.inspirationline.com/images/jail-animated.gif

Barangkali yang disadari oleh siapapun juga yang selama ini menari-nari diatas penderitaan orang lain yaitu karena tahu siappapun juga akan ketakutan kalau diproses secara hukum dalam kasus korupsi bahwa praktek pemerasan yang diam-diam dilakukan selama ini … adalah sebuah perbuatan yang pantas dihujat dan layak dihukum seberat-beratnya.

“Pasal pemerasan 12 E dan 12 F dalam UU pemberantasa korupsi itu, ancamannya tidak main-main. Tuntutan yang pasti akan diberikan oleh jaksa penuntut umum adalah pidana penjara seumur hidup. Nah, sekarang tinggal bagaimana MABES POLRI menangani kasus ini. Konsisten apa atau tidak dalam menegakkan hukum ? Berani atau tidak ? Mau atau tidak dalam menegakkan hukum ? Waduh, jangan main-mainlah. Kita lihat saja, kemana arah penyidikan ini mau dibawa oleh KAPOLRI. Kalau saja kasus ini mau dikategorikan CUMA sebatas kasus kriminal pembunuhan semata, sudahlah. Keterlaluan POLRI. Apalagi kalau sampai nanti, KAPOLRI merasa kasihan dan Antasari diselamatkan. Sekarang kita tanya saja ramai-ramai kepada Kapolri, Pak BHD … ada urusan apa anda, kalau misalnya merasa kasihan dan mau menyelamatkan AA ? Ini persoalan besar lho. Tidak main-main. Jangan sampai, penyidiknya sudah keras keras semua menangani. Ujung-ujungnya, ditutup semua. Lalu diumumkan, oh ini kasus pembunuhan ! Selesai, titik. Wah, mau jadi apa Indonesia? pungkas Pakar Hukum tersebut dengan nada kecewa.

POLRI, tidak perlu ragu untuk menangani dan menuntaskan permasalahan hukum apapun juga yang ada di balik kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Bahwa dibalik kasus pembunuhan itu, memang patut dapat diduga ibaratnya ada “gunung tinggi” kerakusan korupsi yang tumpukan pundi-pundinya sudah sangat “tak terhingga” maka para penyidik yang memiliki kemampuan terbaik dalam menangani kasus hukum semacam ini harus dikerahkan.

Hati-hati, untuk pihak-pihak manapun juga didalam KPK yang patut dapat diduga ikut merasa terancam kalau kasus korupsi yang “masih malu-malu” memperlihatkan diri dibalik kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Jangan ada yang menghalangi langkah POLRI mengusut dan menuntaskan masalah ini !

Jangan juga ada yang sok hebat dan jadi doyan membunuhi siapa saja yang dianggapnya bisa membongkar kasus korupsi yang patut dapat diduga dilakukan secara “berjamaah” alias ramai-ramai menikmati.

Serta jangan coba-coba menteror dan melakukan intimidasi kepada media massa yang memberitakan ini.

Mau apa ? Mau membunuh lagi kalau ternyata sangat panik dan gemetaran akibat hebatnya rasa takut yang mendera ? Lho, memeras mau, membunuh mau, tetapi kenapa pada lari dari tanggung-jawab saat POLISI menjalankan tugasnya untuk menegakkan hukum ?

http://17.media.tumblr.com/cJkq8WM169i6mzux2Kb1XDDa_400.jpg

KATAKAMI menyampaikan sebuah kelakar yang sebenarnya penuh ironi kepada seorang sahabat baik yang begitu mulia hatinya karena tetap setia mendukung tugas-tugas kewartawanan dan menyampaikan karya-karya jurnalistik yang menyuarakan kebenaran serta keadilan. Kami katakan seperti ini :

“Kalau ada eksekutor pembunuh yang mau dikirim lagi oleh siapapun karena sok jago di negara itu, sebaiknya eksekutor itu dilempar secepatnya pakai sepatu ke arah mukanya. Pasti si eksekutor pembunuh itu terkejut. Disaat dia terkejut, senjata api yang ditangannya itu kita suruh untuk dia arahkan ke mukanya sendiri. Diarahkan saja ke biji matanya lalu tarik pelatuknya. Tunggu dalam 5 sampai 10 detik, coba tanya kepada eksekutor itu. Enak atau tidak rasanya ? Masih hidup atau tidak ? Jangan sok jago di negara ini. Sedikit-sedikit mau main bunuh. Yang menjadi makelar pembunuhan ala mafia seperti ini, memang pantas dihukum mati. Manusia biadab yang menjalankan praktek bisnis pembunuhan massal ala mafia di sebuah negara yang berlandaskan hukum dan Pancasila. Apakah rakyat Indonesia mau menerima dan memaafkan, jika ada makelar pembunuhan yang menghalalkan bisnis penghilangan nyawa orang lain secara komersial, waduh sadis sekali. Ditangkap saja manusia biadab semacam ini, lemparkan saja ke penjara dan jika nanti diadili maka orang pertama yang harus dituntut mati adalah makelar pembunuhan ini !”.

Semua pihak, tentu sebaiknya bersabar dan memberikan kesempatan kepada POLRI untuk menangani kasus ini sebaik-baiknya.

Berkali-kali, kamipun terus mengatakan bahwa katakanlah yang benar itu benar, dan yang salah itu salah !

Dan kepada salah, jangan anda katakan bahwa yang benar itu salah, dan anda sebagai pihak yang salah malah menjadi pembenaran sendiri !

Berani berbuat, harus berani dan memang wajib bertanggung-jawab, BOSS ! Emangnya ente kira, negara ini punya nenek moyang ente, atau ente kira negara ini hutan belantara sehingga yang bisa diterapkan adalah HUKUM RIMBA ?

Indonesia adalah negara hukum yang berlandaskan pancasila. Di sebuah negara hukum, tidak dibenarkan main hakim sendiri dan berpesta pora melakukan hajatan korupsi yang sangat memalukan secara terus menerus dengan gaya sangat RAKUS.

Awas, diam ditempat, jangan ada yang coba-coba lagi main bunuh, main teror, main serang dan melakukan tindakan membabi-buta yang patut dapat diduga dilakukan karena sangat ketakutan diseret muka.

Jangankan ke muka hukum, mendapatkan VONIS MATI pun memang sangat amat pantas !

POLRI, jangan ragu untuk menangani dan menuntaskan kasus ini.

Kejaksaan Agung, bahkan sudah menyiapkan segala persiapan yang terbaik dalam menangani kasus ini. Kepala Pusat Penerangan & Hukum Kejaksaan Agung Jasman Panjaitan, kabarnya akan ditunjuk sebagai Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum yang akan menangani kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Setiap perkembangan dalam proses penyidikan yang ditangani Kepolisian, terus dimonitor oleh Kejaksaan Agung agar dalam prakteknya nanti semua proses persidangan bisa berjalan baik sebagaimana mestinya.

Dan menunggu proses penyidikan ini selesai dilakukan, siapapun juga pejabat yang ada di negeri ini yaitu dari tingkat menteri, direktur-direktur BUMN, gubernur, bupati, wali kotamadya dan siapapun juga yang memang selama kurun waktu 1,5 tahun ini pernah diminta untuk menyerahkan sejumlah agar kasus hukum tertentu yang menyangkut para pejabat ini tidak dinaikkan penanganannya dalam penanganan korupsi, sebaiknya mau memberikan kesaksian dan bukti-bukti yang sangat kuat.

Percayalah, hukum akan memberikan jaminan dan perlindungan kepada siapapun korban pemerasan.

Datanglah, tidak usah kelihatan dan benar-benar harus sangat dirahasiakan dari semua pihak (terutama dirahasiakan dari pihak PEMERAS, termasuk dirahasiakan dari semua media massa).

http://www.hinamagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/metro.gif

Sampaikan kepada POLDA METRO JAYA, atau langsung ke MABES POLRI, bahwa anda adalah korban pemerasan periode kepemimpinan AA di KPK.

Jangan takut. Jangan ragu. Datang, datanglah, temui aparat KEPOLISIAN. Anda pasti mendapatkan jaminan dan perlindungan hukum karena patut dapat diduga korban pemerasan ini sudah sangat mengerikan banyaknya dan jumlah nonimal uang yang diberikan.

Jadi, mari kita singkirkan dulu semua kisruh pemberitaan soal seks, asmara, selingkuh atau hal-hal percintaan ala film India.

Tidak ada urusan percintaan dan asmara segitiga atau sepuluh dalam kasus pembunuhan ini karena patut dapat diduga dibalik kematian Almarhum Nasrudin Zulkarnaen hanya terdapat indikasi tentang satu hal yaitu K O R U P S I !

Janganlah ada yang mendayu-dayu, merengek-rengek dan menyetel wajah dengan sangat sedih sekali bahwa seolah-olah di negara ini masyarakatnya penuh teror dan sangat kejam menyudutkan keluarga pejabat yang kepentok pada masalah hukum.

Bukan apa-apa, rasanya kami saja malu saat diberitahu ada seorang Nyonya Pejabat datang ke rumah PARANORMAL Ninuk di wilayah Krukut Jakarta Selatan akhir tahun 2008 lalu dengan berpura-pura menjadi orang cacat.

Nyonya Pejabat itu, diutus sang suami untuk meminta pertolongan agar dilakukan pertunjukan sulap sangat canggih untuk menjatuhkan sejumlah PEJABAT yang dianggap menghalangi sang suami. Ikut juga dibawa saat kedatangan Nyonya Pejabat tadi, sebuah cincin mewah bertahtakan puluha berlian sangat mahal agar “dicuci, dibersihkan dan diisi” untuk semakin memberikan kekuatan perlindungan.

Aduh … mengerikan sekali ! Kita seakan tidak beragam dan mengecilkan arti “Ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. Satu-satunya kekuatan yang harus kita percayai dan kita andalkan adalah kekuatan Tuhan.

Bukan, kekuatan gaib atau perdukunan.

http://www.grit-page.net/bf/leona/salute.gifhttp://www.grit-page.net/bf/leona/salute.gifhttp://www.grit-page.net/bf/leona/salute.gifhttp://www.beau.k12.la.us/sbe/images/animated_goat.gif

Tabik Pak Polisi, kami dukung menangani semua kasus hukum yang meresahkan masyarakat Indonesia agar kasus ini jangan menjadi preseden buruk bagi Pejabat Tinggi atau pihak mana saja di Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan apapun.

Main tembak, main bunuh, … ada juga yang main santet. Busyet deh. Tobat-tobat.

Tabik Pak Polisi, jangan ragu menggayang bandit-bandit dan penjahat-penjahat biadab yang mempunyai bisnis penghilangan nyawa orang lain tetapi melemparkan kesalahan kepada pihak lain untuk jadi kambing hitam.

Kambing bandotnya dong yang ditangkap, jangan kambing hitam ! Embek … !

(MS)

Tags: hukum, polri, mbah surip, nasrudin zulkarnaen, antasari azhar

Jampidum Abdul Hakim Ritonga : Kejaksaan Samasekali Tidak Dendam Pada Antasari !

  • Jul 16, 2009

  

Dimuat Juga Di Blog Katakami WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM

Jakarta 16/7/2009 (KATAKAMI) Ketika seorang Antasari Azhar terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada bulan Desember 2007, bisa jadi Bidang Pidana Umum (PIDUM) Kejaksaan Agung adalah pihak yang paling berbangga hati melepas alih tugasnya Antasari Azhar. Anta - begitu panggilan Antasari di kalangan Kejaksaan -- menempati jabatan terakhir di Pidum Kejaksaan Agung sebagai pejabat eselon II yaitu Direktur Penuntutan (Dirtut) pada Jampidum. Tapi siapa yang menyangka bahwa "alumni" Pidum Kejaksaan Agung ini justru harus berurusan dengan "almamaternya" sendiri. Anta menjadi tersangka otak pelaku dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Nasrudin Zulkarnaen yang tewas ditembak secara sadis pertengahan bulan Maret 2009. Ancaman maksimal hukumannya sesuai KUHP adalah MATI atau mininal pidana kurungan 20 tahun penjara.

Situs Berita KATAKAMI.COM mendapatkan kesempatan untuk Wawancara Eksklusif dengan Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAMPIDUM) Abdul Hakim Ritonga seputar penanganan kasus hukum yang menimpa Antasari Azhar. Wawancara ini dilakukan di ruang kerja Jampidum di Kejaksaan Agung pada Rabu (15/7/2009) sore. Dan inilah hasil wawancara Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata dengan Jampidum Abdul Hakin Ritonga :



KATAKAMI (K) Setelah hampir 2 bulan ditangani penyidikannya oleh Kepolisian, bagaimana perkembangan penanganan kasus Pak Antasari ?

Jampidum Abdul Hakim Ritonga (AHR) : Posisinya saat ini, sesuai dengan prosedur Undang Undang KUHAP, setiap berkas disiapkan oleh penyidik. Dalam hal ini Kepolisian sebagai penyidik tunggal. Tapi sesudah berkas selesai dibuat oleh penyidik, tidak langsung diterima begitu saja oleh Jaksa. UU menyebutkan dalam pasal 110 & 138 KUHAP, diberikan wewenang kepada Jaksa untuk meneliti apakah sudah memenuhi syarat-syarat formil dan syarat-syarat materiil suatu berkas perkara yang akan diajukan ke Pengadilan. Nah, manakala sang Jaksa berpendapat bahwa berkas itu belum memenuhi syarat formil dan materiil maka dia akan mengembalikan berkas itu kepada penyidik dengan P-18. Sesudah itu, tak cuma sekedar dikembalikan. Dalam P-19, Jaksa akan menerbitkannya 14 hari sesudah berkas itu diterima yang menyebutkan mana saja berkas yang tidak lengkap dan mana yang harus dilengkapi. Begitu jugalah dengan berkas Antasari sekarang. Berkasnya sudah jadi dan dilimpahkan kepada Kejaksaan dan menurut kami belum memenuhi syarat formil dan materiil. Saat ini kami sedang merumuskan P-19, ya … paling lama hari Jumat akan selesai.


(K) Oh jadi, ketika pekan lalu Kepolisian mengatakan bahwa berkas Pak Antasari sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. Sekarang berkasnya malah dikembalikan lagi ke Kepolisian ?

(AHR) : Ya betul. Kekurangannya ya … syarat formil dan syarat materril. Syarat formil itu mengenai administrasi legalitas didalam berkasnya. Sedangkan syarat-syarat materiilnya, mengenai bukti-bukti keterlibatan Antatasari.

(K) Bukti yang dimaksud itu, bukti keterlibatan dalam pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, atau bukti yang mengarah pada temuan-temuan lain yang melebar dari kasus ini ?

(AHR) : Kami tidak akan melebarkan kasus ini, Jaksa Pidana Umum tidak akan melebar dari ketentuan pasal 340 KUHAP tentang pembunuhan berencana untuk kasus Antasari.
 


(K) Jadi, bukti yang dianggap Jaksa kurang adalah bukti tentang keterlibatan membunuh NZ ?

(AHR) : Betul.

(K) : Jadi kalau ada informasi yang saat ini beredar di tengah masyarakat bahwa paling lambat akhir bulan Juli ini Pak Antasari mulai disidangkan, itu tidak benar pak ya ?

(AHR) : Kami menargetkan bahwa ke-9 berkas dari 9 tersangka dalam kasus ini sudah sempurna. Kami rencanakan Awal Agustus, semuanya sudah berada di Kejaksaan dan siap dilimpahkan.

(K) Jadi molornya waktu yang terjadi sekarang, karena kurangnya bukti-bukti yang Bapak jelaskan tadi ya ? Apa bukan karena Kejaksaan memang sengaja mengulur-ulur waktu ?

(AHR) : Lho, itu kan prosedur Undang Undang. Kami tidak mengulur-ulur waktu. Sekali lagi ini bagian dari prosedur UU dan memang biasa dilakukan. Cuma kadang-kadang karena masyarakat tidak memahami prosedurnya, memang akan mudah curiga. Wah … jangan-jangan ada permainan ? Tidak benar itu.


 
(K) Jujur saja, apakah Bagian Pidana Umum di Kejaksan Agung ini merasa terbeban secara moril ketika harus menangani kasus yang melibatkan Pak Antasari ? Kita sama-sama tahu kan Pak Antasari saat masih aktif menjadi JAKSA, penugasannya ya di bagian Pidana Umum ini kan. Ada beban moral, Pak ?

(AHR) Jaksa itu kan manusia biasa, punya rasa dan perasaan. Pastilah ada satu atau dua orang yang merasa terbeban moralnya. Itu sebabnya kami sengaja memilih Jaksa yang nantinya akan menangani kasus ini adalah Jaksa yang samasekali tidak punya hubungan emosional dengan Antasari. Harus netral.

(K) : Oke Pak JAM, ini agak sensitif tapi harus ditanyakan. Apakah ada dendam dari Kejaksaan Agung terhadap Pak Antasari selaku pribadi atau terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara kelembagaan ? Wajar kalau ada yang mencurigai seperti ini mengingatkan pada tahun lalu kan ada kasus suap Urip Tri Gunawan.

(AHR) : Itu harus diluruskan. Berkas Antasari kan ada di Pidana Umum sekarang. Kalau ditanya apakah ada rasa dendam, tidak ada samasekali. Tidak ada masalah. Antasari sendiri kan bilang, dia sebagai penegak hukum akan mengikuti aturan-aturan hukum.
 
 

(K) Apakah ada kemungkinan bahwa kasus yang menimpa Pak Antasari ini akan digunakan sebagai alat pemukul atau sarana untuk pelampiasan rasa dendam institusi KEJAKSAAN AGUNG kepada Pak Antasari selaku pribadi dan kepada KPK ?

(AHR) : Tidak, tidak ada dendam samasekali pada diri Kejaksaan, baik itu kepada Antasari atau KPK.
 
(K) : Ada spekulasi juga yang beredar bahwa nanti tuntutan terhadap Pak Antasari adalah tuntutan MATI. Tapi kabarnya, ada perpecahan di Kejaksaan Agung ini. Sebagian setuju untuk nantinya membuat tuntutan MATI pada persidangan Pak Antasari, tapi sebagian lebih setuju kalau tuntutannya pidana kurungan atau penjara seumur hidup karena ada rasa kasihan terhadap rekan sendiri. Bagaimana penjelasan dari Pidana Umum sendiri ?

(AHR) : Itu belum waktunya dibicarakan sekarang. Nanti ditentukan setelah selesai pemeriksaan di Pengadilan. Jadi masih jauh sekali. Tapi kalau ancaman hukuman berdasarkan KUHAP pada pasal 340 pembunuhan berencana itu maksimal HUKUMAN MATI, setingkat dibawahnya penjara seumur hidup dan paling minimal 20 TAHUN PENJARA. Dan ada kata kalaunya ….

(K) Kalaunya apa itu Pak ?

(AHR) : Kalaunya itu adalah … kalau didapatkan bukti-bukti dan fakta-fakta perbuatan yang begitu telak.

(K) Sampai saat ini setelah JAKSA melakukan penelitian terhadap berkasnya Pak Antasari, bukti-bukti itu telak atau tidak Pak ?
 

(AHR) : Sampai sekarang pada bukti-bukti awal, ya betul ada keterlibatan Antasari dalam pembunuhan itu.

(K) Bukti awalnya itu apa Pak ? Sms, surat atau berbentuk apa saja ?

(AHR) Semualah ada disitu dan dirangkum dengan pasal 184 KUHAP. Bukti-bukti itu antara lain keterangan saksi, keterangan saksi ahli, bukti petunjuk dan keterangan terdakwa.

(K) Kami mendengar informasi bahwa kasus pembunuhan berencana ini sebenarnya memiliki latar belakang yang sangat mengejutkan yaitu terdapat serangkaian panjang praktek pemerasan dari Pak Antasari kepada sejumlah pihak. Apakah Kejaksaan tahu bahwa dibalik kasus pembunuhan ini ada latar belakang praktek pemerasan dari pihak Pak Antasari kepada pihak lain ?

(AHR) Kami memang ada mendengar informasi soal itu. Tapi kami disini adalah Jaksa bidang Pidana Umum. Itu bidang Pidana Khusus.

(K) Jadi bagaimana ketentuan didalam hukum untuk mengatur seandainya ada kasus seperti ini ?

(AHR) Sebenarnya bisa saja diproses hukum tapi wewenang penyidikannya tidak diberikan kepada Jaksa Pidana Umum. Tadinya memang sedikit-sedikit bukti yang mengarah ke praktek pemerasan itu. Tapi saya selaku Jampidum bilang, kami akan menangani yang memang menjadi porsi kami saja. Itulah yang dibilang harus bertugas professional, proporsional dan komprehensif. Pidana Umum tidak berwenang menangani kasus korupsi. Kalau ada informasi seperti itu maka yang akan menangani penyidikannya adalah Polisi, Jaksa atau KPK. Hasilnya, boleh disidangnya bersama-sama dengan kasus pembunuhan berencana ini.
 
 

(K) Oke, sekarang yang mau ditanyakan, apa arahan dari Pak Jaksa Agung Hendarman Supandji kepada Jampidum untuk menangani kasus Pak Antasari ?

(AHR) Pak JA meminta kasus ini ditangani secara professional & proporsional.

(K) Dengan adanya kasus pembunuhan berencana ini, apakah bisa membuat hubungan Kejaksaan dengan KPK menjadi bergesekan ? Ada benturan yang keras maksudnya ?

(AHR) Saya sebagai Jampidum mengantisipasi agar proses hukum kasus Antasari ini dijauhkan dari kemungkinan seperti itu. Salah satunya mengatur langkah-langkah yang menangani kasus ini.
 


(K) Bukan apa-apa Pak JAM, saat kasus ini disidik di Kepolisian saja, informasi yang keluar ke tengah masyarakat adalah seolah-olah terjadi benturan yang keras antara KPK dengan MABES POLRI. POLRI seakan dipojokkan dan patut dapat diduga ada upaya untuk menghambat POLRI melakukan tugas penyidikannya dalam kasus ini. Bagaimana tanggapannya Pak ?

(AHR) : Informasi itu salah. Pemberitaannya di media massa juga sebagian besar salah. Tidak ada kok yang namanya benturan, terutama di Pihak Kejaksaan Pokoknya istilah yang tadi itu, professional, proporsinal dan komprehensif. Kalau ketiganya dilaksanakan, tidak akan ada benturan.

(K) Pertanyaan terakhir, selaku pribadi sebagai seorang Jaksa … saat harus menangani kasus pembunuhan berencana yang sadis seperti ini dan notabene pelakunya dikenal baik oleh Pidana Umum, bagaimana perasaan Pak Jampidum ?

(AHR) Sulit untuk digambarkan karena ini mengenai perasaan. Prihatin tentu ada ya. Kami kan manusia biasa tapi kami melaksanakan tugas kewajiban Negara. Tapi satu hal, kami sependapat dengan penilaian banyak pihak bahwa kalau kasus semacam ini tidak ditangani secara tegas maka bisa menjadi preseden buruk di kemudian hari. Itu sebabnya saya sudah pesankan dari awal kepada Jaksa di Pidum ini, hati-hati dalam menangani yaitu ikuti dan laksanakan saja apa yang memang diatur dalam ketentuan hukum.

(K) Baik, terimakasih Pak Jampidum.

Tags: news, hukum, katakami, kejaksaan agung, nasrudin zulkarnaen, antasari azhar, jampidum abdul hakim ritonga …

Megawati & Rakyat Indonesia Bertanya Pada Obama & DUNIA, Mengapa Hak Politik Rakyat & Demokrasi Kami

  • Jul 9, 2009



TULISAN UTAMA DI WWW.KATAKAMI.COM :

Megawati & Rakyat Indonesia Bertanya Pada Obama & DUNIA, Mengapa Hak Politik Rakyat & Demokrasi Kami Ditindas Mati ?

Dimuat juga di WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM


Jakarta 9/7/2009 (KATAKAMI) Panggung perpolitikan Pemilihan Umum PILPRES 2009 telah usai. Hasilnya seperti yang sudah ditebak sebelumnya bahwa patut dapat diduga pihak tertentu memang masih sangat ngotot untuk bisa tetap melanggengkan kekuasaannya seperti zaman Soeharto. Kekuasaan memang ibarat kenikmatan yang paling nikmat. Kekuasaan sanggup membutakan mata hati, pikiran dan moralitas manusia.

Apa yang mau dibanggakan oleh TNI, POLRI, Badan Intelijen Negara (BIN), khususnya Kantor Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukkam) setelah patut dapat diduga mereka sangat sukses dan berhasil memenangkan dan mengamankan ambisi politik sang pimpinan yang ingin agar kekuasaannya beranak-cucu di negara demokrasi bernama Indonesia ?

http://nurulloh.kompasiana.com/files/2009/06/megawati-hs-agus-susanto.jpg

Apa yang mau dibanggakan oleh oknum-oknum militer dan POLISI yang bermasalah dengan hukum karena patut dapat diduga demi mengamankan diri mereka agar tidak tersentuh oleh jerat hukum maka dengan penuh pengabdian dan totalitas telah memudahkan kemenangan dalam PILPRES 2009 ?

Termasuk didalamnya, patut dapat diduga oknum POLRI Gories Mere telah dengan “idiot” eh “sok genius” menciptakan kemenangan ini yang patut dapat diduga dengan kejahatan Informasi dan Teknologi (IT) yang sangat kotor mengerikan.

Capres Megawati Soekarnoputri sangat prihatin atas adanya sikap tidak netral yang telah ditunjukkan dan dilakukan secara “berjamaah” oleh instansi-instansi penting di Indonesia.

“Apakah mereka pikir, ini adalah kesuksesan ? Dari sisi mana mereka menilai maka kemenangan ini disebut sebuah kesuksesan dari aparat-aparat yang tidak netral itu ? Apakah di hati mereka itu, sudah tidak ada rasa hormat kepada nilai-nilai demokrasi dan hak-hak politik rakyat ? Saya ingin tahu, apakah mereka yakin bahwa rakyat Indonesia ini bisa dibodoh-bodohi terus menerus ? Kasihan mereka” kata Megawati Soekarnoputri secara EKSKLUSIF kepada KATAKAMI.COM yang sepanjang hari Rabu (8/7/2009) berada di kediaman Megawati — baik saat berada di kediamanan jalan Kebagusan Jakarta Selatan atau di Jalan Teuku Umar Menteng Jakarta Pusat.

Jangan dipikir bahwa laporan-laporan dari daerah tidak masuk ke pihak Megawati dan Prabowo Subianto. Bayangkan, patut dapat diduga POLRI menjadi ujung tombak segala kecurangan di berbagai daerah.

Dan Megawati sudah memprediksi sejak awal bahwa keikut-sertaan dirinya sebagai CAPRES akan dijegal dan digagalkan dengan menggunakan KEJAHATAN TEKNOLOGI (IT).

“Kejahatan IT adalah ancaman paling serius dalam Pilpres 2009 ini. Saya tidak mengerti, mengapa seperti ini menegakkan demokrasi ? Tahun 2004, saya telah berhasil menggelar pesta demokrasi yang jujur, langsung, bebas, rahasia dan bermartabat. Presiden Jimmy Carter datang ke Indonesia untuk memantau Pemilu dan beliau juga bertemu langsung dengan saya. Presiden Jimmy Carter menyampaikan pemghargaan bahwa pemerintahan saya telah berhasil menggelar Pemilu pertama yang bersifat langsung. Pemilu apa ini yang sekarang ? Harusnya bisa lebih baik dari Pemilu yang dilakukan oleh pemerintahan saya tahun 2004. Ini justru mundur jauh ke belakang. Jauh lebih buruk dari Pemilu sepanjang Orde Baru yang sudah dapat kita tebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang,” lanjut Megawati.

Ketidak-netralan TNI, POLRI, BIN dan terutama Jajaran Kementerian Kantor Polhukkam sangat menyedihkan dan dikecam keras oleh Megawati.

“Saya ingatkan ya, rakyat itu tidak bodoh. Rakyat itu menilai. Sekarang ini pilihannya ada 2, mau melawan semua kecurangan yang sangat kotor ini dengan cara-cara kekerasan atau dengan jalur hukum ? Bukan sifat saya kalau menggunakan cara-cara kekerasan. Saya anti kekerasan. Tapi apakah mereka yang menjadi aparat itu siap kalau rakyat sudah tidak tahan dan memberontak terhadap semua kecurangan ini ? Apakah mereka menembaki rakyatnya sendiri ? Saya akan katakan, ayo coba tembak rakyatmu kalau berani ! Jangan sakiti rakyat Indonesia. Rakyat ini sudah lelah. Ini Pemilu yang penuh kecurangan” tambah Megawati yang berbicara dengan tenang dan sangat berkharisma.

Megawati memang benar.

Tidak seperti ini caranya jika ingin meraih kemenangan — termasuk jika ingin memperpanjang dan melanggengkan kekuasaan –. Hak politik rakyat mutlak untuk dihormati.

Saat penghitungan suara cepat sudah sangat tidak berimbang sejak awal penghitungan. Saat capres Megawati dan Muhammad Jusuf Kalla memulai penghitungan dengan hitungan awal 0 (nol) %, patut dapat diduga angka awal penghitungan dari pihak calon lainnya sudah langsung 50 %.

Bahkan, Barack Hussein Obama sendiri sebagai kandidat CAPRES AS tidak akan pernah bisa memenangkan “PRESIDENTIAL ELECTION 2008″ jika lawan politiknya mencuri start dan mencuri angka kemenangan sangat besar sekitar 50 % dari totalitas perolehan angka kemenangannya.

Dunia internasional dan khususnya AMERIKA SERIKAT kini berada di persimpangan di jalan.

Seiring dengan ucapan SELAMAT yang akan mereka sampaikan nanti, rakyat Indonesia akan menatap satu persatu pemimpin dunia itu dengan tatapan dan penilaian yang sangat menyakitkan hati.

Salahkah rakyat Indonesia jika mendambakan dan mengharapkan berjalannya atau tegaknya sebuah proses demokrasi secara benar ?

Salahkah rakyat Indonesia jika sudah sangat lelah dengan semua kekuasaan yang kotor dan sangat tidak berperikemanusiaan membunuh hak-hak politik rakyat ?

Salahkah jika saat ini rakyat Indonesia meratap dan menangisi ketidak-mampuan mereka melawan arogansi kekuasaan yang patut dapat diduga telah melakukan KEJAHATAN KEMANUSIAAN yang paling kotor di abad kekinian — 11 tahun setelah reformasi Indonesia ?

Terlalu kotor caranya jika kecurangan ini dilakukan secara BERJAMAAH oleh semua aparat pemerintah, terutama patut dapat diduga dilakukan TNI, POLRI dan BIN  — dibawah koordinasi Kantor Kementerian POLHUKKAM –.

Saat Iran rusuh pasca pelaksanaan PILPRES mereka, AMERIKA SERIKAT seakan cakar-cakaran untuk mendesak agar Presiden Obama cepat bereaksi menentang tercederainya nilai-nilai demokrasi disana. Tapi kini, AMERIKA SERIKAT dinantikan reaksinya oleh rakyat Indonesia secara keseluruhan ?

Politik kotor seperti inilah yang akan didukung oleh semua politisi muda sangat berkharisma sekelas BARACK HUSSEIN OBAMA ?

Sebelum Barack Hussein Obama menjawab “YA”, maka sudilah kiranya ia membayangkan bagaimana jika ia melaju dalam pertarungan PILPRES 2008 dulu … semua perangkat pemerintah di AS melakukan kecurangan yang sudah sangat kotor dan parah ?

Sebutlah misalnya, Dinas Intelijen CIA, Biro Investigasi Federal (FBI), Militer AS dan semua perangkat AS. Bagaimana perasaan dan kemarahan Obama jika langkah politiknya dijegal dengan cara-cara yang sudah sangat tidak manusiawi dengan kejahatan teknologi dan semua praktek kotor yang menistakan nilai demokrasi AS ?

Sebelum Barack Hussein Obama menjawab “YA” untuk mendukung hasil Pemilu yang patut dapat diduga sangat kotor dengan kecurangan BERJAMAAH seperti ini, ada baiknya kalau Obama mengenang semua sifat yang sangat indah, luhur dan mulia dari ibu yang melahirkan dirinya yaitu Almarhumah Stanley Ann Dunham.

Perempuan yang sangat cerdas dan kuat dalam membela kepentingan kaumnya.

Stanley Ann Dunham mengabdikan dirinya secara total untuk membantu kaum miskin dan papa, kalangan tak berdaya dan sebagian besar diantaranya adalah kaum perempuan. Termasuk INDONESIA, adalah sebuah negara yang menjadi tempat terbanyak bagi Stanley Ann Dunham untuk mengabdikan diri dan hidupnya demi kebaikan bagi sesamanya manusia.

Stanley Ann Dunham tidak akan pernah membiarkan satu detikpun dalam hidupnya dulu untuk membiarkan rakyat yang lemah tak berdaya itu semakin remuk digilas oleh zaman yang ganas. Ia habiskan hidupnya untuk mengunjungi banyak negara tetapi bukan untuk menikmati glamournya dunia. Melainkan untuk mengunjungi rakyat yang miskin dan papa.

Ia datang dengan ketulusan dan penghormatan yang penuh kepada nilai-nilai kemanusiaan. Ia datang dengan keiklasan yang sangat tinggi tingkat kemuliaannya untuk menunjukkan kepada kalangan perempuan dimanapun juga bahwa solidaritas sesama jender akan tetap terwujud tanpa mengenal batas ruang dan waktu.

Jika dengan segenap hati dan cinta yang ada di hatinya, Barack Hussein Obama mau mengenang sisi yang sangat mengagumkan ini dari figur ibu yang melahirkannya maka tak akan pernah Obama mau mendukung semua kejahatan kemanusiaan yang membunuh nilai-nilai kebenaran, hukum, HAM dan kemanusiaan di muka bumi ini.

Betapa sakit dan hancur rasanya sebentuk hati yang dimiliki oleh begitu banyak rakyat INDONESIA yang sudah dirampas dan ditindas hak-hak politiknya demi hawa nafsu kekuasaan pihak tertentu.

Seakan tak ada tempat untuk mengadu dan meminta pertolongan bahwa sebuah kebiadaban sudah semakin percaya diri untuk melahap habis nilai demokrasi dan kebenaran di negeri yang begitu elok bernama INDONESIA.

Tanah airku INDONESIA, meratap, menangis dan terhempas kembali ke titik terendah dalam berdemokrasi.

(MS)

Tags: news, barack obama, katakami, pilpres 2009, megawati soekarnoputri

Tontonan Babak Dua Debat Cawapres Ala Penilaian Idol & Ingat Pesan Megawati, AMANKAN SUARA RAKYAT

  • Jul 1, 2009

http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/img.php?nm=logo_mega-prabowo.jpg&type=thumbhttp://forum-politisi.org/i/JK-Win_Logo_1.jpg

TULISAN UTAMA DI WWW.KATAKAMI.COM :

Tontonan Babak Dua Debat Cawapres Ala Penilaian Idol Dan Ingat Pesan Megawati, “AMANKAN SUARA RAKYAT PADA PILPRES 2009 !”


Dimuat juga di WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM

Jakarta 1/7/2009 (KATAKAMI)  Persis sepekan menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Pemilihan Presiden (PILPRES) 2009, Selasa (30/6/2009) malam dilaksanakan Debat Cawapres yang ditayankan di media pertelevisian. Paling tidak, topik pendidikan dan kesehatan -- khususnya visi tentang perlu tidaknya memerangi rokok -- sangat mendominasi debat itu sendiri. Lumayanlah, paling tidak masyarakat Indonesia dapat menyaksikan "isi kepala" dari masing-masing kandidat Cawapres ini.

 

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ketiga kandidat Cawapres itu telah tampil dengan maksimal. Walaupun, tak ada bedanya debat itu sendiri dengan panggung festival permusikan kelas INSTAN di televisi yaitu pertarungan "IDOL". Seperti apapun HEBRING-nya si peserta IDOL, keputusan mutlak tentang siapa yang berhak menjadi pemenang IDOL adalah jumlah sms yang masuk.

Jadi ya, tak perlu kecil hati bagi siapapun kandidat itu yang perolehan SMS-nya jauh dibawah seorang kandidat yang perolehan SMS-nya menjulang tinggi bagaikan puncak gunung.

Bobot jawaban dari ketiga kandidat itu, relatif sangat BAGUS dan sama KUAT.

http://farm4.static.flickr.com/3408/3634510829_5f85788c69.jpg?v=0http://mardoto.files.wordpress.com/2009/05/jk_win.jpg

Malah kalau mau jujur, Jenderal Wiranto sebagai Cawapres dari Capres M. Jusuf Kalla, bisa tampil lebih rileks dengan senyum yang menandakan ia menguasai "KEMBALI" panggung debat itu. Wiranto mampu dan bisa dibilang sangat piawai untuk mensosialisasikan agenda dari pasangan JK - Win ini dengan slogan "LEBIH CEPAT LEBIH BAIK" dalam membawa Indonesia ke arah yang lebih mandiri dan lebih baik.

Tetapi, bukan berarti Prabowo Subianto gagal menguasai panggung. Latar belakang kemiliteran dari Mas Bowo yang adalah PASUKAN TEMPUR -- yaitu dari Pasukan Elite KOPASSUS -- membentuk karakter kepribadiannya tak bisa melepaskan dari kesan yang tegas.

http://www.republika.co.id/images/news/2009/01/20090129174937.jpghttp://data5.blog.de/media/181/3381181_3041187001_m.jpg

Dari isi jawaban yang disampaikannya, Mas Bowo juga berhasil membuktikan bahwa ia mengetahui banyak yang sangat mendasar di tengah masyarakat yaitu mana yang sangat merugikan rakyat dalam kehidupan nyata sampai saat ini dan apa yang kira-kira baik untuk dilakukan bagi kehidupan masyarakat. Agenda yang PRO RAKYAT memang ditawarkan pasangan Capres Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto.

Waktu yang berpacu akan segera mengantarkan bangsa Indonesia ke puncak pesta demokrasi tahun 2009 ini. Tepat tanggal 8 Juli mendatang, Indonesia akan menggelar Pemilu PILPRES 2009 untuk memilih siapa PRESIDEN berikutnya dari Indonesia dengan masa bakti kepemimpinan 5 tahun yaitu 2009 - 2014.

http://prabowosubianto.info/v2/wp-content/uploads/2009/06/logo_splash1.jpg

Dalam kampanye akbar terakhir di GELORA BUNG KARNO hari Selasa (30/6/2009) siang, Capres Megawati Soekarnoputri berpesan dengan lantang : "AMANKAN SUARA RAKYAT !".

Kata AMANKAN, adalah perintah resmi dari seorang Ketua Umum DPP PDI Perjuangan kepada seluruh massa fanatiknya di seluruh Indonesia. Dan sebagai HARAPAN, dari seorang pemimpin atau tokoh nasional yang akan maju ke panggul pertarungan PILPRES agar rakyat Indonesia sangat mewaspadai dan mengantisipasi segala bentuk KECURANGAN.

Ingat, kecurangan itu bukan sekedar fantasi, ilusi atau halusinasi. KECURANGAN itu nyata-nyata terjadi dan ada dalam catatan sejarah bangsa Indonesia yaitu saat pelaksanaan PEMILU LEGISLATIF 2009. Disana-sini terdapat kecurangan dan rakyat yang dirugikan seakan dipaksa untuk terima nasib.

Dari angka yang semula diperkirakan sekitar 40 juta rakyat Indonesia yang TIDAK BISA IKUT MEMILIH, langkah yang bijaksana adalah dengan mengikuti temuan resmi Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (KOMNAS HAM) bahwa ada 20 JUTA RAKYAT INDONESIA yang dirampas hak demokrasi / hak memilihnya pada Pemilu Legislatif 2009.

http://www.id.finroll.com/admin/modul/body/berita/images/pilpres_2009.bmp

Artinya, kecurangan yang penuh KELICIKAN itu terjadi hanya 3 bulan yang lalu.

Wajar, Megawati sudah dari jauh-jauh hari meminta semua pendukungnya, dan semua rakyat Indonesia untuk mewaspadai terulangnya kembali KECURANGAN-KECURANGAN itu. Tak usahlah ada yang gelap mata untuk memaksakan sebuah KEMENANGAN.

Vox Populi Vox Dei. Suara Rakyat Adalah Suara TUHAN.

Itu jugalah yang berlaku bagi prinsip-prinsip demokratisasi.

Hargai pilihan rakyat. Semua aparat pemerintah, yang patut dapat diduga bisa dan mampu menjungkir-balikkan nilai-nilai demokrasi harus diingatkan dari sekarang bahwa rakyat tidak akan tinggal diam kalau misalnya KECURANGAN-KECURANGAN yang sangat tidak bermoral akan terulang kembali.

http://data5.blog.de/media/873/3446873_295665001c_s.gif

Sekali lagi, hargai pilihan rakyat. TNI, POLRI, Badan Intelijen Negara (BIN), dan siapapun perangkat pemerintahan, tolong tunjukan itikat baik anda semua dengan satu permintaan : LAKSANAKAN TUGAS DENGAN MENJALANKAN NETRALITAS.

Saatnya Indonesia akan segera memilih pemimpin baru yang sungguh-sungguh diharapkan membawa negeri ini ke arah yang jauh lebih baik. Mata dunia akan terarah pada Indonesia persis pada tanggal 8 Juli 2009 mendatang.

Mampukah Indonesia menunjukkan dan membuktikan bahwa kita -- sebagai sebuah BANGSA -- sudah jauh lebih beradab, lebih dewasa dan lebih matang dalam berdemokrasi.

 

http://data5.blog.de/media/938/3412938_fa7416d2fc_s.gif http://data5.blog.de/media/937/3412937_b4a021649e_s.jpg

 

Atau, justru MUNDURRRR jauh sekali ke belakang.

Tentukan pilihan, demi Indonesia yang lebih baik.

Tentukan Indonesia, demi Indonesia yang lebih manusiawi.

Tentukan pilihan, demi Indonesia yang lebih santun dan lebih beradab.

Dengan satu muara pengabdian yaitu membawa rakyat Indonesia pada kehidupan yang mengubah total semua bentuk kehidupan menjadi murah, mudah, nyaman, aman dan ... tidak penuh kecurangan atau kemunafikan !!!

(MS)

Tags: news, katakami, boediono, jusuf kalla, pilpres 2009, wiranto, megawati soekarnoputri …

6 Bulan Pra Penutupan Guantanamo, Perkuat Dukungan Pada OBAMA

  • Jul 1, 2009

APTOPIX US GUANTANAMO BAY TRIBUNALS

Tulisan Utama di WWW.KATAKAMI.COM :

6 Bulan Pra Penutupan Guantanamo, Perkuat Dukungan Pada OBAMA Walau Sakit Latah Lawan Politik Kian Kronis (PS : Ora Et Labora, Barry)

Dimuat juga di WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM


Jakarta 30/6/2009 (KATAKAMI) Tak terasa 6 bulan sudah berlalu dari tahun 2009 ini. Artinya, 6 bulan ke depan adalah tenggat waktu bagi Presiden Barack Hussein Obama untuk merealisasikan penutupan penjara Guantanamo. Paling lambat, Januari 2010 penjara warisan Presiden "bermasalah" Bush itu harus segera ditutup -- sesuai dengan janji Presiden Obama di hari pertama ia resmi menjadi Presiden AS yang ke-44.

Memang tak mudah menjadi politisi muda yang berkharisma dan bertalenta besar seperti Obama. Disana-sini, ia mendapat batu sandungan yang sering sangat mengejutkan gaungnya. Bagaimana tidak terkejut, sebab terkadang isu atau topik yang tak ada relevansinya dengan Obama justru dipaksakan untuk menjadi alat pemukul bagi Obama.


http://a.abcnews.com/images/International/obama_ahmadinejad_090525_mn.jpg

Kekisruhan masalah politik di Iran misalnya. Jika ada sebuah negara yang gagal menegakkan proses demokratisasi di negara mereka sehingga timbul perlawanan yang "revosulioner", apakah itu menjadi tanggung jawab Obama ?

Apakah itu menjadi tugas pokok dari seorang PRESIDEN AMERIKA SERIKAT untuk secara cepat secepat-cepatnya direcoki, ditekan dan dicampuri ?

Semua pertanyaan ini, jawabannya sama yaitu TIDAK.

Presiden Obama jangan dikaitkan dan didorong-dorong untuk menjadi pemimpin yang bermulut ember yang secepat kilat menyambar berkoar-koar mencampuri urusan dalam negeri orang lain.

Tetapi, jika memang sudah tiba saatnya dan dianggap tepat untuk memberikan respon, Obama sudah dengan sendirinya memberikan pernyataan resmi.

Oke, mari sejenak kita ingat saat terjadi serangan militer Israel di jalur GAZA -- pasca serangan bertubi-tubi ratusan mortir HAMAS persis di malam natal 2008 --. Saat itu, Obama memang sudah menjadi Presiden Terpilih AS. Ia didorong-dorong dan seakan dipaksa untuk menganggap kabinet Bush tak berfungsi lagi sehingga perlu memberikan keterangan resmi.

Saat itu, kuatnya tekanan tetap tidak mengubah prinsip kepatutan dan kebenaran yang dipegang Obama. Walaupun ia memang Presiden Terpilih tetapi secara konstitusi PRESIDEN AMERIKA SERIKAT masih tetap di tangan George Walter Bush. Kalau Obama berbicara juga, maka akan tumpang tindih semua pernyataan yaitu ada atas nama Presiden AS dan ada juga atas nama Presiden Terpilih AS. Obama memilih untuk "tenang" walaupun sebenarnya ia sangat memonitor dari dekat perkembangan di Jalur Gaza.

Barulah setelah ia dilantik, atas nama Presiden AS ... Obama memberikan keterangan resmi terkait konflik bersenjata di Jalur GAZA.

http://www.aclu.org/safefree/detention/gitmo_logo_sm.gif

Yang belakangan ini terjadi di AS adalah gerakan-gerakan politik yang mulai tidak terkendali dari lawan-lawan politik Obama di partai "seberang".

Ditolaknya anggaran penutupan penjara Guantanamo (GITMO) dan baru-baru ini kecaman keras karena Obama tidak mau terlalu dini "berbicara keras" mengenai kekisruhan politik di Iran. Didalam dunia ini, memang tidak ada yang abadi sebab yang abadi itulah hanyalah kepentingan. Termasuk kepentingan politik (sesaat).

Tetapi  apakah lantas, atas nama kepentingan politik dari partai Republik maka semua isu apa saja dihalalkan untuk "menghajar" Obama ?

Serangan politik sepertinya sudah tidak rasional lagi.

 http://npram.com/images/100_743_US_Flag_animated.gif

Nasionalisme sebagai rakyat AS, seakan sudah tidak ada di dada para politisi partai Republik. Mereka seakan menikmati kalau berhasil menciptakan batu sandungan atau mempermalukan Obama.

Entah dari sisi mana dari semua manuver politik itu, yang pantas disebut KENIKMATAN. Sebab, sama sekali semua manuver politik itu bukanlah KENIKMATAN.

Mata dunia menyaksikan bahwa ada indikasi permainan-permainan politik yang mesti segera diluruskan. Seharusnya, atas nama rasa KEBANGSAAN siapapun juga dan berasal dari partai politi atau golongan apapun juga, semua mesti sepakat mendukung Presiden mereka.

Obama dipilih oleh mayoritas rakyat AS untuk menjadi Presiden AS dan bukan untuk menjadi Presiden di negara lain. Sehingga dengan sendirinya, harus rakyat AS jugalah yang wajib membangun, memelihara dan terus memperkuat dukungan untuk Obama dalam melaksanakan kabinet pemerintahannya.

Belum apa-apa. sudah digedor-gedor dan diserang sana-sini. Dan yang menggedor atau menyerang itu, anehnya dari dalam negeri AS sendiri -- khususnya dari lawan politik yang memang sudah kalah pada penyelenggaraan Pemilu Pilpres AS bulan November 2008 --.

Belum ada perkembangan terbaru yang keluar dari WHITE HOUSE (Gedung Putih) terkait rencana penutupan Guantanamo -- pasca penolakn anggaran penutupan GITMO --.

Memang, Obama pernah sekilas mengatakan akan tetap melaksanakan rencana penutupan itu.

Yang jadi pertanyaan adalah, darimana anggaran yang bisa dialokasikan dalam kabinet Obama untuk membiayai rencana penutupan GITMO ? Apakah ada pos anggaran yang "siap setiap saat" untuk digeser menjadi anggaran penutupan GITMO ? Kalaupun ada anggaran di bidang lain yang bisa "dipinjamkan dulu" untuk menalangi dana penutupan GITMO, apakah itu tidak akan mengganggu pos anggaran bidang lainnya ?

Masih perlu kesabaran untuk bisa mengetahui apa saja langkah dan kebijakan Obama yang akan diambilnya untuk mengatasi semua ini.

http://www.timesonline.co.uk/multimedia/archive/00430/obama_bush_pano_430769a.jpg

Penutupan GITMO, adalah sesuatu yang pasti akan dilaksanakan. Walaupun ada suara-suara yang memojokkan dari mantan-mantan pemimpin yang sudah berlalu masanya. 

Sok sinis dan sok mencerca. Sok tahu dan sok mengecam.

Perang melawan teror, bukan dengan cara melakukan kejahatan kemanusiaan yang brutal dan jelas-jelas melanggar hukum.

Perang melawan teror, bukan dengan cara memaksakan sesuatu yang salah dan fatal -- sehingga kehormatan dan martabat AS juga menjadi guncang dan ikut terkorbankan selama ini.

Bukan begitu caranya jika ingin melindungi rakyat AS.

http://brightcove.vo.llnwd.net/d7/unsecured/media/44140130/44140130_17110605001_0320dv-pol-obama-iran-SJ-s260608AT1VW104.jpg

Satu hal yang sangat mendasar untuk disadari oleh para mantan pemimpin yang sudah berlalu masanya, cara terbaik untuk melindungi rakyat AS dari serangan teror adalah dengan memberikan dukungan kepada kabinet Obama.

Dukung Obama melaksanakan program dan kebijakan terbaiknya sehingga realisasi dari semua pelaksanaan program dan kebijakan itu akan segera dirasakan hasil terbaiknya oleh rakyat AS.

Presiden Obama harus sangat cermat melaksanakan penutupan penjara GITMO.

Anggaran yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Obama harus memastikan bahwa anggaran yang akan digunakannya untuk menutup penjara GITMO -- pasca ditolaknya anggaran itu -- harus anggaran yang benar-benar aman untuk digunakan kabinet Obama.

Artinya, janganlah nanti justru jadi amunisi baru bagi lawan politik untuk memojokkan Obama. Serangan-serangan politik itu, sudah sangat tidak sehat karena modusnya selalu sama yaitu menggelindingkannya ke permukaan untuk diperbesar gaungnya di media massa.

Langkah penting Obama melaksanakan rencana penutupan penjara GITMO, sudah saatnya lebih diintensifkan pemantauannya oleh Obama. Ia harus memastikan secara langsung, bahwa perangkat keamanan yang bertugas di lapangan untuk pelaksanaan penutupan ini memang secara berkesinambungan terus melakukan persiapan-persiapan penutupan. Apalagi ini melibatkan juga peran sejumlah negara.

Sistem yang bekerja harus sangat cerdas memanfaatkan sisa waktu yang tersedia. Semua hambatan atau kendala yang masih ada, jangan disembunyikan atau ditunda pelaporannya kepada masing-masing atasan atau pejabat yang bertanggung-jawab untuk menanganinya.

Obama tak perlu berkecil hati atau terganggu jika lawan-lawan politiknya sedang kumat atau terus kambuh dari penyakit kronis kelatahan.

Latah memojokkan. Latah menghambat. Latah mencemooh. Dan latah menyindir.

Sebab sebenarnya, Obama tetap sangat kuat mendapatkan dukungan darimana saja. Cuma, karena lawan-lawan politik itu -- namanya juga POLITISI ULUNG YANG LICIK -- tahu cara terbaik untuk membesar-besarkan gaung dari penyakit latah mereka tadi yaitu memanfaatkan media massa, maka seakan-akan Obama kehilangan dukungan.

Padahal tidak samasekali.

http://www.monasterygreetings.com/productimages/item2568_ora_plaque.jpg

Waktu dan jalan masih sangat panjang bagi Obama untuk melakukan yang terbaik bagi bangsanya, bagi rakyat AS, dan bagi DUNIA.

Dan Obama, pasti ... memang akan melakukan yang TERBAIK untuk semuanya itu. Obama juga, pasti ... akan mampu melakukan yang TERBAIK.

Jangan ragukan kemampuannya.

Justru, perkuatlah dukungan agar kemampuan yang menjadi talenta besar dalam diri Obama bisa lebih memaksimalkan apa saja yang terbaik yang bisa dilakukan dalam masa pemerintahannya ini.

PS : Ora Et Labora, Barry !

 

(MS)

LAMPIRAN :

Ketegaran Hati Obama Diuji Oleh Arogansi Rezim Lalu Dan Kini Ada Panggung Lawak Senator Yang Menampik Anggaran Penutupan “Gitmo” Guantanamo

 


Jakarta 23/5/2009 (KATAKAMI) Jujur saja, dari semua pemimpin dunia yang saat ini memerintah, posisi dan kedudukan Presiden AS ke-44 Barack Obama adalah yang paling “kurang nyaman”. Bukan karena Obama menunjukkan ketidak-mampuannya memimpin atau melakukan kesalahan. Sama sekali bukan ! Obama tetap Obama yang berpikir, bertindak & terus bekerja secara sangat cerdas.

Ia tetap menjadi dirinya, melakukan apa yang dijanjikannya semasa kampanye dulu dan terus melakukan hal-hal yang memang sangat baik untuk kepentingan negaranya. Bahkan di tataran internasional, ia — didukung Hillary Clinton dan perangkat pemerintahan Amerika lainnya, termasuk tentunya didukung Dinas Rahasia CIA dan FBI –, Obama justru mendapat dukungan yang sangat signifikan.  

Pemimpin dunia yang selama puluhan tahun dendam kusumat dan darah tinggi kepada AS, mencair dan menghangat sikapnya karena gaya politik Obama yang bersahaja. Ia tak mengemis dan pantang merendahkan diri hanya untuk mendapat dukungan, apresiasi atau “senyuman” dari musuh-musuh besar AS.

Tetapi dengan caranya, Obama berani tampil dan mengubah sejumlah kebijakan yang selama ini sangat mempersulit posisi AS.

Dan mengapa dibagian atas tadi, kami sebutkan posisi Obama yang paling kurang nyaman dibandingkan para pemimpin dunia lainnya ?

Ya, sebab Obama menerima warisan setumpuk permasalahan yang sangat buruk dan memusingkan kepala dari presiden sebelumnya yaitu George Walter Bush.

Apa yang membanggakan dari pemerintahan Bush, jika dikaitkan dengan dampak hebat terhadap harkat, martabat dan kehormatan AS sebagai sebuah bangsa ? Lihatlah kebijakannya mendirikan penjara Guantanamo (GITMO) !

Apa yang bisa dijelaskan sekarang oleh Bush, mantan Wapres Dick Cheney dan anggota Kongres AS yang pada pekan ini menolak pengajuan anggaran untuk penutupan penjara Guantanamo.

Dari segi angka, anggaran yang diminta tidak terlalu besar untuk sebuah rencana yang “besar”. Anggaran yang diajukan hanya US 80 juta. Sehingga, ketika anggaran ini ditolak maka yang patut dipertanyakan kepada Bush, Cheney, dan Kongres AS yang menolak anggaran itu adalah apa maksud dan keinginan mereka sekarang ? Dan anehnya, walaupun menolak anggaran untuk penutupan penjara Guantanamo, tetapi Senat Amerika telah menyetujui 91,3 miliar dolar rancangan pengeluaran yang akan membiayai operasi militer di Afghanistan dan Irak.

Para Senator meluluskan rancangan itu hari Kamis (21/5/2009) dengan suara 86 lawan 3.

Sebagian dana itu akan digunakan untuk meningkatkan jumlah tentara di Afghanistan — satu prioritas Presiden Barack Obama. Tetapi, penolakan dana untuk Guantanamo dapat menimbulkan pertentangan dengan presiden, yang telah bertekad untuk menutup sarana itu sebelum awal tahun depan.

Seperti yang dilaporkan Radio Voice Of America (VOA), rancangan Senat itu harus direkonsiliasi dengan 95,7 milyar dolar rancangan pembiayaan perang Dewan Perwakilan Rakyat, sebelum rancangan terakhir dapat diajukan ke Gedung Putih untuk mendapat persetujuan.

Bush dan Cheney, sebaiknya “tutup mulut” dan banyak merenung pada saat ini !

Tidak pantas jika duet kepemimpinan yang sangat amat buruk citranya di mata rakyat AS dan dunia internasional ini, masih banyak bacot alias ngoceh saja mengkritik kebijakan Obama menutup penjara Guantanamo.

Besarnya hujatan dari dunia internasional akibat dampak-dampak hukum, HAM dan kemanusiaan yang timbul dibalik kemisteriusan penjara Guantanamo, adalah dosa yang tak termaafkan dari duet Bush dan Cheney.

Dan sebaiknya, Obama — atau siapa di AS — perlu sangat menyadari bahwa apapun yang terjadi di Guantanamo selama ini yang menjadi pemicu kritikan dan hujatan di bidang hukum, HAM dan kemanusiaan — semua itu bukan salah prajurit militer, petugas atau penyidik yang ada di Guantanamo.

Kesalahan dan tanggung-jawab secara total menyeluruh ada pada Bush dan Cheney !

Sentral utama dari semua kesalahan dan tanggung-jawab itu harus dituntut dari kedua orang ini. Sehingga, Obama dan rakyat AS harus bertanya kepada kedua orang ini, apa mau mereka sekarang setelah semua dampak yang ditimbulkan oleh penjara Guantanamo menjadi sangat TIDAK kondusif bagi AS.

Bush dan Cheney, termasuk juga Senator-Senator yang menolak anggaran penutupan itu , jangan menganggap bahwa mereka adalah pihak yang paling benar, paling tahu dan paling berhak menentukan kemana arah penanganan terorisme demi “NATIONAL SECURITY” atau keamanan nasional bagi AS.

Semua ada masanya, begitu dinasehatkan oleh orang yang bijak.

Ada masa untuk mengatas-namakan perang melawan teror agar bisa melakukan invasi ke sejumlah negara dan “menghajar” siapa saja yang dianggap terkait urusan terorisme.

Tetapi sekarang, ada masa untuk memulihkan dampak dari berbagai kebijakan yang salah kaprah dari pemerintahan Bush dan Cheney. Dan yang menerima warisan tak sedap dari Bush dan Cheney adalah Obama !

Sebenarnya, kalau Obama punya sedikit saja “keisengan atau ketegaan” maka biarkan saja Bush dan Cheney mempertanggung-jawabkan semua kebijakan mereka yang nyata-nyata salah serta melanggar hukum, HAM dan kemanusiaan. Tidak usah dilindungi atau ditutupi.

Mungkin, Bush dan Cheney lupa bahwa saat ini yang memegang kendali dan otoritas penuh untuk mengakses semua data dan dokumentasi kerahasiaan negara ada ditangan Presiden Obama.

Untung Bush dan Cheney hidup di AS sana. Coba kalau mereka hidup di Indonesia sini, maka keduanya tidak bakal bisa hidup tenang dan ongkang-ongkang kaki mengkritik pemerintahan baru. Mereka bisa didemo dan “dihajar” habis-habisan di semua media massa.

Sebab agak aneh dan lucu, jika ada pihak yang menjadi sumber permasalahan dan biang kerok dari munculnya kebijakan yang tidak populer bagi sebuah bangsa sebesar AS, sekarang ini masih punya kepercayaan diri dan begitu nyaring suaranya mengkritik pemerintahan baru yang sangat amat berat tugasnya membereskan semua permasalahan yang timbul akibat “kegilaan” Bush dan Cheney menangani terorisme.

Dan patut dapat diduga, ini adalah permainan politik tingkat tinggi dari lawan politik Obama yang terkalahkan dengan sangat telak pada Pemilihan Presiden bulan November 2008 lalu.

Mengapa disebut permainan politik tingkat tinggi ?

Ya, sebab keputusan menutup penjara Guantanamo adalah kebijakan pertama yang dikeluarkan Presiden Obama pasca pelantikannya bulan Januari lalu. Sehingga, kalau kebijakan maha penting ini menjadi awut-awutan dan terguncang karena tidak adanya persetujuan dalam hal anggaran maka akan mempermalukan Obama.

Tahukah mereka — jika benar dibalik ini semua ada permainan politik tingkat tinggi — bahwa jika patut dapat diduga ada lawan politik yang pro pada rezim dan partai politik yang menjadi “rumah” Presiden George W. Bush ingin mempermalukan Presiden Obama, maka satu hal yang penting disadari bahwa Obama bukan lagi Obama yang dulu.

Obama yang sekarang, adalah pemimpin AS yang sah dan konstitusional.

Obama yang sekarang, adalah ikon dan lambang kedigdayaan AS.

Sehingga, salah besar jika permasalahan negara dicampur-aduk dengan dendam politik atau sikap keras kepala yang terkontaminasi dengan sikap sok tahu, dari sisa-sisa kesombongan yang masih melekat pada Bush, Cheney, pendukung mereka dan Anggota Kongres AS yang tidak menyetujui anggaran penutupan penjara Guantanamo.

Kalau sudah kalah, ya terima saja kekalahan.

Dan harus satu antara kata dan perbuatan.

Jika memang memang sudah kalah, sportif memberikan ucapan selamat dan mengakui kemenangan Obama, maka sepanjang Obama memerintah wajib hukumnya bagi siapapun juga yang menjadi lawan politik Obama untuk memberi dukungan terhadap apapun kebijakan yang positif bagi AS.

Bush dan Cheney, harus malu kepada semua prajurit AS karena akibat kebijakan pemerintahan yang lalu di AS maka penterjemahan pada pelaksanaan taktis dan teknis di lapangan seputar penanganan terorisme menjadi simpang siur.

Sehingga, yang harusnya diakui disini adalah kesalahan soal penanganan terorisme (apapun bentuk kesalahannya), maka itu bukan kesalahan CIA, militer AS atau siapapun yang terkait dalam semua kebijakan keamanan sepanjang Bush menderita sakit paranoid kelas akut dalam menangani terorisme.

Tidakkah disadari, bahwa jiwa raga dikorbankan oleh prajurit-prajurit AS di berbagai medan pertempuran, hanya untuk memuaskan dan menjadi tempat pelampiasan sakit paranoid kelas akut yang diderita Bush ?

Dan soal Guantanamo, inilah yang justru termasuk kesalahan fatal dari Bush.

Jika penjara ini tidak ditutup, lalu apa formula penyelesaian yang oleh Bush dan Cheney dianggap paling baik agar penegakan hukum dalam penanganan terorisme itu tidak menerapkan hukum rimba yang menghalalkan praktek kekerasan ? Coba ditanyakan kepada Bush dan Cheney, apa formula terbaik yang menurut mereka perlu dilakukan ?

Jika mereka tidak menjawab, bagaimana kalau diterapkan cara bertanya dengan metode “WATER BOARDING” yaitu kepala mereka dibenamkan dalam air sampai megap-megap, agar mereka mau menjawab !

Ya, sebab kedua pemimpin ini sudah sangat keterlaluan.

Ketika mereka menjabat dan memerintah, otomatis seluruh perangkat keamanan harus mampu dan dituntut menterjemahkan secara cepat “perintah” dari panglima tertinggi mereka yang sakit paranoid kelas akut tadi.

Ternyata pemerintahan berganti di AS dan partai politik yang menjadi “kendaraan” politisi-politisi yang serumpun dengan Bush, kalah telak pada Pemilihan Presiden AS. Sudah sepantasnya, apapun juga langkah dan kebijakan yang diambil oleh Presiden Obama demi kepentingan rakyat AS memang harus terus didukung.

Kongres AS ibarat sedang melawak diatas panggung perpolitikan.

Anggaran untuk Irak dan Afghanistan disetujui, tetapi anggaran untuk penutupan penjara Guantanamo tidak disetujui. Entah dimana kecerdasan berpolitik dan moralitas para Senator ini, jika dalam memandang permasalahan sangat pelik — dimana situasi dan kondisi riil di penjara Guantanamo — sudah tak memungkinkan untuk dipertahankan.

Kongres AS ibarat sedang kurang kerjaan dan kurang lahan untuk mencari sensasi.

Akhirnya, yang mau dijadikan sasaran tembak justru Presiden Obama.

Sangat tidak pantas jika seorang presiden yang nyata-nyata sedang berusaha memulihkan dan menyelesaikan persoalan berat yang diwariskan pemerintahan yang lalu, justru dijegal dengan cara seperti ini.

Presiden Barack Obama sendiri sudah menyampaikan dalam pernyataannya baru-baru ini bahwa ia tetap akan menutup penjara militer Amerika di Teluk Guantanamo, Kuba, meskipun ada berbagai kritik di Amerika.

Dalam pidato yang disiarkan televisi secara nasional, Obama mengatakan ia akan menutup kamp tahanan Guantanamo yang diwariskan kepada dirinya mulai menjabat empat bulan lalu.

Obama mengatakan sebagian dari 240 tahanan yang menunggu proses pengadilan akan dikirim ke penjara-penjara Amerika dengan pengamanan sangat ketat dan nantinya akan diadili dalam pengadilan sipil, sementara lainnya akan menghadapi pengadilan militer.

tyle-span”>Menurut Obama, pemerintahannya telah menyetujui pengiriman 50 tahanan ke negara-negara lain.

Lalu, menanggapi semua ini muncul komentar sinis dari mantan presiden Dick Cheney mengatakan dalam pidato hari Kamis di Washington bahwa keputusan Obama untuk menutup pusat tahanan itu dibuat dengan – dalam kata-katanya – “sedikit pertimbangan dan tanpa rencana”.

Kalau kami yang jadi Presiden Obama, maka harusnya dilayangkan pertanyaan sederhana kepada Dick Cheney, “What the hell are you talking about ? Shut up !”.

Komentar sinis itu ibarat tong kosong yang nyaring bunyinya. Sebab, rezim yang menyebabkan seluruh dampak buruk yang kini dihadapi AS, justru masih berani “berbunyi”.

Tetapi yang kini harus dilakukan Presiden Obama adalah tak gentar dan tak surut dalam melaksanakan kebijakan yang telah diambilnya dengan pertimbangan, kecermatan dan memegang teguh prinsip kehati-hatian demi tegaknya hukum, HAM dan kemanusiaan.

Sebagai seorang politisi, Obama tentu sudah menyiapkan dirinya untuk melewati “kerikil-kerikil tajam” yang memang biasa terjadi didalam kehidupan siapapun juga di dunia ini.

Obama, harus tetap menjadi pribadi bermental baja dan meyakini bahwa misi apapun yang diembannya untuk kebaikan bangsa, negara dan rakyat AS, sepanjang membawa misi kebaikan maka akan selalu ada jalan untuk mewujudkannya.

(MS)

Tags: world news, barack obama, guantanamo, gitmo

Berpulangnya Superstar Layak Dikenang (In Loving Memory Michael Jackson, Gone But Never Forgotten)

  • Jun 29, 2009


http://image.blingee.com/images15/content/output/000/000/000/49d/318338493_317770.gif


Dimuat juga di WWW.KATAKAMIINDONESIA.WORDPRESS.COM


Jakarta 29/6/2009 (KATAKAMI) Barangkali kalimat bijak ini dikenal oleh hampir semua orang yaitu “Kelahiran, Perjodohan dan Kematian Manusia Ada Di Tuhan”. Artinya, manusia boleh merencanakan apa saja tetapi Tuhan yang menentukan. Kabar kematian mendadak “KING OF POP” Michael Jackson pada Kamis (25/6/2009) waktu Los Angeles dalam usia 50 tahun.

Perkembangan terbarunya saat ini — seperti yang dilaporkan Antara News — keluarga Michael Jackson berharap agar dilakukan otopsi independen seiring kekecewaan dan kemarahan yang meningkat mengenai saat-saat terakhir hidup tragis bintang musik pop tersebut. Sambil menunggu rencana pemakaman, keluarga Jackson berkumpul di kompleks mereka di Encino, pinggir utara kota Los Angeles.

 

Akhir pekan lalu, otopsi awal atas atas jenazah “Jacko” belum tuntas dan penyebab akhir kematiannya belum bisa diketahui sampai pemeriksaan toksikologi secara mendalam diselesaikan dalam waktu enam sampai delapan pekan.  Jenazah Jacko diserahkan kepada keluarganya Jumat (26/6/2009) malam, dan disemayamkan di satu tempat yang tak disebutkan.

Pegiat dan politik kenamaan AS Pendeta Jesse Jackson, yang tak memiliki hubungan keluarga dengan bintang pop tersebut, mengatakan pada acara ABC “Good Morning America” bahwa ia pada Jumat telah memberi penyuluhan kepada keluarga Jackson di tempat tinggal mereka.

Hari Minggu kemarin, pihak Keluarga memang sedang melakukan pengaturan pemakaman bagi bintang musik yang meninggal secara tragis itu, sementara polisi dilaporkan menyatakan dokter sang bintang itu “bersih” setelah menanyai dia untuk kedua kali.

Anggota keluarga Jackson dijadwalkan bertemu dengan Pendeta Al Sharpton guna membahas rencana upacara pemakaman  sang bintang yang berusia 50 tahun itu.

Sharpton mengatakan keluarga Jackson sedih dengan laporan media mengenai kematian Jackson yang telah dipusatkan pada masalah pribadi sang bintang seperti tuduhan pelecehan terhadap anak-anak, kemelut keuangan dan perjuangan dengan obat yang diresepkan.

“Mereka ingin saudara mereka diperlakukan dengan layak. Mereka memberitahu saya, `Anda harus tampil  dan membela Michael`,” kata Sharpton kepada New York Daily News.

Michael Jackson memang sebuah penyanyi dunia yang sangat fenomenal. Simaklah semua karya-karya musiknya, terutama saat ia membawakan itu diatas panggung-pangguh megah pertunjukan di berbagai belahan dunia.

Ada sebuah daya magis keindahan yang terkandung karya-karya musik SANG RAJA POP ini.

Daya magis yang konotasinya sangat positif yaitu dampak yang didapat oleh siapapun yang menikmati karya-karya musiknya, pasti memiliki penilaian yang sama bahwa lirik dan suara Jacko saat melantunkan lagu-lagunya sempurna keindahan serta kemerduannya.

Dan berpulang pada para penggemar berat (fans) serta warga dunia yang memang menikmati karya-karya musik Jacko, dari sudut pandang mana ingin mendapatkan hiburan.

Kualitas uara, kekuatan lirik atau performa gaya panggung. Paling tidak dari ketiga faktor itu, Jacko tetap pantas untuk disebut sebagai MAESTRO. Detik pertama saat kabar kematian ini tersebar ke seluruh dunia, berita kematian Jacko menjadi berita utama diseluruh media massa manapun di berbagai belahan dunia. Lagu-lagunya kembali dicari, didengar dan dinikmati secara lebih intensif.

Jika pada perkembangannya, seluruh pemberitaan yang ada pasca kematian JACKO memang bobotnya lebih besar pada pemberitaan dari SISI NEGATIF atau AIB dari JACKO semasa hidupnya, wajar dan sangat manusiawi jika itu menyakiti dan melukai perasaan keluarga besarnya.

Menjadi seorang “SUPERSTAR” sekelas Michael Jackson memang sempurna dan mengagumkan secara luar biasa dalam karya musik serta aksi-aksi panggungnya.

Tapi, pada kehidupan nyata yang dijalani JACKO sepanjang masa hidupnya selama 50 tahun, mayoritas agak kurang enak didengar. Namun setiap manusia, entah itu manusia biasa atau kalangan petinggi, pembesar, pejabat, selebriti dan kalangan “VVIP (Very Very Importan Person), siapapun juga umat manusia didunia semua pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Itu yang harus disadari dulu.

Tidak ada manusia yang sempurna sesempurna mungkin karena KESEMPURNAAN SEJATI ada pada Sang Pencipta.

Pihak keluarga tidak kuat dan tidak tahan lagi menerima semua kenyataan yang semakin tak sedap pasca kematian JACKO. Disana-sini, mungkin yang mereka baca, lihat dan dengar adalah pemberitaan yang sangat buruk tentang JACKO.

Tapi media massa juga tak bisa disalahkan begitu saja. Sudah lazim bagi semua media massa, jika ada “TOKOH” yang figurnya dikenal luas oleh masyarakat, maka wajib hukumnya untuk mengulas obituari atau perjalanan hidup dari si “TOKOH” tadi.

http://i717.photobucket.com/albums/ww171/trustngo/sheets%20pics/michael-jackson.gif

 

Sehingga, ketika seorang Michael Jackson diberitakan meninggal dunia secara mendadak maka otomatis, kalangan jurnalis manapun diseluruh dunia akan bergerak cepat — bahu membahu — untuk merangkum semua data, informasi, foto, video, dan perkembangan terakhir yang bisa disajikan kepada masyarakat.

Semua media, pasti akan otomatis membuka file lama dan seluruh dokumentadi dengan cara apapun untuk melengkapi pemberitaan seputar JACKO. Secara kebetulan, dalam perjalanan hidup yang selama ini memang dialami MICHAEL JACKSON, ada banyak hal yang berbau sensasi dan kontroversi.

Media massa tidak bisa dan tidak mungkin sengaja “menghilangkan” bagian-bagian yang negatif penuh aib dari Michael Jackson. Seluruh sajian berita memang harus apa adanya.

Tetapi, lebih bijaksana jika dibuat berimbang atau proporsional. Tidak ada menghadirkan sisi buruk yang memalukan, menyedihkan dan memprihatinkan. Tetapi, sisi baik dari JACKO sudah benar-benar ditampilkan secara berimbang dan proporsional.

Michael Jackson, kini menjadi legenda yang dari album kehidupan kita semua.

Cara ia menyanyi sejak kecil, kualitas suaranya yang sangat merdu dan indah sekali, lirik-lirik lagu dari karya-karya musiknya selama ini yang juga sangat amat indah, serta gaya panggung yang atraktif dan memukau. Untuk mengantar dan melepas kepergian superstar yang menderita kanker kulit semasa hidupnya ini, rasanya memang harus bijaksana.

http://michael-jackson.ro/images/michael-jackson.asp14028img1.jpg

Kenanglah ia semerdu suara dan seindah lagunya.

Kenanglah ia seindah misi baik yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam sejumlah lagu yang dibawakannya.

Jika ada manusia yang “kesulitan” untuk menikmati bahwa memang benar suara JACKO merdu dan lagu-lagunya indah dalam arti yang sesungguhnya, maka manusia jenis ini yang patut dipertanyakan — bahkan dikasihani –.

Sebab pada kenyataan, lagu-lagu Michael Jackson memang enak untuk didengar dan dinikmati. Bahkan, bisa disesuaikan dengan “selera” dari orang yang mendengar, apakah mau mendengar lagu Michael Jackson yang dinamis atau yang syahdu mendayu-dayu.

Dan tak benar jika dari seluruh perjalanan hidupnya, melulu hanya terisi dengan hal buruk. Misalnya saat ia diminta untuk ikut ambil bagian menyanyikan lagu “WE ARE THE WORLD”, Jacko dengan sangat murah hati bersedia merelakan hasil pembelian album itu untuk disumbangkan kepada anak-anak yang miskin di Afrika.

Amal dan perbuatan baik, jika memang itu dilakukan dan diberikan setulus hati maka Tuhan pasti punya penilaian yang sangat agung dan luhur.

MICHAEL JACKSON, telah berpulang ke hadirat Ilahi. Walau kini tiada, ia tak akan pernah dilupakan karena keindahan itu memang kuat melekat dalam lagu-lagu.

Indah didengar.

Indah dirasakan.

President Barack Obama delivers remarks on a new regulatory reform plan, 17 Jun 2009, at the White House

Misalnya saja pada lagu HEAL THE WORLD. Lagu ini bahkan pernah menjadi inspirasi tersendiri bagi KATAKAMI untuk membuat sebuah tulisan terkait komitmen Presiden Barack Hussein Obama dalam konsistensi Amerika Serikat dalam perang melawan narkoba, yang berjudul : “KEBANGGAAN DUNIA PADA OBAMA MENGUAT, DARI MEKSIKO OBAMA TEGASKAN KELANJUTAN PERANG TERHADAP NARKOBA (HEAL WORLD, MAKE IT BETTER PLACE, MR OBAMA.

Presiden Barack Obama secara pribadi — seperti yang dilaporkan Radio Voice Of America — telah mengirimkan ucapan belasungkawa atas wafatnya Michael Jackson. Obama menilai JACKO adalah sosok yang spektakuler tetapi menjalani kehidupan yang tidak menggembirakan.

Michael Jacson, tidak menyadari bahwa dirnya — lewat karya-karya musiknya — telah mampu menjadi INSPIRASI yang menyentuh hati pada diri orang lain untuk kepentingan yang baik.

REST IN PEACE, JACKO !

IN LOVING MEMORY OF YOU, GONE BUT NEVER FORGOTTEN.

(MS)

 

LAMPIRAN :

Kebanggaan Dunia Pada Obama Menguat, Dari Meksiko Obama Tegaskan Kelanjutan Perang Terhadap NARKOBA (Heal The World, Make It Better Place, Mr Obama)


http://germainelawrence.org/services/images/heal_the_world.jpg

 

JAKARTA 17 APRIL 2009 (KATAKAMI) Persis tanggal 20 April mendatang, Presiden Barack Obama memasuki bulan ke-3 memerintah di Amerika Serikat. Pemimpin muda yang tak cuma membuat rakyat AS saja yang terkesima atas kecerdasannya.

Tahun 2007 silam, saat dimana INDONESIA belum begitu “welcome” terhadap figur Obama yang sudah mengumumkan bahwa dirinya akan melangkah maju pada Pilpres AS 2008, Pemimpin Redaksi KATAKAMI telah meyakini bahwa Obama akan memenangkan pertarungan itu.

Sehingga, sejumlah petinggi di negara ini (yang tak usah kami sebutkan namanya), mendapat pemberian sederhana dari Pemimpin Redaksi KATAKAMI yaitu buku biografi Barack Obama yang sudah mulai dijual di Toko Buku Gramedia. Kami memberikan buku itu sebagai alternatif bacaan tentang akan munculnya seorang pemimpin baru yang relatif berusia muda di blantika perpolitikan AS.

Barangkali saat memasuki tahun 2007, banyak orang yang belum yakin bahwa Obama punya kans yang besar untuk menang. Tapi kami mempunyai firasat yang baik bahwa pemimpin muda yang satu ini memang akan memenangkan pertarungan politik di AS. Ia bukan cuma seorang orator yang ulung. Tetapi dari setiap kalimat yang diucapkannya, ada daya tarik yang bagaikan magnet akan menarik perhatian dan kepercayaan dari siapa saja yang mendengarnya.

Bahkan, dalam hitungan waktu yang mundur ke belakang, saat Pemimpin Redaksi KATAKAMI masih bekerja sebagai wartawati di Radio Voice Of America (VOA) - untuk periode 2003-2008 - pada masa awal Obama memulai debutnya sebagai kandidat Capres di AS yaitu tahun 2006 kami sudah membuka situs dari Obama dan mendaftarkan alamat EMAIL kami untuk terus dikirimi kabar terbaru tentang Obama. Padahal, beberapa rekan senior kami di Radio Voice Of America (VOA) sendiri yaitu mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di AS, belum mengetahui bahwa Obama membuka situs pribadi dan rutin mengirimi kabar terbaru tentang debut politiknya.

Saat ini, Presiden Obama berada di Meksiko dan telah mengadakan pembicaraan Tete A Tete atau pembicaraan empat mata dengan Presiden Meksiko

Dari laporan Radio Voice Of America (VOA) disebutkan bahwa Presiden Obama dan Presiden Meksiko Felipe Calderon telah menyepakati kerjasama untuk melawan perdagangan narkoba, Kamis (16/4/2009).

Obama memuji usaha Meksiko untuk menumpas kartel narkoba dan mengatakan Amerika Serikat akan melakukan bagiannya untuk menanggulangi permintaan Amerika akan narkoba dan arus senjata dan uang tunai di perbatasan. Ia mengatakan demikian setelah bertemu dengan Presiden Calderon di Kota Meksiko.

Obama mengatakan ia menghendaki Kongres Amerika menyetujui perjanjian yang membatasi ekspor senjata Amerika ke negara-negara Amerika Latin dan terus mendanai program yang akan memberi kepada Meksiko helikopter militer untuk membantu perang narkoba.

Barangkali kami salah dan mohon maaf jika kami memang salah, rasanya pernyataan terbuka Presiden Obama di Meksiko tentang PERANG MELAWAN NARKOBA ini adalah pernyataan terbuka pertama sejak ayah dari 2 anak ini resmi menjabat sebagai PRESIDEN AS yang ke-44.

Tapi, entah itu memang pernyataan terbuka yang pertama atau yang ke berapapun juga, satu hal yang disayangkan dari Presiden Obama.

Apakah kerjasama dan konsistensi AS dalam memerangi NARKOBA itu hanya ditujukan kepada Meksiko ?

Tidakkah Obama mengetahui atau menyadari bahwa negara-negara lain di dunia ini, sungguh juga ingin agar AS dengan sangat sungguh-sungguh memberikan bantuan yang serius dan kuat sekali dalam memerangi NARKOBA ?

Termasuk Indonesia, cq MABES POLRI, tentu memerlukan dukungan yang lebih kuat dari AS dalam memerangi NARKOBA.

Dari Situs Resmi MABES POLRI (WWW.POLRI.GO.ID) diperoleh data resmi hasil kerja Jajaran Direktorat IV (Narcotics And Organized Crimes) Bareskrim POLRI pada pertengahan April 2009 ini bahwa kasus tindak pidana narkoba periode 2009 yang berhasil ditangani sampai bulan Februari 2009 adalah 803 kasus narkoba dengan penetapan status tersangka kepada 1068 orang, kasus psikotropika sebagai 973 dengan jumlah tersangka 1299 orang.

Tentu kinerja yang sebaik ini memang pantas dihargai.

Dan yang perlu ditekankan juga kepada MABES POLRI adalah kesungguhan dalam pemberantasan narkoba itu sendiri. Artinya, tidak dibiarkan jika patut dapat diduga ada oknum-oknum didalam internal MABES POLRI yang justru terlibat dalam perdagangan gelap narkoba di tingkat nasional dan internasional.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada oknum POLRI yang “main mata” dengan oknum KEJAKSAAN dalam melakukan kongkalikong untuk meraup uang panas dari kasus-kasus narkoba dengan seribu satu macam akal busuk yang dirancang dan disepakati bersama.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada permainan pada pasal-pasal yang bisa ditetapkan dalam kasus narkoba dan dari pemilihan pasal-pasal hukum itu dapat diraup keuntungan yang tak ternilai harganya.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga bergelimpangannya barang bukti narkoba menjadi sasaran empuk oknum polisi dan jaksa untuk menjualnya kembali ke “pasaran” atau mengkonsumsinya sendiri.

Jangan dibiarkan juga, jika patut dapat diduga ada bandar dan mafia narkoba kelas KAKAP (bahkan kelas IKAN HIU dan IKAN PAUS) yang diloloskan dari jerat hukum oleh oknum PERWIRA TINGGI POLRI.

Dalam hal ini contoh yang sangat nyata adalah kasus bandar dan mafia narkoba LIEM PIEK KIONG alias MONAS, yang patut dapat diduga sudah 3 kali berturut-turut diloloskan dari jerat hukum yang memungkinkan diri si bandar keparat ini mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim.

Bayangkan, bandar dan mafia narkoba MONAS ini terakhir kali ditangkap JAJARAN POLRI pada bulan Agustus 2007 di Apartemen Taman Anggrek Jakarta Barat dengan barang bukti 1 JUTA PIL EKSTASI.

Dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang saja yang diajukan oleh PENYIDIK POLRI kepada pihak KEJAKSAAN dan ketiga telah mendapatkan VONIS MATI dari majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Salah seorang diantara yang mendapatkan VONIS MATI itu adalah CECE (isteri dari bandar dan mafia narkoba MONAS) yang saat ini ditahan di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur dan dari balik jeruji besi tetap mengendalikan perdagangan gelap narkoba.

Sedangkan yang 6 orang (salah seorang diantaranya adalah MONAS, sang bandar dan mafia pemilik1 JUTA PIL EKSKTASI itu) justru dibebaskan dari jerat hukum pada kasus narkoba Taman Anggrek. Lalu yang 5 orang lainnya itu adalah sekelas MONAS juga alias rekan sesama bandar dan mafia narkoba, dimana sampai detik ini MONAS dan kelima bandar keparat itu tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya pasca penangkapan di Apartemen Taman Anggrek (November 2007).

Sebenarnya, betapa malunya kita sebagai sebuah bangsa bahwa ada fakta seperti ini di Indonesia.

Sebenarnya, betapa malunya kita sebagai sebuah bangsa bahwa patut dapat diduga seorang PERWIRA TINGGI POLRI yang ditugasi memberantas narkoba di negeri ini malah menjadi BEKING UTAMA dari sindikat para bandar dan mafia narkoba internasional.

Sedihnya lagi, oknum PERWIRA TINGGI POLRI yang patut dapat diduga menjadi beking utama tersebut justru merupakan KOLEGA dari Aparat Penegak Hukum AS (terutama FBI dan DEA). Sehingga, pada era pemerintahan Presiden Barack Obama, FBI dan DEA harus membuka matanya secara lebar-lebar (Please open your eyes, man !) agar mulai detik ini mereka memasukkan nama oknum PERWIRA TINGGI yang patut dapat diduga sebagai beking dari sindikat bandar dan mafia narkoba internasional itu ke dalam daftar hitam AS atau di-black list.

Jika patut dapat diduga ada segelintir orang dalam internal POLRI dan KEJAKSAAN yang melakukan penyimpangan dan pelanggaran hukum maka perbuatan mereka tidak bisa digenelarisir sebagai kelemahan kesalahan atau kekurang-seriusan MABES POLRI dan KEJAKSAAN sebagai institusi dalam menangani kasus-kasus narkoba.

MABES POLRI sebagai institusi adalah sebuah lembaga hukum yang sepenuhnya harus didukung oleh semua pihak dalam menangani kasus-kasus tindak pidana narkoba di negeri ini. Begitu juga halnya dengan KEJAKSAAN.

MABES POLRI sebagai institusi adalah sebuah lembaga hukum yang sepenuhnya juga perlu tetap didukung secara kuat oleh AS, dalam hal ini sepanjang masa pemerintahan Presiden Barack Obama.

Walau ada beberapa kelemahan disana-sini, semua itu sangat wajar dalam perjalanan hidup sebuah bangsa seperti INDONESIA. Artinya, Presiden Obama tak perlu ragu untuk juga mengarahkan pandangannya dalam bekerjasama dengan INDONESIA untuk memerangi NARKOBA.

Selain tetap membangun kerjasama dan dukungan penuh untuk kelanjutan penanganan terorisme yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku (sudah bukan saatnya lagi isu terorisme dijadikan komoditi “bombastis”), AS tetap dapat meningkatkan kerjasama di bidang penanganan narkoba.

Seruan Obama dari Meksiko tentang konsistensi AS dalam memerangi narkoba, patut dihargai.

Dan ini membuat harapan dunia kepada figur Obama menjadi lebih besar untuk membuat kehidupan ini menjadi baik.

Obama dengan kedigdayaan AS, diharapkan akan menjadi motor untuk membuat PERUBAHAN (CHANGE) juga ke arah yang jauh lebih mensejahterakan kehidupan manusia.

Walau di Indonesia ini, pemerintahnya patut dapat diduga melindungi beking dari sindikat para bandar dan mafia narkoba internasional (semacam Liem Piek Kiong alias MONAS), tetapi Obama tak perlu ragu untuk tetap membantu Indonesia dengan segala potret realita yang tak begitu menyenangkan ini.

Saat mendengar kabar bahwa Presiden Obama menyatakan AS melanjutkan PERANG MELAWAN NARKOBA dengan memberikan dukungan kepada Meksiko, hati ini rasanya menjadi lebih bangga dan ikut senang.

Sebab, Presiden Obama pasti akan mewujudkan janji dukungan itu secara nyata.

Dalam hal pemberantasan NARKOBA ini, keseriusan Obama yang saat ini menjadi orang nomor satu di AS, membuat kami teringat pada sebuah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Michael Jackson. Obama dan AS diharapkan melanjutkan terus dukungan dan bantuan mereka yang seluas-luasnya kepada negara mana saja (termasuk INDONESIA) dalam melakukan PERANG TERHADAP NARKOBA.

Yes, you can also CHANGE the world, Mr President.

Make it better place … for you and for me !

Dan sambil menyendiri, entah dimanapun juga, barangkali baik untuk Obama untuk mendengarkan lagu Michael Jackson tadi (HEAL THE WORLD):


"Heal The World"

Theres A Place In
Your Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could
Be Much
Brighter Than Tomorrow
And If You Really Try
Youll Find Theres No Need
To Cry
In This Place Youll Feel
Theres No Hurt Or Sorrow

There Are Ways
To Get There
If You Care Enough
For The Living
Make A Little Space
Make A Better Place...

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

If You Want To Know Why
Theres A Love That
Cannot Lie
Love Is Strong
It Only Cares For
Joyful Giving
If We Try
We Shall See
In This Bliss
We Cannot Feel
Fear Or Dread
We Stop Existing And
Start Living

Then It Feels That Always
Loves Enough For
Us Growing
So Make A Better World
Make A Better World...

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

And The Dream We Were
Conceived In
Will Reveal A Joyful Face
And The World We
Once Believed In
Will Shine Again In Grace
Then Why Do We Keep
Strangling Life
Wound This Earth
Crucify Its Soul
Though Its Plain To See
This World Is Heavenly
Be Gods Glow

We Could Fly So High
Let Our Spirits Never Die
In My Heart
I Feel You Are All
My Brothers
Create A World With
No Fear
Together Well Cry
Happy Tears
See The Nations Turn
Their Swords
Into Plowshares

We Could Really Get There
If You Cared Enough
For The Living
Make A Little Space
To Make A Better Place...

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You And For Me

http://germainelawrence.org/services/images/heal_the_world.jpg

Tags: michael jackson, world news, barack obama, king of pop, katakami

Kado Ulang Tahun Berisi Tamparan Keras Dari AMNESTY INTERNASIONAL Bagi POLRI

  • Jun 26, 2009

http://www.detiknews.com/images/content/2009/02/10/10/LOGO-POLRI.jpg



Kado Ulang Tahun Berisi Tamparan Keras Dari AMNESTY INTERNASIONAL Bagi POLRI Yang Dituding Brutal Penuh Kekerasan, Kerap Minta Imbalan Uang & Seks


DIMUAT JUGA DI RUBRIK BREAKING NEWS WWW.KATAKAMI.COM , juga di BLOG WWW.KATAKAMIINDONESIA.VOX.COM dan di  WWW.BLOGKATAKAMIINDONESIA.BLOGSPOT.COM

Jakarta 25/6/2009 (KATAKAMI) Jika ada pihak yang tahu dan semakin banyak “mendapatkan” fakta-fakta atau informasi baru yang sangat buruk serta negatif di dalam sepak terjang KEPOLISIAN INDONESIA Atau POLRI, maka pastilah akan merasa sangat putus asa. Seperti api dalam sekam.

Berbagai brutalisme, kerakusan, korupsi dan berbagai pelanggaran hukum yang patut dapat diduga dilakukan POLISI INDONESIA, tampaknya sudah tak bisa lagi disembunyikan atau diredam.

http://4.bp.blogspot.com/_WZAg-bwnYvA/SbVJQHl43PI/AAAAAAAAA04/AT0mq1mzyRc/s400/logo%2520amnesty%2520international.jpg

Mari, kami ajak anda menyimak sejenak sebuah berita terbaru yang disiarkan RADIO BBC LONDON.

Polisi Indonesia
Polisi Indonesia mendapat sorotan dari Amnesty International

Amnesty International menyatakan polisi Indonesia masih sering terlibat kekerasan dan penyiksaan para tersangka, demikian laporan RADIO BBC LONDON.

Laporan Amnesty International yang disiarkan hari Rabu ini juga menyebutkan para pelakunya jarang diadili.

Kelompok pegiat hak asasi manusia yang berkantor di London ini seperti dikutip kantor berita Reuters, mengakui berbagai upaya dalam satu dasa warsa ini untuk membuat polisi lebih profesional dan akuntabel.

Namun langkah ini dikatakannya, gagal menghilangkan masalah yang sudah banyak dilakukan.

Wakil Direktur Amnesty International Asia Pasifik Donna Guest seperti dikutip kantor berita Reuters mengatakan, “Dalam beberapa kasus, pelanggaran itu terkait langsung dengan upaya polisi menerima suap dari tersangka.”

Disebutkan pula, mereka yang tidak bisa membayar uang suap akan diperlaukan lebih buruk.

Menurut Guest, meskipun para pejabat tinggi di pemerintahan dan polisi etlah membuat komitmen untuk mengadakan perubahan namun tidak sampai kepada kebanyakan polisi.

Kelompok rawan

Laporan itu menemukan, pengguna narkoba, pelanggar hukum yang berulangkali, wanita termasuk pekerja seks komersial rawan terhadap pelanggaran itu.

Dalam beberapa kasus kekerasan terkait dengan upaya polisi mendapat uang suap

Donna Guest, Amesty International

Amnesty mengatakan telah berbicara kepada korban pelanggaran, pejabat polisi, pengacara dan kelompok pegiat HAM dalam dua tahun terakhir saat menyusun laporan ini.

Disebutkan, mekanisme disiplin di dalam kepolisian tidak mampu secara efektif menangani pengaduan atas perilaku polisi sedangkan para korban sering tidak tahu kemana mereka mengajukan laporan.

Amnesty mendesak pemerintah mengumumkan pelanggaran yang sudah sering terjadi itu dan melakukan penyelidikan yang tidak memihak dan efektif terhadap setiap tuduhan.

Juru bicara Kepolisian Indonesia Abubakar Nataprawira membela kinerja 371.000 personil kepolisian.

“Pada tahun 2010 kami menargetkan sebagai lembaga yang disenangi bukan ditakuti masyarakat,” katanya seperti dikutip Reuters seraya menambahkan restrukturisasi di kepolisian masih terus berlanjut.

Mekanisme sanksi juga telah diberlakukan untuk menghukum polisi yang menerima uang suap.

http://www.logodesignlove.com/images/classic/amnesty-logo.gif

Kini, kami ajak anda menyimak berita yang disiarkan Radio Nederland BELANDA :

Di Indonesia polisi masih menyiksa dan melakukan pelecehan kaum tertuduh dalam skala besar. Demikian organisasi HAM Amnesty International dalam laporannya yang terbit Rabu.

Walaupun kalangan puncak berjanji akan memberantas keadaan yang tidak beres di korps polisi, namun, demikian Amnesty, kekerasan masih merajalela. Laporan organisasi HAM ini berdasarkan pembicaraan dengan pihak polisi, pengacara dan para korban kekerasan polisi.

Menurut para penyidik, korban utama adalah kaum terlemah masyarakat, seperti pecandu narkoba dan pekerja seks komersial. Perlakuan yang lebih manusiawi bisa diperoleh dengan imbalan seks atau uang. Amnesty International kini menghendaki agar pemerintah di Jakarta mengakui masalah ini dan mengadakan penyidikan independen.

Walaupun sudah menandatangani perjanjian internasional PBB yang menentang kekerasan, namun Indonesia masih belum memiliki UU yang melarang kekerasan jenis itu.

Luar biasa, laporan AMNESTI INTERNASIONAL ini diumumkan persis sehari sebelum peringatan HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL (HANI) yang diperingati secara rutin setiap tanggal 26 Juni.

Lalu, hanya dalam hitungan beberapa hari ke depan, POLRI akan merayakan HARI BHAYANGKARA atau HARI ULANG TAHUN POLRI pada tanggal 1 Juli 2009.

Belum pernah terjadi dalam sejarah, persis menjelang perayaan HUT POLRI ada laporan internasional yang sangat menampar dan meluluh-lantakkan kehormatan POLRI secara INSTITUSI.

Indonesia tak perlu merasa tersinggung atas hasil investigasi yang akurat dan membanggakan dari AMNESTY INTERNASIONAL. Sebagai lembaga internasional yang sangat kredibel, AMNESTY INTERNASIONAL tentu tidakan sembarangan dalam mempublikasikan hasil investigasi mereka.

Pertanyaan kini adalah, sejauh mana PEMERINTAH INDONESIA menyikapi laporan dan temuan dari AMNESTY INTERNASIONAL ?

Cuek bebek, atau ada itikat baik untuk membenahi dan memangkas semua “kotoran” yang sangat amat belepotan di wajah POLRI ?

Selama ini, semua pemberitaan media massa nasional yang menyoroti berbagai pelanggaran hukum dan semua “rahasia kotor” yang patut dapat diduga menjadi catatan inti dari rekam jejak sejumlah oknum POLISI INDONESIA, seakan kesepian dan tak digubris samasekali. Seakan buta dan tuli terhadap kekritisan media massa nasional.

Hebatnya lagi, patut dapat diduga Komisaris Jenderal Gories Mere yang menjadi BEKING UTAMA dari kasus narkoba yang melibatkan sindikat bandar internasional Liem Piek Kiong alias MONAS, justru dengan percaya diri merusak hebat, menteror dan melakukan upaya pembunuhan yang terencana terhadap KATAKAMI pasca dimuatnya berbagai tulisan mengenai hal ini.

http://data5.blog.de/media/918/3412918_349984e108_s.gif

Patut dapat diduga, sejumlah KOMISARIS BESAR yang menjadi anggota inti dari “KUBU GORIES MERE” ikut dikerahkan untuk menghajar, menggempur, merusak saluran internet dengan menggunakan alat penyadap, melakukan penyadapan ilegal yang terus menerus dan tak pernah berhenti melakukan teror fisik yang mengancam keselamatan jiwa.

Datangnya laporan dan hasil investigasi dari AMNESTY INTERNASIONAL ini merupakan tamparan yang sangat memalukan dan menyakitkan.

Patut dapat diduga, reformasi birokrasi yang didengungkan POLRI beberapa waktu lalu hanya basa-basi dan tak pernah mungkin terealisasi. Inilah buah dari kegagalan kepemimpinan KAPOLRI Jenderal Bambang Hendarso Danuri, terutama Irwasum Komjen Jusuf Manggabarani dan Kadiv. Propam Irjen Oegroseno.

Mengapa disebut kegagalan ?

Ya, sebab temuan dan investigasi yang dilakukan AMNESTY INTERNASIONAL itu dilakukan pada era kekinian bukan pada era kepemimpinan Tri Brata 1 sepuluh atau duapuluh tahun lalu.

AMNESTY INTERNASIONAL berbicara mengenai pelanggaran berat POLRI di era kekinian ! Dan belum pernah terjadi, ada tamparan yang sangat keras dari komunitas internasional yang seburuk ini dalam sejarah perjalanan bangsa terhadap POLRI.

Alangkah malunya INDONESIA, menyaksikan perkembangan POLRI yang sangat carut marut. Komunitas Internasional, ternyata “TIDAK TIDUR” tetapi terus mengamati dan sangat cermat melakukan investigasi langsung di lapangan.

Ada hikmah yang sangat jelas dari semua perkembangan penting ini yaitu POLRI jangan terbiasa menutupi aib dan seakan “SOK” menjaga kehormatan dengan mengamankan oknum PEJABAT atau ANGGOTA yang nyata-nyata melakukan dugaan pelanggaran hukum yang sangat fatal.

http://www.minorityadvocate.com/images/Stop_Police_Abuse.jpg

Kekritisan media dibalas dengan brutalisme.

Kekritisan media dibalas dengan arogansi.

Kekritisan media dibalas dengan kesewenang-wenangan.

Kekritisan media dibalas dengan amukan-amukan yang sangat tidak manusiawi.

Saatnya, PEMERINTAH INDONESIA merombak total kepemimpinan POLRI yang saat ini bercokol, apalagi yang memang patut dapat diduga menjadi BIANG KEROK pelanggaran-pelanggaran hukum yang fatal. Jangan dilindungi. Jangan diamankan. Jangan ditutupi.

Selama ini, POLRI merasa seolah-olah menjadi INSTITUSI yang solid. Padahal patut dapat diduga, didalamnya terdapat banyak faksi, intrik dan berbagai pelanggaran hukum berat yang disembunyikan demi nama baik POLRI.

Ternyata mata dunia melihat dengan seksama. Ternyata telinga dunia mendengar dengan seksama.  Betapa malunya jika semua aib dan pelanggaran hukum berat itu terus menerus disembunyikan dan dikubur-kubur dalam-dalam — tanpa ada kesadaran untuk mereformasi diri dan menegakkan hukum sebagaimana mestinya.

http://gizhel.files.wordpress.com/2008/06/apa-kata-dunia.jpg

Apa kata dunia, demikian slogan yang sangat dikenal sebagai ciri khas tokoh utama dalam film NAGABONAR ?

Kalau terus menerus POLRI membiarkan oknum PEJABAT atau ANGGOTANYA bertindak semena-mena mengangkangi KEMURNIAN PENEGAKAN HUKUM maka tidak tertutup kemungkinan negara-negara sahabat yang selama ini setia mendukung dan memberi bantuan kepada POLRI, akan menarik semua dukungan dan bantuan mereka yang berkelimpahan. Tidak tertutup juga kemungkinan, POLRI akan dikucilkan dari pergaulan internasional.

Berkali-kali, KATAKAMI menghadirkan atau menyelipkan sebuah kalimat bijak dalam berbagai tulisan utama kali yaitu “KEBENARAN ITU IBARAT AIR YANG MENGALIR, IA AKAN MENGALIR WALAU DIBENDUNG”.

Pejabat teras setingkat Irwasum dan Kadiv Propam POLRI, harusnya menjadi tulang punggu Kapolri dalam melakukan pengawasan dan penegakan disiplin tetapi patut dapat diduga derasnya aliran informasi yang membuka aib, topeng dan semua rahasia pelanggaran hukum FATAL dari oknum POLRI membuat pejabat-pejabat teras ini patut dipertanyakan integritas dan kinerjanya.

Contoh kecil saja, dalam kasus narkoba bandar Liem Piek Kiong atau MONAS yang ditangkap bulan November 2007 dengan barang bukti 1 JUTA PIL EKSTASI.

Dari 9 orang yang ditangkap, hanya 3 orang yang berkas perkaranya dilimpahkan POLRI kepada KEJAKSAAN AGUNG. Sisanya “dilepaskan”. Bahkan, bandar Liem Piek Kiong alias MONAS sudah 3 kali berturut-turut dibebaskan alias diloloskan dari jerat hukum — sementara isteri dari MONAS alias Cece yang ikut ditangkap di Apartemen Taman Anggota (November 2007), sudah mendapatkan vonis mati dari Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

http://data5.blog.de/media/898/3376898_914dc925ae_m.jpg

Tetapi walau sudah divonis mati, Cece tetap menjadi bandar narkoba dan mengendalikan perdagangan gelap narkoba dari balik jeruji besi di Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur –.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memerintahkan Irwasum Komjen Jusuf Manggabarani untuk melakukan pemeriksaan intensif sejak bulan Desember 2008 atas kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sehingga Bandar MONAS bisa lolos dari jerat hukum.

http://data5.blog.de/media/546/3378546_c06894b653_m.gif

Lebih dari 50 orang diperiksa, tapi pemeriksaan itu tidak menyentuh samasekali Komjen Gories Mere yang patut dapat diduga menjadi BEKING UTAMA bandar narkoba MONAS.

Hebatnya lagi, sumber KATAKAMI Di MABES POLRI menginformasikan bahwa Kapolda Riau Indradi Tanos sudah dicopot dari jabatannya sebagai Kapolda — padahal Indradi Tanos samasekali belum pernah diperiksa oleh Tim Irwasum –. Saat sindikat kemafiaan Liem Piek Kiong alias MONAS ini ditangkap, Indradi Tanos menjabat sebagai Direktur Narkoba Bareskrim POLRI.

Ada tabir misteri yang sangat mengerikan dibalik kasus bandr narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ini. Dan POLRI, patut dapat diduga sengaja mendiamkan dan membiarkan ketika KATAKAMI dihajar habis-habisan dan diteror dengan sangat brutal mengerikan oleh kubu Komjen Gories Mere karena berani-beraninya memberitakan kasus kotor seputar BANDAR NARKOBA MONAS.

POLRI juga, patut dapat diduga sengaja memdiamkan dan membiarkan ketika KATAKAMI dirusak habis-habisan, disadap, diteror dan diintimidasi — laptop dan komputer kami semua dirusak –, termasuk nomor koneksi internet M2 yang kami gunakan, tidak ada yang tidak dirusak.

Padahal pada tanggal 14 Januari 2009, kasus pengrusakan terhadap KATAKAMI ini sudah dilaporkan secara resmi ke POLDA METRO JAYA, KOMNAS HAM dan DEWAN PERS. Kepada KOMNAS HAM, penyidik POLDA METRO JAYA menginformasikan carut marutnya dan brutalnya pengrusakan ini disebabnya karena “RUSAKNYA JARINGAN KONEKSI INTERNET”. Inilah tulah atau karma yang diterima oleh POLRI.

Bagaimana bisa ada kerusakan jaringan internet, jika yang termuat dari tulisan-tulisan tertentu di KATAKAMI hanya bagian judul saja ? Bagaimana bisa disebut tidak ada pengrusakan oleh pihak lain kalau semua format tulisan, format desain dan tata letak KATAKAMI dan semua BLOG yang kami miliki dirusak habis-habisan ?

Kami menyambut baik, himbauan internasional agar POLRI direformasi secara total. Jangan ada lagi yang dilindungi jika memang melakukan pelanggaran hukum, HAM dan Kemanusiaan. Tidak cuma di dalam kasus bandar narkoba MONAS, tetapi harus dibuka semua dugaan pelanggaran hukum yang sangat fatal dalam penanganan terorisme.

Patut dapat diduga, GORIES MERE terkait dalam peledakan bom di Hotel JW Marriot dan didepan Kedubes Australia. Sumber KATAKAMI di KEPOLISIAN INDONESIA menyebutkan bahwa pasca peledakan bom di Hotel JW Marriot sebenarnya INTERPOL sudah menawarkan bantuan untuk Tim Satgas Bom tetapi ditolak.

Caranya, menurut sumber, patut dapat diduga Tim Satgas Bom menyodorkan 2 juta nomor telepon yang diklaim telah disadap dan perlu dibongkar untuk mengusut kasus peledakan bom di bulan Agustus 2003 tersebut.

Patut dapat diduga, banyaknya nomor telepon yang diklaim telah disadap seputar jaringan Al Jamaah Al Islamyah merupakan rekayasa dan tindakan hiperbola dari Gories Mere sebagai orang yang memimpin penanganan terorisme saat itu.

http://www2.kompas.com/utama/news/0311/14/214229.jpg

Kasus lain yang lebih mencengangkan, sumber KATAKAMI yang notabene adalah Jenderal Berbintang 4 menyebutkan bahwa seorang sahabatnya yang bersekolah di Malaysia telah mendapatkan informasi bahwa sebenarnya gembong teroris dr Azahari BELUM MATI. Sehingga, klaim dari INDONESIA bahwa gembong teroris dr Azahari ini telah ditembak mati pada bulan November 2005 adalah isapan jempol dan rekayasa yang sangat memalukan.

Ini mengingatkan KATAKAMI terhadap sebuah informasi dari wartawan senior yang mendapatkan “cerita tersendiri” dari seorang Mantan Kapolri bahwa saat POLRI mengumumkan dr Azahari telah tewas, Mantan Kapolri ini menghubungi Kapolri (saat itu) Jenderal Sutanto bahwa kebijakan Sutanto agar jenazah “dr Azahari” tidak perlu diotopsi — karena POLRI meyakini bahwa yang mati itu adalah dr Azahari — adalah sebuah kebijakan yang sangat ganjil dan bisa mempermalukan Indonesia di mata dunia internasional. Bayangkan, bagaimana mungkin dalam sebuah tindakan penyerangan yang diklaim telah menewaskan gembong teroris berbahaya, jenazahnya tidak diotopsi ? Ada apa dibalik semua itu ?

Entah mau ditaruh dimana muka kita sebagai sebuah BANGSA, disaat lembaga internasional sekredibel AMNESTY INTERNASIONAL menemukan begitu banyak aib, borok, bopeng dan berbagai pelanggaran hukum yang memalukan pada wajah dan tubuh “POLRI”.

Belum lagi kalau AMNESTY INTERNASIONAL tahu bahwa oknum Pejabat POLRI — terutama Kubu Komjen Gories Mere — menindas jurnalis yang konsisten menyuarakan kebenaran dan keadilan. Tak punya rasa malu dan tidak tahu diri, menyalah-gunakan perangkat penyadapan dan perangkat teknologi yang dibeli dengan UANG RAKYAT tetapi untuk menindas rakyatnya sendiri.

Herannya, didiamkan pula — dan terkesan sengaja dibiarkan — oleh Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Terimakasih Tuhan, Terimakasih “DUNIA”, Terimakasih AMNESTI INTERNASIONAL dan terimakasih kepada nilai-nilai KEBENARAN yang bermuara para pentingnya upaya penegakan hukum yang murni dan konsekuen.

AMNESTI INTERNASIONAL dan “DUNIA” secara keseluruhan, jangan berhenti hanya sampai disini. Masih ada pertunjukan lain yang besar kemungkinan akan terjadi pada panggung politik PILPRES 2000.

Netralitas POLRI dituntut untuk sangat tegas dilakukan sehingga jangan sampai ada pemaksaan kehendak guna memberikan jalan bagi pasangan Capres – Cawapres tertentu untuk menang.

Ditambah lagi ada duapuluh juta orang rakyat Indonesia tidak bisa memilih pada Pemilu Legislatif bulan April 2009 lalu dan KOMNAS HAM telah merekomendasikan agar 20 juta orang rakyat Indonesia yang dirampas hak politiknya itu WAJIB difasilitasi untuk tetap memberikan hak suaranya.

http://latimesblogs.latimes.com/washington/images/2008/06/04/jimmy_carter_believe_barack_obama_s.jpg

Dan sekedar untuk melengkapi tulisan ini, rasanya seakan-akan komunitas internasional — termasuk Amerika Serikat — sudah mulai “kehilangan rasa persahabatan” terhadap rakyat Indonesia sebab pada pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 lalu, tidak ada tim independen dari dunia internasional — khususnya dari Mantan Presiden Jimmy Carter — yang ikut membantu memantau dan mengawasi jalannya pesta demokrasi.

Biasanya, tim pemantau asing ini ikut memonitor jalannya pesta demokrasi Indonesia. Tetapi pada Pemilu Legislatif 2009 lalu, tidak ada samasekali kekritisan dari tim pemantau asing yang kredibel untuk mengawal proses demokratisasi di Indonesia. Bukan untuk mencampuri urusan dalam negeri Indonesia sebab tim pemantau independen ini bersifat untuk “menyaksikan” saja.

Terbukti, dengan tidak disaksikannya pesta demokrasi Pemilu Legislatif bulan April 2009 lalu, 20 juta rakyat Indonesia telah dirampas HAK POLITIKNYA dan patut dapat diduga POLRI sengaja tidak mau menerima laporan tindak kecurangan pada pesta demokrasi itu.

http://redaksikatakami.files.wordpress.com/2009/04/1-oao.jpg

DUNIA INTERNASIONAL — entah itu Amerika Serikat atau negara manapun juga– janganlah pernah dan janganlah sampai mengurangi rasa persahabatan dan perhatian yang hangat kepada rakyat Indonesia.

Jangan menunggu sampai Indonesia harus hancur lebur dan luluh lantak seperti IRAN — pasca kekisruhan Pemilu Pilpres disana –.

Akhirnya, sebagai anak bangsa yang mencintai Indonesia dengan sepenuh hati — termasuk mencintai POLRI secara INSTITUSI — raanya ikut sedih, malu dan terpukul atas tamparan keras di wajah dan tubuh POLRI dibalik temuan dan hasil investigasi AMNESTY INTERNASIONAL.

Kali ini, kena batunya lu !

(MS)


LAMPIRAN TULISAN :


Tiga Ballerina Dengan Tiga Pilihan Politik Berbeda, Dan Kabar Terbaru Yang Mengejutkan “Jenderal Wiranto” Berhasil Menguasai Panggung Debat Cawapres !


http://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_2.gifhttp://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_2.gifhttp://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_2.gif

OLEH : MEGA SIMARMATA, Editor In Chief Of KATAKAMI.COM


Dimuat juga di BREAKING NEWS WWW.KATAKAMI.COM , WWW.BLOGKATAKAMIINDONESIA.BLOGSPOT.COM dan WWW.KATAKAMIKATAKAMI.VOX.COM


Jakarta 24/6/2009 (KATAKAMI) Bisakah anda bayangkan, kalau misalnya anda punya 3 anak dan ketiganya memiliki pilihan berbeda dalam kehidupan mereka — termasuk pilihan politik — ?

Nah, itulah yang saya hadapi sebagai seorang jurnalis yang memang berkecimpung seluruh rekam jejak di dunia kewartawanan selama lebih dari 15 tahun. Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden (Pemilu Pilpres) awal Juli mendatang, demam “politik” mulai mewabah juga didalam rumah saya.

Khususnya diantara ketiga puteri yang saya lahirkan seluruhnya melalui proses operasi caesar.

http://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_3.gifhttp://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_3.gifhttp://www.gifs.net/Animation11/Hobbies_and_Entertainment/Dances_Classic/Ballerina_3.gif

Tika atau Skolastika (8 tahun), Mika atau Mikaela (7 tahun) dan Nika atau Gaudensnika (3 tahun). Jangan pikir mereka tidak tahu nama-nama Capres dan Cawapres yang akan bertarung di panggung perpolitikan Pilpres Indonesia.

Mereka hapal luar kepala. Dan sebagai orangtua, asyik asyik saja mengikuti pertumbuhan anak yang mencoba untuk “belajar politik” dengan menilai situasi yang ada di sekeliling mereka — menurut daya tangkap dan kecerdasan yang mereka miliki masing-masing –.

Ketiga bidadari kecil saya ini, tidak ada yang kompak pilihannya untuk masalah Capres dan Cawapres.

Mereka hanya kompak dalam hal kelincahan menari BALLET karena ketiganya memang sama-sama mengikuti ekstrakulikuler BALLET.

http://www.formatnews.com/photo/1242981485jk%20wiranto.jpg

Bahkan, Tika — yang sulung — sudah mencapai grade atau tingkatan yang lumayan tinggi yaitu Grade 2. Tapi untuk urusan “politik”, ketiga ballerina ini punya pertimbangan politik masing-masing yang menggelitik hati.

Tika, yang akan segera duduk di kelas 4 SD ini, secara pasti dan lantang mengatakan bahwa ia akan memilih pasangan JK – Wiranto. “Mama, aku mau pilih JK – Win (dia tahu slogan pasangan ini adalah JK – Win, red).

“Oh ya, kenapa Nak ?” tanya saya.

“Begini Mama, pasangan ini pasangan yang tercepat mengumumkan pasangannya mereka, itu lho … mengumumkan JK – Win. Yang lain lama. Terus, Mama baca dong di iklan-iklan mereka. Mama gimana sih ? JK … Jaga Keharmonisan … terus katanya untuk Indonesia yang lebih mandiri, pilih JK – Wiranto” jelas Tika kepada sang “Mama” yang pura-pura tak mengerti soal politik.

http://ichwankalimasada.files.wordpress.com/2009/05/mega-prabowo.jpg

Penjelasan Tika ini, tidak diterima oleh sang adik yaitu Mika — anak saya yang nomor dua –.

“Huh, kakak payah. Aku pilih Mega – Pro. Mega – Prabowo. Kakak lupa ya, Megawati itu nawarin SEMBAKO MURAH. Mau … semua semua serba mahal seperti sekarang ? Aku pilih Mega – Pro. Pro Anak Muda, YESSS ! Gitu Mama, tapi iklannya sedikit di televisi. Kenapa ya ? Kalah sama iklannya JK – Wiranto” kata Mika.

Saya hanya tersenyum setiap kali kakak beradik ini berdekat soal pilihan politik mereka.

http://static.tvguide.com/MediaBin/Galleries/Shows/A_F/Di_Dp/DoraTheExplorer/crops/dora-explorer.jpg

Yang seru, kalau anak saya yang paling kecil sudah ikut angkat bicara — yang notabene jadi musuh bersama kakak-kakaknya sebab si bungsu ini memang modal gertak saja jika mau mendapatkan sesuatu milik kakak-kakaknya –. Dalam keluarga kami, si bungsu in biasa dipanggil DORA. Itu disebabkan karena ia sangat menyukai tokoh kartun DORA THE EXPLORER, dan jangan coba-coba membelokkan jadi DORAEMON, tokoh kartun lainnya yang gendutdan lebih lucu sebenarnya — sebab si bungsu “DORA” tidak segan-segan menggebuk kalau ada yang salah memanggil dirinya yaitu dari DORA THE EXPLORER menjadi DORAEMON.

Kalau kedua kakaknya sudah bicara “politik”, si bungsu ini akan ikut ambil bagian dengan gaya dan logat bicara yang masih sangat cadel.

http://www.animated-angels.com/animated-angels/winter-angels/rose-angel.gif

“Mama, aku pilih PALTAI BUNGA … aku ketuanya, aku yang pimpin. Aku gak mau pilih SBY, aku pilih PALTAI BUNGA. Kalau PALTAI GELINDLA yang menang, aku mau pilih PALTAI GELINDLA, tapi kata papa PALTAI GELINDLA kalah jadi juara satu. Jadi aku pilih PALTAI BUNGA ya MAMA !” kata si Nika “DORA”.

Kalau sudah sok tahu dan “tidak nyambung” seperti ini arah pembicaraan, kedua kakaknya dengan sangat judes tetapi geli mendengar jawaban sang adik, akan ramai-ramai mengoreksi.

“Huuu, Dedek … gak nyambung banget sih, gak ada lageee, PARTAI BUNGA. Sekarang pilih orangnya Dek, bukan pilih partainya kayak dulu” kata Tika, si sulung yang punya kadar kecuekan sangat amat tinggi dalam sikap dan perilakunya.

“Ah, bial aja, aku mau pilih PALTAI BUNGA, ya kan Mama. Mama pilih siapa ?” tanya si bungsu Nika “DORA”.

Nah, kalau sudah ditanya seperti maka saya harus pintar-pintar menjawab.

Sebab, kalau saya jawab yang sejujurnya, mereka akan dengan mudah menceritakan kepada siapa yang mereka jumpai bahwa Sang Mama memilih si A atau si B atau si C. Jadilah, saya menjawab dengan diplomatis saya.

http://static.tvguide.com/MediaBin/Galleries/Editorial/090119/inaugural/inaugural25.jpg

“Kalau Mama, milih Obama dan Joe Biden aja ahhh …..” jawab saya sambil becanda.

Tika, si sulung menjawab “Itu kan di Amerika, Mama. Mama kan harus pilih yang di Indonesia !”.

Saya jawab lagi, “Wah, kalau yang di Indonesia, rahasia dong. Pemilu kan bebas dan rahasia”.

Seperti itulah gambaran pilihan politik dalam keluarga kami. Saya membiarkan dan mempersilahkan anak-anak saya yang masih di bawah umur ini untuk bicara tentang “politik” sesuai dengan gambaran dan pengertian mereka sebagai anak-anak.

Jika memang ada yang ingin mereka tanyakan, barulah saya menjelaskan.

Dan jika ada yang kurang tepat dari pandangan atau pengertian mereka, maka saya  juga harus cepat memberikan koreksi agar pengetahuan politik yang tertanam dalam diri anak-anak ini memang menjadi benar sejak awal penyusunan fondasi-fondasi dalam diri mereka. Pemilu Pilpres tinggal beberapa hari lagi.

Tentu, tak cuma anak-anak saja, seluruh rakyat Indonesia dari semua lapisan menantikan PESTA DEMOKRASI yang sangat penting ini.

http://koran.seveners.com/wp-content/uploads/2009/04/indonesia-memilih1-225x300.jpg

Mari kita berikan suara dan pilihan politik kita pada Pemilu Pilpres nanti. Dan mari kita juga menghimbau kepada semua pihak untuk menghormati pilihan politik dari anak bangsa yang lain.

Janganlah ada pemaksaan kehendak. Janganlah ada rekayasa atau kejahatan-kejahatan politik yang mengebiri atau menyunat hak suara pasangan Capres – Cawapres yang menjadi pesaingnya.

Janganlah juga ada agen-agen intelijen atau perangkat keamanan — termasuk juga semua perangkat pemerintahan — yang patut dapat diduga memancing di air keruh untuk memenangkan pasangan tertentu. Lihatlah carut marutnya situasi pasca Pemilu Pilpres  di Iran.

Apa yang mau dibanggakan dari Iran saat ini ?

Negeri mereka luluh lantak, sekitar 7 orang tewas dan ratusan orang terluka. Tetapi tetap saja, sampai detik ini tidak ada solusi politik yang bermartabat di Iran.

http://kpuklaten.com/wp-content/uploads/2009/05/centang.gif

Janganlah juga ada CAPRES tertentu yang ganti gaya dalam kampanye yaitu kebalikan dari iklan politiknya yang selama ini kerap membanggakan diri dan keberhasilan yang menggebu-gebu, sekarang dibuat jadi memelas dan sok terzolimi. “TETAP SABAR, WALAU DICACI MAKI”, demikian isi sebuah spanduk yang kami baca Rabu (24/6/2009) pagi ini di salah satu sudut kota Jakarta.

Weleh weleh, aduh piyung … macam mana awak tak jadi bingung, yang mencaci dan memaki ente itu siapa, Jek ?

Ndak ada, janganlah berhalusinasi dan berfantasi. Jangan terbiasa menzolimi diri sendiri tetapi melemparkan kesalahan kepada pihak lain yang terus mendapat dukungan rakyat.

Saatnya INDONESIA memilih pemimpin sejati.

Pemimpin yang tidak suka MENZOLIMI. Baik itu MENZOLIMI dirinya sendiri, MENZOLIMI lawan politik, MENZOLIMI jurnalis atau media, MENZOLIMI nilai-nilai kebenaran dan keadilan”.

http://www.jkwin4you.com/fotoberita/200905311932521.jpg

Dan disaat seperti ini, kabar terbaru yang hadir ke tengah rakyat Indonesia adalah, dari panggung DEBAT CAWAPRES yang diadakan Selasa (23/6/2009) malam, Cawapres dari Capres Jusuf Kalla yaitu Jenderal Wiranto berhasil menguasai panggung perdebatan itu.

Mantap !

Wiranto menunjukkan kelasnya sebagai Jenderal Berbintang 4 yang sesungguhnya. Bukan apa-apa, ada lho yang sebenarnya bukan Jenderal Berbintang 4 karena sebenarnya bintang 4 yang dimilikinya cuma sebuah pemberian cuma cuma alias gratisan dari Pemerintah Indonesia.

http://www.perspektif.net/i/art/wiranto.jpg http://toghe91.files.wordpress.com/2009/03/65464_deddy_mizwar_thumb_300_225.jpg

Beda, antara Jenderal bintang 4 yang asli, dengan Jenderal bintang 4 yang “tidak asli” karena yang “tidak asli” ada embel-embel KEHORMATAN. Lagi-lagi, yang bisa dikatakan adalah

“Weleh, Weleh, Aduh Piyung … macam mana awak tak jadi bingung !”.

Nagabonar juga pangkatnya Jenderal lho, tapi tentu saja masuk dalam kategori Jenderal bintang 4 yang tidak asli.

Sambil menunggu jadwal penyelenggaraan Pilpres awal bulan Juli mendatang, elok rasanya kalau menghibur hati mendengarkan sebuah iklan politik dari pasangan Capres – Cawapres tertentu yang kini banyak ditayangkan di berbagai media televisi … “PAK KETIPAK KETIPUNG SUARA GENDANG BERTALUH-TALUH !”.

Selamat menentukan pilihan pilihan politik yang sesuai dengan kata hati.

Pilihlah yang diyakini akan membawa Indonesia menjadi lebih baik. Jangan golput, jangan apatis dan jangan sinis. Tentukan saja pilihan. Selama masih ada hidup, maka disitu akan selalu ada harapan.

Ya, harapan untuk membawa dan membuat Indonesia menjadi LEBIH BAIK dalam pengertian yang sesungguhnya. (MS)

Tags: world news, amnesty international, katakami, polri, gories mere

Read more from KATAKAMI INDONESIA »

KATAKAMI INDONESIA

About Me

KATAKAMI INDONESIA
Indonesia
View my profile

KATAKAMI's Link

  • KATAKAMI.COM
  • KATAKAMI INDONESIA DI WORDPRESS

Photos

  • 3488619_d6d3e79dcd_m

View more of my photos

Neighborhood

  • Team Vox
    Team Vox Updated: 3 hours ago

Explore friends, family, friends & family, or entire neighborhood.

View my neighbors

Tags

  • antasari azhar
  • barack hussein obama
  • barack obama
  • gories mere
  • hukum
  • iran
  • israel
  • jampidum abdul hakim ritonga
  • jusuf kalla
  • katakami
  • kejaksaan agung
  • malia and sasha obama
  • megawati soekarnoputri
  • nasrudin zulkarnaen
  • news
  • pilpres 2009
  • polri
  • prabowo subianto
  • wiranto
  • world news

View my tags

Archives

  • July 2009 (8)
  • June 2009 (14)
  • 2009 (22)

Subscribe

  • Subscribe to a feed of these posts
  • Powered by Vox
  • Theme designed by Tiffany Chow
  • Use this theme
  • Home
  • Explore
  • Tour Vox
  • Start a Vox Blog
Already a member? Sign in

Back to top

View Vox in your language: English | Español | Français | 日本語

Brought to you by Six Apart, creators of Movable Type, Vox and TypePad.
Six Apart Services: Blogs | Free Blogs | Content Management | Advertising

Vox © 2003-2008 Six Apart, Ltd. All Rights Reserved.
Help | Learn More | Terms of Service | Privacy Policy | Copyright | Advertise | Get a Free Vox Blog

Loading…

Adding this item will make it viewable to everyone who has access to the group.

Adding this post, and any items in it, will make it viewable to everyone who has access to the group.

Create a link to a person
Search all of Vox
Your Neighborhood
People on Vox

(Select up to five users maximum)

Vox Login

You've been logged out, please sign in to Vox with your email and password to complete this action.

Email:
Password:
 
Embed a Widget
Widget Title: This is optional
Widget Code: Insert outside code here to share media, slideshows, etc. Get more info
OK Cancel

We allow most HTML/CSS, <object> and <embed> code

Processing...
Processing
Message
Confirm
Error
Remove this member